My Imperfection

My Imperfection
Marah



"Alana..."


Orang yang di panggil namanya menoleh.


Deg...


"Tristan...!" Alana terkejut ada suaminya tengah berdiri menatap tajam dengan raut wajah memerah menahan Amarah.


Alana langsung mendorong tubuh Dimas secara keras sampai membuat pria itu tersungkur ke belakang.


"Al..! Kenapa mendorongku?" Dimas meringis sakit bagian bokongnya terbentur lantai sangat keras.


Dari dalam, Rianti juga terkejut bosnya datang dia menjadi panik. "Pak Tristan! Ya Tuhan, pasti dia akan ngamuk padaku tidak bisa menjaga istrinya dengan becus. Apa yang harus kulakukan?"


Alana tidak memperdulikan Dimas. Ia berdiri mendekati Tristan lalu menyalaminya. "Kamu sudah pulang? Katanya akan pulang malam?"


Tristan menoleh menatap tajam mata Alana. "Kenapa bertanya seperti itu? Kamu berharap aku beneran pulang malam dan kamu bebas melakukan apapun dengan pria lain, begitu?" hardik Tristan dengan suaranya terdengar memarahi.


Deg...


Alana cepat-cepat menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak memiliki pikiran seperti itu. Justru aku senang kamu pulang cepatnya."


Dimas mendongak, kemudian dia berdiri. "Hei bung, siapa kau berani nya memarahi Alana?"


Tristan menengok, "Aku suaminya. Aku berhak melakukan apapun termasuk menghukumnya karena sudah berani memeluk pria lain selain suaminya."


Deg...


Kali ini Dimas yang terkejut tidak percaya Alana sudah menikah. "Ka kau suaminya? Sejak kapan? Kau pasti berbohong hanya mengaku-ngaku."


Pak Yanto tidak memberitahukan perihal pernikahan Alana. Itulah sebabnya Dimas selalu mencari dan ingin berniat kembali lagi.


"Tristan.."


"Diam kamu! Di tinggal sebentar saja sudah berani berdekatan dengan pria lain, apalagi di tinggal lama. Bisa jadi selingkuh."


"Kamu salah paham, Tristan. Aku hanya..."


"Hanya apa? Hanya kalian mantan jadi kamu masih memiliki perasaan terhadap dirinya, sampai di peluk pun kamu diam saja. Apa diam-diam kamu masih berhubungan dengannya? Kamu itu seorang istri, seharusnya bisa menjaga martabat sebagai istri." Rasa cemburu membuatnya buta dan tidak mendengarkan penjelasan istrinya. Sampai tega berbicara seperti itu pada istrinya sebelum mendengar penjelasan Alana.


Alana terperangah suaminya menuduhnya seperti itu. Alana tidak percaya Tristan menilainya seperti itu. Hatinya terasa sakit di tuduh seperti itu.


"Al, maksudnya apa ini? Benar dia suamimu?" Dimas masih tidak percaya. Dia melirik silih berganti menatap Tristan dan Alana.


Alana menatap lekat-lekat mata Tristan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak mendengarkan Dimas. "Kamu menuduhku? Kamu tidak percaya padaku? Kamu seakan tidak yakin padaku? Bahkan kamu belum mendengarkan penjelasan ku tapi kamu sudah memiliki pemikiran seperti itu."


"Al..." Tristan terhenyak menyadari kesalahannya telah meragukan Alana.


Alana menunduk dan di saat itu pula air matanya jatuh. Sakit, orang yang ia sayangi tidak mempercayainya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya. Ini emang salahnya tidak bisa menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Seharusnya dia menolak, mungkin ini tidak akan terjadi.


"Alana.." Dimas ingin memeluknya lagi tapi Tristan kembali mendorong tubuhnya.


"Jangan sentuh istriku!" Tristan pun ingin memeluknya tapi juga di dorong oleh Alana.


Kali ini Tristan dan Dimas yang menggelengkan kepala tidak setuju akan pemikiran Alana.


"Kamu tidak seperti itu." ucap kedua pria itu secara bersamaan. Keduanya saling menoleh menatap tidak suka.


Alana engan lagi berurusan dengan keduanya. Dia lebih memilih meninggalkan mereka dengan hati yang kecewa suaminya menuduhnya seperti itu.


"Kau itu cuman mantan, mending kau pergi saja dari sini! Jangan lagi ganggu istriku." sentak Tristan tersulut emosi gara-gara Dimas dia sampai menuduh dan berkata kasar pada Alana.


"Kalau kau memang suaminya seharusnya kau percaya pada istrimu dan bisa mendengarkan penjelasannya dulu. Bukan langsung main tuduh mencercanya dengan macam lontaran kata yang menyakitkan. Kau suaminya tapi kau tidak bisa menjaga hatinya," balas Dimas tidak mau kalah.


Tristan terdiam seakan tertampar keadaan jika dia juga salah. Tristan memukul Dimas kemudian berlari masuk ingin menemui Alana dan meminta maaf padanya.


"Sialan, beraninya dia memukul wajah tampanku. Apa benar Alana sudah menikah? Aku harus menanyakan ini pada Tante Dewi." Dimas pun segera pergi ingin menemui ibunya Alana.


"Rianti, mana Alana?" Tristan tidak menemukannya saat masuk ke dalam.


"A anu, Pak. Alana sudah pergi," jawabnya menunduk takut.


"Pergi?! Kenapa kau tidak mencegahnya, hah?" Tristan di buat geram sekaligus menyesal.


"A.."


Tristan langsung berlari ke luar mencari Alana. Namun, ia tidak menemukannya. "Cepat sekali dia pergi. Kemana kamu pergi, Al. Maafkan aku." Tristan kembali berlari menuju mobilnya. Dia akan mencari sang istri sampai ketemu.


Sedangkan Alana, dia tengah berada di lantai atas memandangi Tristan yang tengah kebingungan mencarinya. Tadi, Alana sempat berpesan kepada Rianti untuk bilang jika dia pergi ke luar.


"Maafkan aku, Tristan. Aku tidak mau menemuimu dulu. Ini sebagai hukuman karena kamu sudah tidak percaya padaku." Alana pun menghubungi seseorang.


*********


"Mah, apa ini tidak keterlaluan?"


"Tidak, sayang. Ini sebagai hukuman karena Tristan sudah membuatmu kecewa. Mama juga kesel mendengar cerita kamu bagaimana anak itu menuduh mu."


Alana mengadu pada mertuanya, dan saat ini dia sedang bersama Mama Jihan menjalani rutinitas wanita, ke salon.


Mama Jihan pernah bilang, jika Tristan membuatnya kecewa bilang saja padanya. Dan Alana melakukan itu.


"Biarkan dia kelimpungan mencari kamu dan menyadari kesalahannya. Sudah berpengalaman masih saja cemburu di gede kan," ujar Mama Jihan mencebik kesal.


Alana hanya tersenyum namun hati merasa bersalah. "Maafkan aku, suamiku," batinnya.


*********


"Jadi benar Alana sudah menikah, Tante?" Dimas menanyakan perihal pernikahan Alana pada ibunya Alana.


"Iya, satu bulan yang lalu. Tante harap kamu tidak lagi mengharapkan Alana kembali padamu. Tante tidak ingin menghancurkan kebahagian Alana lagi. Sudah cukup Alana menderita karena ulah Tante dan sekarang, Tante membiarkan Alana dengan pilihannya."


Sungguh, jawaban Dewi membuat Dimas lesu. Sekarang, tujuannya menjadikan Alana istrinya harus kandas di tengah jalan. Tidak mungkin dirinya merebut istri orang. Dan ia semakin menyesali perbuatannya yang menyebabkan kesalahpahaman terjadi di antara Alana dan suaminya.