My Imperfection

My Imperfection
Berdebar



"Apa? Aku tidak takut kepadamu? Kalian tidak malu hanya bisa menyerang orang cacat seperti ku, hah? Kau Dimas, maunya kau di jadikan budak dia dan malah membiarkan kekasihmu itu bertindak bodoh," sergah Alana menahan sakit satu kakinya tidak kuat lagi berdiri lama.


Dimas menatap sekeliling dan ia menyadari jika mereka tengah di perhatikan banyak orang. "Ca, kita pergi saja dari sini."


"Apaan sih, Dim. Aku tidak akan pergi sebelum dia memberikan baju mahalnya itu. Berikan ini padaku! Kau tidak pantas memakainya." Ica menarik-narik baju Alana karena iri tidak bisa memiliki baju sebagus dan semahal itu.


"Ica lepaskan!" sergah Dimas dan Alana bersamaan.


Dimas mencoba menahan Ica untuk tidak berbuat kasar. Mereka bertiga saling mempertahankan. Alana menahan Ica untuk tidak menarik melepaskan bajunya, Ica mempertahankan keinginannya ingin memiliki baju tersebut, Dimas tengah berusaha melepaskan Ica yang sedang berjuang.


Brueekkk... ( Anggap saja suara kain robek. )


Alana terkejut karena baju bagian depannya robek. Baju yang di kenakan Alana itu berkancing depan dan kancingnya terlepas sampai terpental ke bawah. Kejadian itu membuat bagian dalamnya terbuka.


Alana segera menutupi bagian dadanya menggunakan tangan dan mencekal erat baju yang ia kenakan. Wajahnya memerah menahan tangis malu diperlakukan seperti ini. Di saat itu pula Ica kesal dan marah.


"Semua karena kau tidak mau memberikan bajunya untukku. Lihatlah bajunya robek karena ulahmu. Dasar pincaaang." Ica mendorong tubuh Alana membuat gadis itu terhunyung tidak bisa lagi menahan berat badannya akibat rasa sakit di kaki yang ia rasa.


Grep...


Tubuh Alana di tangkap seseorang dan menghadapkan tubuhnya hadapannya, kemudian merangkul pinggang Alana hingga tidak ada jarak diantara keduanya untuk menutupi bagian tubuh yang terbuka dan menahannya agar tidak terjatuh.


Alana mendongak memandangi Wajah pria yang mendekapnya. Mata dia dan matanya saling bertubrukan. Alana tidak bisa lagi menahan desakan air mata saat mata tajam itu menatapnya.


"Tristan..." lirih'an kecil terucap dari bibir tipis gadis itu.


Ica dan Dimas terkejut, pria yang kemarin bersama Alana ada lagi. Namun Ica malah semakin menjadi ingin menjatuhkan Alana sejatuh-jatuhnya.


"Hei kau, mending kau tinggalkan wanita pincang ini! Aku tahu, dia pasti saat ini tengah menggodamu. Daripada uangmu habis diporoti olehnya mending kau buang saja si pincang ini! Mending kau denganku saja."


Dimas sontak menoleh, dia terkejut atas ucapan terakhir yang Icha lontarkan.


"Apa-apaan kau ini, kau bilang mending dia bersamamu? Enak saja, saat ini aku yang sedang bersamamu," protes Dimas tidak terima.


Tristan mengalihkan tatapan yang dari tadi tertuju pada mata Alana ke arah kedua orang yang membuatnya naik pitam.


"Kalian sudah keterlaluan, beraninya kalian mengusik ketenangan wanitaku. Dan kau wanita murahan, aku tidak sudi bersamamu. dan kau pria tidak berpendirian, lebih baik kau bawa wanita sialan ini dari hadapanku sebelum aku benar-benar menghabisinya!"


"Siapa kau, beraninya menyuruhku? Lebih baik kau tinggalkan wanita pincang ini dan menjadi kekasihku!" Tanpa tahu malu Ica menawarkan dirinya kepada Tristan.


Ica yang sedari awal memiliki rasa iri ingin selalu memiliki apa yang Alana miliki, termasuk pria-pria yang selalu mendekati Alana. Ia akan goda dan pekerjaan yang Alana kerjakan ingin Ia ambil juga.


Ica iri, meski Alana terlahir tidak sempurna nasibnya selalu beruntung. Dicintai pria dan mendapatkan pekerjaan jauh lebih baik dibandingkan nya.


"Hahaha menjadi kekasih wanita murahan sepertimu? Sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi! Aku, Tristan Delano tidak akan membiarkan kalian berdua menyakiti Alana lagi. Jika kalian berani menyentuhnya sedikitpun akan aku buat hidup kalian menderita!" ujarnya menatap tajam penuh kebencian kepada kedua orang tersebut.


"Jika kalian menyakitinya lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian sehancur-hancurnya!" lanjut Tristan dingin dengan sorot mata bagaikan harimau buas ingin mencabik-cabik mereka.


Yang membuat Tristan terkejut orang itu Alana. Ketika dirinya mendekati baju Alana sudah terkoyak, dan ia segera berlari saat Alana di dorong Ica.


Sebelum menjalankan mobilnya, Tristan membuka kemeja yang ia kenakan hingga menyisakan kaos berwarna hitam yang ngepas di tubuh kekarnya.


Lalu dia menutupi bagian depan Alana. "Pakai ini untuk menutupi bagian yang robek. Maaf aku terlambat menjemputmu." Ada rasa bersalah menghampiri diri Tristan karena keterlambatannya Alana alami perlakuan buruk seperti itu.


Pria itu menghapus air mata yang membasahi wajah Alana menggunakan jempolnya. Posisi keduanya begitu dekat saling menatap tak melepaskan pandangan mereka.


Jantung Alana berdegup kencang. "Ba bapak ja jangan terlalu de dekat. Ja jantung ku berdebar ti tidak menentu. Ba bapak terlu ya tampan." Ucap Alana gugup terbata.


Tristan terkekeh atas kejujuran gadis di hadapannya. Dia juga merasakan jika jantungnya tengah berdisko seperti konser Agnes mo. Dia menyeringai menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya.


"Kalau seperti ini masih berdebar?" Aroma wangi mint menyeruak ke Indra penciuman Alana. Gadis itu semakin di buat gugup tak bisa berkata selain mata mengerjap-ngerjap. Dia hanya mengangguk sambil memundurkan kepalanya kebelakang.


Tristan menatap bibir tipis itu, seketika perasaan berbeda ia rasakan. "Hasrat ini? apa mungkin?" batin Tristan girang merasakan sebuah hasrat yang tidak pernah ia rasakan selama 2 tahun belakang ini. Senjatanya seketika mengeras. Dia buru-buru menjauh dari Alana dengan nafas memburu menunduk memejamkan mata menahan gejolak di dada.


"Cepat pakai bajumu sebelum terjadi sesuatu diantara kita."


"Hah..."


Sedangkan Ica menatap heran kenapa pria tampan itu begitu dekat dengan Alana.


"Aakkhhh... sialan.. Kenapa pria tampan, keren dan kaya itu bisa kenal dengan si pincang. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus mendapatkan pia itu. Tristan Delano," Ica terbelalak mengetahui nama belakang Tristan.


"Apa dia anak dari Marko Delano pemilik Delano Fashion? Jika ia, aku harus mendapatkannya," batin Ica kesal kenapa Alana selalu lebih beruntung darinya.


"Jangan kau berpikir untuk mendekati pria itu?" Dimas memicingkan mata menatap tajam penuh curiga.


"Kalau iya, kenapa? Dia lebih baik daripada kamu. Dia orang kaya, dia tampan, dia sempurna, tidak seperti dirimu yang hanya anak dari pemilik warteg saja."


Dimas mengepalkan tangannya marah atas penghinaan Ica. "Silakan kalau kau ingin mengejar dia. Tapi jangan pernah sekalipun meminta bantuan dariku! Karena mulai hari ini, saat ini juga kita akhiri hubungan ini. Aku sudah muak terus-terusan mengikuti keinginanmu. Aku sudah muak dikekang oleh wanita seperti mu."


Dimas pergi begitu saja meninggalkan Ica sendirian tanpa memperdulikan wanita itu pulang dengan siapa.


"Dimas, jangan tinggalkan aku sendirian, Dimas! Aku pulang naik apa? Aku tidak punya uang." Ica mengejar motor Dimas tapi sayang tidak terkejar.


"Aakkhhh.. sialan.. brengsek kalian."


Banyak pasang mata yang memperhatikan Ica.


"Dasar orang gila."


"Apa, hah? Aku tidak gila..! Kalian yang gila..!" umpat Ica melotot marah pada mereka.