
"Tristan sudah dong, tubuhku lelah sekali, badanku terasa remuk terus-terusan kamu gempur." Lirih Alana yang tengah menahan suaminya melakukan kembali penyatuan mereka.
Hukuman yang diberikan Tristan rupanya bermain sepuasnya di atas ranjang. Alana tidak bisa menolak apalagi protes karena sesuai janji yang kalah akan dihukum. Berhubung tidak tahu hukumannya apa, maka Alana mengiakan. Eh, tak tahunya malah dihukum di atas kasur.
"Sebentar sayang, ini tanggung. Buaya buntung ku lagi ingin mandi di rawa." Ujar Tristan sambil mengarahkan buaya nya ke rawa.
Alana pasrah. Untuk yang ke-4 kalinya Tristan melakukan penyatuan. Sampai pada akhirnya mereka sampai di puncak tertinggi. Keduanya kelelahan dengan tubuh dibanjiri keringat membasahi.
Nafas keduanya memburu saling memeluk dalam posisi Tristan masih di atas Alana.
"Makasih, Al." pria itu mengecup keningnya sang istri sebelum beranjak turun dari atas tubuh Alana. Kemudian ia menggeser tubuhnya ke samping.
Tristan selimut hingga menutupi sebagian tubuh mereka. Alana menggeserkan badannya sampai miring dengan tangan memeluk perut sixpack sang suami.
Tristan mendekap Alana sesekali mengecup pucuk kepalanya.
"Kamu lelah?" Alana mengangguk, "Sangat."
"Maaf kan aku tidak bisa mengontrol hasrat yang kian semakin menggebu di saat kita tengah berdua seperti ini. Habisnya kamu sangat menggairahkan."
Pluk..
"Isshh.. Bisa-bisanya kamu bicara vulgar seperti itu." Alana mencebik kesal.
"Emang kenyataannya, sayang. Kamu sangat sexy pada saat men de sah," goda Tristan tersenyum menggoda.
Wajah Alana bersemu merah. Dia menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Tristan.
Tristan tertawa saat melihat wajah malu-malu Alana. Dia mengeratkan dekapannya membawa tubuh sang istri berada di atasnya.
"Tristan...! Aku lelah." rengeknya manja-manja kesal.
Tristan mengecup lembut bibirnya Alana. "Aku tidak akan mengulangnya lagi, Sayang. Aku hanya ingin kamu tidur seperti ini. Istirahat lah!" kata Tristan memegang kepala Alana menuntunnya untuk merebahkan kepalanya di dada.
Alana mengikuti pergerakan tangan Tristan. Dia merebahkan kepalanya di dada bidang dengan mata terpejam. Keduanya pun sama-sama terlelap dalam keadaan saling berpelukan dalam posisi Alana berada di atas tubuh Tristan.
**********
"lo sebarkan foto ini ke semua sosmed manapun!"
"Tapi, Ca. Apa lo yakin akan melakukan ini kepada saudara lo sendiri? Ini juga akan mempengaruhi pekerjaan gue jika atasan gue mengetahui hal ini."
"Kau kan bisa menggunakan akun palsu untuk menyebarluaskan foto ini. Dan gue tidak peduli siapapun Alana. Mau saudara gue atau bukan, itu terserah gue. Buruan El, gue butuh bantuan Lo. Kalau Lo bisa membuat foto ini menyebar luas gue akan membayar lo sebesar 10 juta."
"Dari mana lu dapat uang segitu? Gue gak yakin." El, pria yang bekerja di tempat internet itu merupakan salah satu teman Ica.
"Kau tidak perlu tahu dari mana gue dapat uangnya ini. Buruan deh, mau kerjakan atau tidak? Ini tawaran yang cukup gede loh. Gue tau gaji lo bekerja di sini itu cuman 3 juta per bulan." Ica kembali bernegoisasi. Lalu dia mengambil sesuatu dari dalam tas berupa amplop tebal.
"Di dalamnya uang sebesar 5 juta. Sisanya gue bayar setelah Lo menyebarluaskan foto ini."
El nampak ragu-ragu, tapi setelah melihat uang besar di depan mata dia tiba-tiba mengganggu. Ternyata uang mampu mengalahkan akal manusia.
Benar kata orang, uang itu segalanya. Dan segalanya butuh uang. Mau itu uang haram ataupun halal, mereka akan mengambilnya demi kebutuhan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan mereka.
El mengambilnya kemudian mencium amplop tersebut. "Baiklah, berhubung ada duit gede di depan gue, jadi gue mau membantu lo."
Dia sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat Alana malu dan tentunya dibenci oleh keluarga Tristan. "Alana, aku tidak terima kau jauh lebih baik dariku," batin Ica menyeringai.
*********
"Sayang, aku mau ke toko, kamu mau ikut nggak?" tanya Tristan sedang memancingkan kemeja berlengan pendek miliknya.
"Aku, ikut. Bosen di rumah terus. Aku juga mau bekerja lagi. Boleh ya?" Alana juga tengah menata rapi rambutnya.
Ia menggerai indah rambutnya dengan tatanan kepang bagian depan, serta dihiasi satu jepit rambut menambah manis kepangan nya.
Dia juga sudah terlihat cantik dan segar. dress bunga selutut berwarna merah yang dikenakannya pun terlihat begitu indah dan menambah kesan manis nan ceria.
"Untuk bekerja, aku tidak menyetujuinya. Biar aku yang mencari uang buat kehidupan kamu dan anak-anak kita nanti. Kamu cukup di rumah menyambutku pulang dari kerja menyiapkan segala keperluanku di saat kamu bisa." Tristan mendekati Alana memeluknya dari belakang.
"Tapi aku kan masih menjadi karyawan kamu. Apa kata mereka nanti kalau aku terus-terusan tidak masuk? Alasan apa yang akan kukatakan saat mereka bertanya, kenapa dua hari ini aku tidak bekerja padahal baru seminggu masuk kerja udah libur lagi?"
"Bilang saja kalau kamu sudah menikah dengan alasan dilarang sama suami." Tristan melepaskan pelukannya.
"Mereka mana percaya aku sudah menikah."
"Tinggal tunjukkan cincin yang melingkar di jari manismu. Ini Sebagai salah satu bukti kalau kamu sudah menikah."
"Hmmm gitu, ya."
"Ayo. Kita berangkat?" Alana mengangguk.
Dengan setia penuh kehati-hatian, Tristan menggandeng tangan Alana serta menuntun istrinya supaya tidak terjatuh.
*********
Mereka pun tiba di toko baju Delano fashion.
Saat baru turun dari mobil, orang-orang yang melihat Alana terlihat berbeda. Mereka seakan menatap sinis penuh kejijian serta terlihat seperti ingin menghakiminya.
Tapi Alana masih berpikir positif dan tersenyum ramah dikala mereka menatapnya.
Saat di dalam, para pembeli saling berbisik seraya memperhatikan dirinya. Hal itu juga diperhatikan oleh Tristan. Kenapa mereka memperhatikan mereka berdua penuh kaget, sinis, dan tentunya membuat Alana mencengkram tangan Tristan.
"Kenapa mereka memperhatikan kita? apa kita melakukan hal kesalahan sampai mereka terus memandangi ku dengan tatapan menjijikan."
"Melihat dalam hal apa? Kamu Jangan hiraukan mereka yang tengah memandang Itu. Kan hal yang wajar, sebab mereka juga memiliki mata."
"Ini sangat berbeda, Tristan. Kamu lihat, hampir semua orang terus memandangiku." Alana dibuat aneh oleh keadaan. Hingga salah satu dari pengunjung ada yang berkata.
"Eh bu, itu kan gadis yang tengah viral di sosmed? Dia memang sangat cantik seperti boneka. Padahal wajahnya cantik, tapi kelakuannya sampai pakai di posting segala, apa dia nggak malu, ya?"
"Orang pela cur seperti itu mana ada kata kapok sebelum terkena azab."
"Aku justru berdoa supaya prianya menyadari jika wanitanya begitu menjijikan," bisik mereka sambil menatap jijik Alana.
"Hei wanita kotor, berapa juta orang yang kamu layani membayar mu?" sergah salah satu pengunjung membuat Alana dan Tristan saling lirik.
Deg....