My Imperfection

My Imperfection
Persiapan dan Penyesalan



"Tapi, Apa kamu mau kalau Tante Alana yang cacat seperti ini menjadi ibunya Ariel? Apa kamu tidak malu mempunyai ibu tiri yang jalannya tidak normal? Apa kamu tidak malu kalau suatu hari nanti kamu atau ayahmu akan di katai karena adanya Tante di antara kalian?" kini Alana yang berbalik bertanya. Dia ingin mendengar jawaban bocah 4 tahun itu. kalau soal dirinya Alana yakin akan menerima Ariel dan juga Tristan. Namun, masih saja ada keraguan kalau mengingat ketidaksempurnaannya.


Sekarang Ariel yang sedang berpikir mengenai jawaban apa yang pantas ia utarakan. Jenni pun penasaran atas jawaban Ariel.


"Tante, kalau soal ketidaksempurnaan yang tante miliki, ini semua sudah menjadi takdir dari Tuhan. Bagi Ariel, asalkan Tante mau menerima Ariel beserta ayah, Ariel tidak akan malu mempunyai ibu tiri yang baik hati. Kalau pilihan ayah jatuh kepada tante Alana, Ariel pun akan merestuinya tidak peduli mengenai omongan orang lain. Hanya kami yang berhak menentukan pilihan mana yang menurut kami baik. Jika ini pilihannya maka Ariel tidak akan malu."


Jenni tersenyum kagum atas jawaban pria kecil ini. Alana juga sama kagum dan mengembangkan senyum indahnya. "Tante akan berusaha menjadi ibu dan istri yang baik buat Ariel dan Ayah. Bimbing Tante jika suatu hari nanti Tante melakukan kesalahan terhadap kalian."


Ariel mengangguk. "Siapp gerak.." Ariel memberikan hormat. Alana dan Jenni terkekeh. Tanpa mereka sadari ada pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan hati yang berbunga-bunga.


"Aku semakin yakin untuk memilihmu." Batin Tristan yang mencari keberadaan putranya Namun ternyata dia melihat pemandangan indah menyejukkan hatinya. Dirinya pun tidak jadi menemui Ariel.


"Tristan, kau mau kemana?" tanya Marko saat melihat Tristan ke luar.


"Aku mau menemui ibunya Alana, Pah. Aku ingin memberitahukan perihal pernikahan ku dengan Alana yang akan diselenggarakan besok."


"Tidak perlu. Kamu tidak perlu menemui dia. Jangan dulu temui ibunya Alana sampai pernikahan kalian selesai berlangsung."


"Loh, kenapa? Tadi Mama menyuruhku untuk menemui ibunya Alana."


Marko menyuruh Tristan duduk dulu di kursi depan. Tristan pun mengikutinya.


"Papa menyuruh salah satu anak buah papa untuk memata-matai ibunya Alana. Saat ini dia tengah terlilit hutang sebesar 80 juta kepada salah satu rentenir. Dan kalau sampai ibunya tahu Alana ada di mana, kemungkinan gadis itu akan di bawa paksa."


"Kenapa begitu Pah?"


"Ibunya Alana menjaminkan Alana sebagai pelunas hutang," balas Marko memberitahukan informasi yang ia dapat.


"Apa?! benar-benar tidak kusangka dengan pikirannya? Anak kandung sendiri dijadikan jaminan pelunas hutang." Tristan tidak habis pikir tentang pikiran ibunya Alana.


"Jadi, jangan temui dulu dia. Kalau nanti kalian sudah menikah barulah temuinya."


"Baiklah, Tristan mengerti. Hah, ada untungnya juga punya Papa cerdas, pintar seperti Marko Delano ini. Jadi apapun info yang Papa dapatkan sangat-sangat berarti bagi Tristan," ujar Tristan menyuarakan kekagumannya.


"Ck, kau ini." Marko geleng-geleng kepala.


********


"Itu bunga-bunganya tolong ditata dengan rapi, ya! Bentuk sebagus mungkin dan jangan sampai ada yang berantakan." Mama jihad tengah berdiri memperhatikan orang-orang yang sedang menghias bagian ruangan yang akan nanti dijadikan sebagai tempat akad nikah. Dia begitu semangat mengatur dekorasinya padahal sudah ada pihak wo yang bisa menyelesaikannya. Tetapi namanya seorang ibu dia ingin turut terjun ke dalam hari bahagia putra-putrinya.


"Baik, Bu. tapi untuk kursi-kursi tamu apa kita memerlukannya?"


"Sepertinya tidak perlu memakai kursi. Kita akan duduk secara lesehan di bawah karena ini hanyalah akad sederhana saja. Tetapi, meskipun sederhana, saya menginginkan semuanya perfect, elegan dan terlihat sakral."


"Mah." suara wanita memanggil Mama Jihan. Diapun menengok.


"Iya, Nay. Kenapa?"


"Itu soal cincin pernikahannya. Aku sama mas Andrian sudah memesan ke salah satu toko perhiasan terkenal di kota kita. Tapi katanya cincinnya akan selesai esok hari." Kanaya mengatakan kekhawatiran yang ia rasakan. Takut cincinnya belum selesai Pas akan tiba.


Dia sudah mencari ke berbagai toko perhiasan lainnya. Namun, hanya itu yang mampu memberikan keyakinan jika besok pagi dipastikan selesai.


"Tapi kalian memastikannya besok selesai bukan?"


"Iya, Mah. Aku sudah memastikannya. Katanya diusahakan besok pagi selesai."


"Semoga saja cincinnya selesai besok pagi," kata Mama Jihan. Kemudian, dia kembali melanjutkan kegiatannya mengecek semua persiapan untuk acara besok.


*********


"Aakhhh kenapa sih Alana selalu beruntung dibandingkan aku? semua rencanaku untuk membuat Tristan membenci anak-anak gagal berantakan. Tidak sedikit pun pria itu membenci wanita pincang itu. Aku tidak terima dia jauh lebih di atasku. Aku harus merebut semua yang ia miliki. lagian dek itu bukan adik kandungku tidak ada darah di antara kita jadi aku berhak untuk mengambil apa yang ia punya."


Ica yang begitu memiliki sifat iri serta serakah terhadap Alana, akan terus mencari cara supaya Alana terjatuh dan dia menjadi naik lebih tinggi.


"Cara apa lagi yang harus aku lakukan agar Tristan beserta keluarganya membenci Alana?" Ica tengah mondar-mandir memegang nampan memikirkan cara yang membuat keluarga Tristan membencinya.


"Ica... kerja yang benar! Dari tadi terus mondar-mandir, tuh banyak pelanggan. Layani sana buruan!" seru pemilik warteg menegur Icha yang akhir-akhir ini sering bermalas-malasan bekerja.


"Iya, Bu." jawabnya kesal namun dia pun mengikuti perintahnya. Walau bagaimanapun dia masih membutuhkan pekerjaan ini sebagai sampingan sebelum usahanya benar-benar berhasil mendapatkan posisi yang Alana tempati.


*********


"Pah, gimana? Apa Papa berhasil membujuk Alana untuk menikah denganku?" tanya Dimas kepada Papanya.


"Papa sudah berhasil membujuk ibunya tetapi soal Alana saat ini tidak diketahui di mana keberadaannya. Papa sudah mencari dia ke tempat kerjanya. Tapi kata pegawai yang ada di sana alamat sudah 2 hari tidak masuk kerja."


"Pokoknya Dimas gak mau tahu. Dimas menginginkan Alana, pah. Dimas menyadari kalau perasaan yang Dimas rasakan kepada Alana itu sebuah cinta."


"Kamu saja yang bodoh berpacaran dengan Alana tetapi malah meninggalkannya. Di saat ada kesempatan untuk menjerat Alana menggunakan utang ibunya kau malah sudah meninggalkan gadis baik itu." Yanto mengomeli putranya. Yanto merupakan ayah kandung Dimas. Salah satu pekerjaannya itu menjadi rentenir. Soal warteg yang Ica tempati itu milik ibunya Dimas.


Yanto dan ibunya Dimas sudah berpisah 5 tahun belakangan ini. Yanto memutuskan bercerai karena penghianatan sang istri.


Untuk utang, dari awal Yanto memang menginginkan Alana menjadi menantunya. makanya dia terus-terus meminjamkan uang kepada Dewi agar nanti Dewi tidak bisa membayarnya dan pada saat itu Yanto memberikan syarat supaya Alana menjadi jaminannya. Namun, Ia pura-pura meminta Ia dulu agar tidak terlalu kelihatan jika Yanto menyukai Alana sebagai calon mantu.


Dimas menghelakan nafas berat. Dia menyenderkan punggungnya menunduk lesu. "Dimas memang salah, Pah. Dimas menghianati Alana dengan Ica hanya karena Ica mampu memberikan pelayanan di atas ranjang. Sekarang Dimas baru tahu kalau orang pertama yang merenggut kehormatan Ica bukanlah Dimas melainkan kekasih pertamanya. Tapi malah Dimas dibodohi oleh Ica. Dimas menyesal."