My Imperfection

My Imperfection
Kejutan



Tristan sudah mengenakan pakaian yang berada di dalam paper bag. Setelan jas berwarna maroon. Dia bingung kenapa Mamanya menyuruh dia mengenakan pakaian formal di malam hari. Namun, karena Mama sudah terus-menerus menghubunginya, dia terpaksa mengenakan baju tersebut. Sekarang dia sedang berada di dalam perjalanan.


Setibanya di depan rumah mama Jihan, Tristan deg-degan pasti dirinya akan ditanyakan mengenai kenapa Alana tidak ikut. Tetapi, Tristan sudah menyiapkan alasan masuk akal jika sang istri sudah tidur.


Sebelum masuk, dia mengatur nafasnya. Menghirup udara dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan. Setelahnya, Tristan menekan bel. Saking gugup dan berdebar takut, dia sampai melakukan hal konyol, yaitu menekan bel. Biasanya juga langsung nyelonong masuk tanpa menekan dulu.


Dan pintu terbuka lebar. Mama Jihan lah yang membuka pintu. Dia berdiri menata tajam serta bertolak pinggang dengan raut wajah marah.


Glek...


Tristan seakan sulit menelan ludah melihat sorot mata marah sang Mama. "Mampus, kau Tristan. Macan betina sudah mengamuk. Aku lupa jika Mama banyak mata-mata. Pasti dia tahu jika Alana pergi. Aduhhh bagaimana ini? Tuhan tolong aku.." ujarnya dalam hati.


"Ma Mama."


"Mana Alana? Kau datang sendirian?" pertanyaan itulah yang sedang Tristan hindari.


"A Alana se sedang tidur, Mah." Tristan menunduk tidak berani menatap mata wanita di depannya.


"Kau bohong, Tristan. Kamu tidak akan menunduk jika kamu berkata jujur. Dan sekarang kamu malah terlihat gugup serta tidak berani menatap Mama. Itu artinya kamu berbohong, di mana Alana?"


"Di dia.. a anu.. A Alana.."


"Dimana Alana?" sentak nya.


"Aku tidak tahu..." jawab Tristan jujur langsung menunduk terpejam tidak bisa lagi mengelak apalagi membohongi mamanya.


"Kau bilang tidak tau? istrimu sendiri kamu bilang tidak tahu, apa yang sudah kamu lakukan sampai kamu tidak tahu keberadaan istrimu di mana?"


"Mah, maaf." lirih Tristan bingung harus berkata apa. Dia salah, dia juga tidak bisa menjaga istrinya.


"Maaf, maaf, kamu mau minta maaf pada Mama seharusnya kamu minta maaf kepada Istrimu orang yang telah kau tuduh sedemikian rupa dan kau sakiti hatinya."


"Eeeeehhh... Mama sudah bilang jangan sakiti Alana, cemburu mu itu keterlaluan Tristan. Kau buat istri mu menangis karena kau menuduhnya selingkuh, marah karena ia di peluk pria lain. Tapi kau sendiri suka di peluk wanita lain dan kau malah di cium wanita lain. Harusnya kamu berpikir dua kali sebelum berkata sesuatu, bodoh." Mama Jihan menjewer telinga Tristan saking kesalnya sudah membuat sang menantu menangis.


Tristan meringis kesakitan jeweran Mama Jihan begitu keras. Bahkan ia ditarik masuk ke dalam rumah sambil dijewer.


"Awww iya, Mah. Tristan mengaku salah, Tristan salah sudah buat Alana bersedih. Tristan cemburu ada pria lain begitu mesra memeluknya. Tristan kan tidak mau istriku di sentuh pria lain. Ishh sakit, Mah. Lepasin Napa jeweran nya?"


Mama Jihan mendorong pelan tubuh Tristan supaya duduk kemudian melepaskan jeweran nya. "Kesel banget Mama sama kamu. Ingin rasanya Mama kutuk kamu jadi baskom."


"Jangan atuh, Mah. Masa pria tampan seperti ku di kutuk jadi baskom, nanti baskom yang paling tampan dong. Nanti baskom lainnya suka sama Tristan gimana? Kan gak seru baskom sama baskom," jawab Tristan mengusap-usap telinganya. Masih terasa panas.


Tristan mengenali pemilik suara itu. Dia menoleh kearah ruang keluarga namun karena gelap ia tidak bisa melihatnya.


"Aduh gustiii, saya lupa saking kesalnya sama nih si borokokok satu." Mama Jihan menepuk jidatnya melupakan kejutan yang di susun rapi.


"Mah, itu suara Alana kan?" Tristan segera berdiri tersenyum mendengar suara istrinya.


"Bukan, tapi suara dedemit. Ya, istri mu lah. Masa istri tetangga. Kan repot." sergah Mama Jihan mendelik jengah.


Tristan segera menghampiri ruang keluarga, dia mencari saklar lampu kemudian menyalakannya. Dirinya di buat mematung atas apa yang sedang ia lihat. Sebuah dekorasi indah dengan hiasan terkesan elegan nan mewah bertuliskan happy anniversary one month. Di sana juga sudah banyak orang, lebih tepatnya keluarga besar mereka.


"Sayang.." Tristan tidak dapat berkata-kata apa lagi. Dia sungguh di buat terkejut, panik, namun kini bahagia jiga istrinya telah menyiapkan sebuah rencana yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Alana tersenyum tulus nan manis. "Maaf membuat mu khawatir atas kepergian ku. Ini semua rencana Mama. Aku hanya ngikutin kata Mama saja."


Tristan menoleh menatap Mama Jihan dan Papa Marko. "Mah, Pah."


"Apa? Kamu tetap salah sudah buat anak Mama menangis."


"Maaf.." lirih Tristan lesu menyesali perbuatannya. Dia kembali menatap sang istri yang tengah berdiri sangat cantik dengan gaun yang ternyata senada dengannya. Sekarang dia mengerti jika baju yang di kenakan nya merupakan baju couple pasangan.


Tristan mendekati Alana kemudian memeluknya. "Maafkan aku, aku tidak bisa berpikir jernih saat kamu bersama pria lain. Rasa gejolak di dada begitu terasa sangat menyiksa bagaikan ada kobaran api yang terus membara. Aku cemburu, aku tidak suka, aku marah saat kamu di peluk pria lain." ungkap Tristan menangkup kedua pipi Alana kemudian mengecup seluruh wajah sang istri.


"Kamu pikir aku juga tidak cemburu saat kami di peluk di cium nenek sihir itu. Aku jika panas hati melihatnya," jawab Alana cemberut.


"Ya, maaf. Aku kan tidak tahu dia akan seperti itu." Tristan kembali lagi memeluk Alana.


"Kapan potong kuenya?" tegur Kanaya.


Tristan melepaskan pelukannya. "Kalian saja yang makan. Aku mau berlayar di lautan cinta." Tristan langsung saja membopong Alana ingin membawanya ke dalam kamarnya.


"Mau ngapain kamu?" cegah Mama Jihan menghadang Tristan sambil bertolak pinggang.


"Melepas rindu."


"Tidak boleh. Kamu Mama hukum tidak boleh bobo bareng dengan Alana selama 3 hari!"


"Apa?! Kok gitu..?!"