
Lisa menatap tidak percaya pada Papanya yang mengatakan jika dia anak pembawa sial. Hatinya sakit kala kata kasar itu keluar dari mulut papanya sendiri.
Ya, dia mengakui jika dirinya tidaklah baik. Ya, dia mengakui jika dia sering berbuat dosa bersama kekasihnya Rafael. Bermabuk-mabukan, bermain di ranjang tanpa ikatan pernikahan, dan sekarang dia hamil anaknya Rafael namun pria itu enggan bertanggungjawab karena tidak ingin mencoreng nama baik keluarganya.
Cahyo membawa istrinya ke kamar, Lisa yang panik pun ikut ke kamar jangan dihadang oleh bapaknya.
"Dasar pembawa sial," ujar Cahyo menatap tajam membuat Lisa mematung atas kata umpatan kasar yang keluar dari mulut papanya sendiri.
Cahyo membaringkan istrinya di kasur sebab sang istri tak sadarkan diri akibat rasa terkejutnya atas kelakuan sang putri.
"Gara-gara kelakuan bejat mu istriku terbaring lemah tak sadarkan diri. Kau memang pembawa sial, Lisa. Mending kau pergi saja dari rumah ini!" Sentak Cahyo tak peduli jika itu anaknya atau bukan. Rasa kecewa, rasa marah, rasa takut kehilangan segalanya membuat Cahyo melampiaskan amarahnya kepada Lisa.
Dunia nyata runtuh di kala orangtuanya bilang jika dia anak pembawa sial. Lisa semakin tidak percaya saat Papanya mengusir dia dari rumah dan tidak ingin ada dirinya di rumah. Lantas, ke mana Lisa akan pergi jika orang tuanya benar-benar mengusir dia dari rumah?
"Lebih baik kau pergi dari sini! Papa tidak ingin memiliki anak pembawa petaka seperti mu. Papa tidak mau keluarga kita tercoreng atas kelakuan kamu. Papa sekolah kan kamu tinggi-tinggi tapi kau malah melemparkan kotoran ke wajah kami. Bukannya memberikan kebanggaan kau malah membawa kehancuran, membuat malu keluarga kita."
"Pah ..." Lisa tercekat tak percaya apa yang ia banggakan bicara seperti itu. Hatinya sakit, orangtua yang ia harapkan melindungi dan membantunya mencari jalan keluar masalahnya malah mengusir tidak terima memberikan malu di keluarga.
Lisa sadar jika dirinya sudah membuat orangtua malu dan sudah membuat ibunya masuk rumah sakit. Tapi, dia juga membutuhkan dukungan dari orang tuanya untuk kuat dalam menghadapi masalah yang sedang ia hadapi.
Cahyo menyeret tangan Lisa membawanya keluar kamar. Dia menghempaskan tubuh anaknya tanpa memperdulikan tangis Lisa keluar tanpa suara.
"Pergi dari sini! jangan pernah kembali jika kau masih mempertahankan anak haram itu!" Cahyo tidak ingin menerima kehamilan Lisa yang akan membuatnya malu.
Lisa terhenyak, dia memandang wajah papanya tidak bisa percaya kenapa pria yang menjadi cinta pertamanya begitu tega mengusir dia.
"Pah, jangan usir Lisa dari sini. ke mana Lisa akan pergi Kalau papa mengusirku? Aku tahu Lisa salah tapi ku mohon jangan buang Lisa dari rumah ini, Pah." Lisa memohon memegangi tangan papanya dengan derai air mata terus membasahi wajahnya.
Cahyo menghempaskan tangan Lisa, tak ada rasa sedih pun yang Cahyo rasakan ketika anaknya menangis seperti itu. "Kalau kamu ingin tetap tinggal di sini tetap menjadi anak apa kamu harus membuang bayi yang sedang kau kandung. Kita malu memiliki cucu tanpa ayah, dia anak haram."
Deg...
Bagaimana mungkin meninggalkan ataupun menggugurkan anak yang tidak berdosa yang ada dalam rahimnya? Dirinya tidak setega itu dirinya tidak sejahat itu sampai harus membunuh darah dagingnya sendiri.
Meskipun dia telah berdosa karena melakukan zina, tetapi dia tak ingin menambah dosa dengan cara menggugurkan kandungannya.
"Tidak, Pah. Lisa tidak ingin menggugurkan kandungan ini. Dia tidak berdosa," lirihnya terisak menunduk terduduk lesu di depan papanya.
Cahyo langsung menoleh tidak menyukai keputusan Lisa. "Maka dari itu lebih baik kau pergi cari rumah ini!" Cahyo mendorong bahu Lisa agar menyingkir dari pintu kemudian dia menutup pintunya.
Lisa mencoba menahan pintu itu agar tidak tertutup sempurna. "Pah, buka pintunya! Jangan usir Lisa dari sini, Pah. Lisa mohon, Pah." Dia menggedor-gedor pintu berharap papanya memiliki belas kasih terhadapnya.
Tubuh Lisa merosot ke lantai terduduk menangis sesenggukan sembari menggedor-gedor pintu berharap pintunya terbuka. Kemana ia harus pergi? Hanya itu yang ada dalam pikirannya.
"Aku harus ketemu Rafael, dia harus bertanggungjawab. Ini anaknya," gumam Lisa perlahan berdiri. Matanya menatap kosong, dan dia terus berjalan mencari kekasihnya.
******
Tristan memarkirkan kendaraan yang ia kendarai di parkiran rumah sakit. Dengan tergesa serta hati yang berdebar-debar, dia segera turun dari mobil kemudian sedikit berlari ingin segera menemui dokter yang sempat menghubungi nya tadi.
Dia menunduk melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih pukul 10 pagi." Niatnya, setelah mengetahui hasil dari pemeriksaan, Tristan akan bertemu klien kemudian pulang.
Setibanya di ruangan dokter yang menanganinya, Tristan langsung masuk saja sebab sebelumnya sudah diberitahukan untuk langsung masuk tanpa berbasa-basi lagi.
"Selamat siang, Dokter." Sapa Tristan langsung nyelonong masuk dan langsung saja duduk di hadapan dokter yang sedang memperhatikan beberapa laporan kesehatan.
Dokter itu mendongak, "Eh, pak Tristan. Siang juga," balasnya membenarkan letak duduk menjadi tegak dengan kedua tangan masih berada di atas meja seraya saling bertautan.
Jantung Tristan berdebar kencang, dia sudah tidak sabar lagi ingin segera mengetahui hasilnya. "Dok, bagaimana hasilnya?" Tanpa basa-basi lagi Tristan bertanya hasil dari pemeriksaan kemarin.
Terlihat dokternya sedang mencari sesuatu di pasi samping. Kemudian menyodorkannya ke Tristan. "Ini hasilnya, saya belum membuka kertas tersebut biar Anda yang lebih dulu mengetahui kondisi Anda sebenarnya."
Mata Tristan menatap kertas putih tersebut, tangannya begitu gemetar hanya sekedar ingin mengambilnya pun terasa sulit. Tapi, rasa penasaran begitu besar sampai ia pun mengambilnya.
Perlahan membuka kertas tersebut lalu membacanya. Dia mengerutkan keningnya melihat warna hitam di kertas putih tersebut.
"Dokter, ini bacanya bagaimana? Saya tidak mengerti." Tristan menunjukan hasil dari pemeriksaan.
"Coba saya lihat?" Dokter itu pun mengambilnya kemudian membacanya.
"Menurut hasil dari analisa laboratorium, kualitas sper ma milik Anda berkualitas baik. Tidak ada kekurangan dan tingkat kesuburannya pun 90,8%. Jadi, Anda tidak bermasalah."
Deg...
"Benarkah tidak bermasalah? Tapi kenapa waktu dulu dokter yang memeriksa saya mengatakan jika saya akan kesulitan membuahi karena kualitas air ma ni saya di perkirakan 30% saja?" Tristan bertanya-tanya kenapa hasil dari keduanya cukup berbeda. Tapi, jika ini hasilnya, dia sangat bersyukur dan itu artinya dia tidak mandul.
"Kemungkinan pemeriksaan sebelumnya tidak akurat, atau bisa juga tertukar dengan milik orang lain."
Benarkah ada kesalahan teknis di sini? Tristan tidak tahu.