
Ingin rasanya Tristan segera pulang ke rumah menemui sang istri dan memeluk erat memberikan sebuah kecupan penuh rindu. Rasa bahagia jika dia baik-baik saja sangatlah berharga sebab mungkin saja dalam waktu dekat kemungkinan Alana bisa hamil.
Tetapi, balik lagi kepada Tuhan yang mentakdirkan segalanya. Tetapi, sebisa mungkin Tristan akan terus berusaha membuahi Alana dan memberikan Ariel adik.
Sepanjang jalan menuju pulang, ia terus mengembangkan senyuman indah penuh kebahagiaan di wajah tampannya. Tak hentinya dia bersyukur atas nikmat Tuhan berikan kepadanya.
"Al, aku bahagia ternyata aku baik-baik saja. Ini artinya kalau kemungkinan kita akan segera memiliki anak. Habis pulang dari sini kita akan terus berusaha memberikan adik untuk Ariel," tak terasa dirinya menginjak pedal gas cukup kencang berharap segera pulang. Namun, dia harus menemui klien dulu sebelum menuju kediaman istrinya.
*******
Lisa sudah menunggu kedatangan Rafael di ruang tunggu tempat kerja mantan kekasihnya. Rafael kerja sebagai sekertaris di perusahaan kosmetik dan ia sempat menanyakan kepada resepsionis. Kini Lisa pun tengah duduk menunggu.
Tidak berselang lama, pria yang ia tunggu datang menghampirinya. Berhubung jam sudah mau istirahat jadi Rafael menemui Lisa dulu.
"Ada apa kamu menemui ku di sini?" Rafael langsung bertanya tanpa basa-basi lagi. Dia tidak ingin kebersamaannya dengan Lisa di ketahui kekasihnya yang baru, sahabat Lisa sendiri.
"Aku mau bicara serius, tapi tidak di sini." Lisa berharap Rafael luangkan waktu walaupun hanya sebentar saja.
"Baiklah, di cafe sebrang sana," petunjuknya sembari melirik ke arah cafe yang ada di depan kantor. Lisa mengangguk, Rafael pun berjalan mendahuluinya selalu diikuti oleh Lisa dari belakang.
Pria itu memesan ruangan private supaya kegiatannya tidak diganggu dan tidak banyak diketahui orang-orang. Rafael pun sudah duduk, Lisa ingin duduk tapi malah ditarik tangannya sampai dia terjatuh ke atas pangkuan Rafael.
"Ada apa sayang? Kamu pasti merindukanku, ya?" tangan Rafael langsung saja menelusup ke balik dress Lisa memainkan sebuah lembah tertutup kain.
Lisa meringis merasakan sesuatu berbeda. Dia melepaskan tangan Rafael dan berdiri. Tetapi Rafael kembali menariknya dan dengan cepat pria itu mengunci Lisa memeluk erat tubuhnya sembari tangan mencoba meraba bagian bawah.
"Rafael lepaskan! Aku tidak mau!" tolaknya tidak ingin terjatuh kedalam sentuhan memabukan.
"Kenapa hmmm? Bukankah kamu juga suka dengan ini?" Rafael semakin leluasa mengelus-elus bagian sensitif Lisa.
"Sssttt... Rafael... Ah..." tak di pungkiri Lisa menyukai sentuhan ini.
Pria itu menyeringai. Dia membalikkan badannya Lisa menghadap lalu mendorong kemeja dan menindihnya memberikan sentuhan di bibir dengan tangan memijat buah.
Lisa memberontak tidak ingin melakukan ini, tapi tenaga Rafael sungguh sangat kuat. Rafael sengaja memesan ruangan VVIP supaya kegiatannya tidak terlihat dari luar. Meskipun dari dalam bisa melihat ke luar, tapi dari luar tidak bisa melihat.
Rafael tergesa menurunkan kain penghalang Lisa dan juga tergesa membuka gesper dengan satu tangan. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Rafael menyatukan keduanya meski Lisa memberontak tidak mau.
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam menikmati kehangatan tubuh bersama. Lisa tidak bisa menolak, tenaganya tak kalah kuat dan ia malah pasrah namun air matanya menetes begitu saja.
"Saya mau meminta pertanggungjawaban darimu!" sergah Lisa dalam keadaan terduduk lesu di atas meja setelah selesai bermain.
Rafael mengernyit pura-pura heran padahal ia sudah tahu maksud dari perkataan Lisa.
"Pertanggungjawaban apa? Saya tidak pernah merasa melakukan sesuatu terhadapmu."
Deg...
"Aku sedang mengandung anakmu, usia kandunganku sudah satu bulan, Rafael. Aku ingin kamu menikahiku," tutur Lisa menangis menatap sedih.
Lisa mencengkram kuat jari-jarinya, dari tutur bicara Rafa, dia sudah tahu kalau dia tidak mau bertanggungjawab.
Rafael yang tengah merapikan celananya melirik Lisa. "Ayolah, Lis. Kita kan melakukannya suka sama suka. Dan sudah ku bilang kalau kamu hamil aku tidak akan bertanggungjawab. Aku belum siap punya anak," jawabnya enteng.
Deg...
Dada Lisa terasa sesak mendengar pengakuan lelaki di hadapannya.
"Kalau kau tidak ingin punya anak kenapa kau melakukan ini, brengsekk?" pekik Lisa menampar Rafael saking marahnya karena sudah di permainkan oleh kekasih yang ia percaya.
"Saya tidak akan bertanggungjawab atas janin itu karena aku tidak yakin itu anakku" tegas Rafael lalu berjalan ingin meninggalkan tempat itu.
"Aku berani bersumpah ini anakmu, Rafael. Kenapa kau bicara seperti ini, hah?" pekik Lisa prustasi.
"Aku akui kalau aku murahan, saking murahannya beberapa kali pernah tidur dengan kamu. Aku melakukan itu karena kau penyebabnya, kamu berhasil merenggut segalanya dariku, cintaku, kepercayaanku, bahkan kamu juga orang pertama yang menyentuhku. Tapi sekarang kenapa kamu bilang begini?" Lisa mengungkap apa yang ia rasa, ia terlalu kecewa dan prustasi. Dia sudah menangis dan tangisnya benar-benar menyayat hati.
"Kau yang terlalu bodoh dan murahan sampai termakan rayuanku," balas Rafael tak merasa bersalah sedikitpun.
"Iya, aku bodoh karena sudah mencintai dan memilih pria sepertimu..." pekik Lisa semakin prustasi.
"Ck, Aku tidak ingin menikahimu. Gugurkan saja kandungan mu! Saya belum siap menikah." Rafael pun pergi meninggalkan Lisa. Namun, hati kecilnya merasakan sakit mengatakan itu pada Lisa. Tapi, egonya lebih tinggi karena ia belum siap menerima amukan orangtuanya.
Lisa terduduk lemas, "Aku harus bagaimana, Sekarang?
******
Lisa berjalan kaki dari siang sampai sore hari menyusuri setiap tempat. Penampilannya sudah terlihat berantakan, wajahnya kacau dan matanya sembab akibat kebanyakan menangis.
Banyak orang yang memperhatikan penampilannya dan menyangka dia orang gila baru. Bahkan tidak sedikit anak-anak meneriakinya gila namun Lisa tidak peduli itu. Dia hanya bisa menatap kosong dan meratapi nasibnya.
Lisa menyesal telah memberikan segalanya kepada orang yang dulu ia cintai. Kini ia sadar bahwa apa yang telah ia lakukan salah. Sekarang nasib hidupnya menjadi kacau akibat ulahnya sendiri.
Lisa merasa hidupnya tidak berguna lagi, dirinya sudah terlalu banyak melakukan dosa. Bahkan ayah dari anak yang di kandungnya pun tidak mau bertanggung jawab dan dirinya di usir dari rumah.
"Hidupku sudah tidak berguna lagi. Kini aku benar-benar hancur," gumam Lisa berjalan kaki di atas aspal panas. Dia terus berjalan meratapi nasib hidupnya.
"Tuhan....Aku tidak sanggup lagi." Lisa teriak di atas jembatan dekat sungai. Kakinya mulai naik ke penyangga jembatan.
"Nona, apa yang kau lakukan? Turun dari situ! itu bahaya!" teriak salah satu pengendara.
"Lebih baik aku mati daripada hidup seperti ini!" teriak Lisa prustasi.