
Satu Minggu sejak kejadian Ica mengakui kesalahannya di depan media, hidup Alana dan Tristan lebih tenang. Tidak ada yang berusaha merecoki rumah tangga mereka, tidak ada yang mengganggu Alana lagi, tidak ada yang berusaha membuat Tristan berpaling dari Alana.
Semakin hari, kisah keduanya semakin romantis penuh canda dan tawa. Keduanya sama-sama saling menatap masa depan dengan jalan pernikahan yang di ridhoi Tuhan.
Nampak dari raut wajah Tristan yang selalu berseri-seri, selalu ramah, selalu menebar senyum ketulusan pada setiap orang terutama pada setiap karyawan.
Tristan yang sekarang jauh lebih ceria dan terlihat lebih tampan karena mungkin selalu di perlakukan baik oleh istrinya. Jika mengenai cinta, Tristan sudah jatuh cinta pada Alana. Namun, dia belum mengatakan cinta karena ia berpikir tidak perlu kata-kata asalkan tindakan yang dilakukan mampu memberikan sinyal cinta.
"Bi, dimana Alana?" baru saja pulang kerja yang ia cari istrinya. Rasa rindu begitu menggebu ingin cepat bertemu sang istri yang akhir-akhir ini sering mampir di pikirannya.
Bi Surti yang tengah menyapu, pun menjawab, "Ada di taman belakang, Den. Lagi bermain dengan den kecil." Den kecil yang di maksud bi Surti adalah Ariel, anaknya Tristan.
"Makasih, Bi." Tristan langsung saja berlari menuju taman belakang.
Benar saja, Istri dan anaknya sedang bermain bersama kucing kesayangan Ariel. Mereka berdua tertawa bersama di saat kucingnya terlihat begitu manja pada Alana bahkan terus mendusel-dusel wajahnya dan terkadang menjilati tangan Alana.
"Ariel, geli sayang. Kucingnya terus saja menjilati Bunda."
"Kucingnya suka sama Bunda. Makanya dia terus menempel pada Bunda." Ariel mengambil kucingnya untuk di jauhkan, tapi kucing tersebut malah kembali lagi ke atas pangkuan Alana yang sedang duduk di tikar.
"Tuh, kan. Kucingnya begitu manja dan menyukai Bunda." Ariel pun duduk di samping Alana sambil mengusap kucingnya.
"Iya, ya, kok bisa gini, ya? Padahal kan Bunda baru ketemu sama pus pus."
"Dia akan suka kalau orang itu baik. Tapi kalau jahat, pus pus suka menggeram," papar Ariel menjelaskan apa yang ia tahu tentang kucingnya.
"Wah, benarkah? Hebat sekali. Berarti Bunda termasuk orang baik, ya?"
"Pastinya dong. Buktinya pus pus suka di pangkuan Bunda." Ariel tersenyum tulus.
Alana pun tersenyum seraya mengusap kepala Ariel. Balita menggemaskan anak sambungnya.
"Ayah boleh ikutan tidak? Sepertinya seru," kata Tristan ikut bergabung setelah memperhatikan sedari tadi. Dia langsung saja merebahkan kepalanya di pangkuan Alana tidak mau kalah dengan kucing.
"Ayah... kucing Ariel kasian! Kejepit ih," protesnya berusaha mengangkat kepala Tristan.
"Ayah juga mau tiduran di pangkuan Bunda. Kucingnya harus mengalah sama Ayah." Tristan malah semakin menjadi mengusili putranya sendiri. Dia bahkan memeluk pinggang Alana menelusukan wajahnya ke perut sang istri.
"Iishhh Ayah..." Ariel memekik cemberut dengan tangan di lipatkan ke dada. Tristan hanya menoleh sebentar lalu kembali asyik memeluk pinggang sang istri.
Alana tersenyum menggelengkan kepala. "Kamu ini, sukanya menjahili pada anaknya sendiri. Mengalah napa."
"No no no," jawab Tristan menggelengkan kepalanya. Alana meringis geli sebab hidungnya Tristan mendusel-dusel perutnya.
Alana menatap Ariel lalu mencoleknya. Dia memberikan isyarat untuk mengikuti perintahnya. Alana menunjuk pinggang Tristan, Ariel mengerti, dia menganggukkan kepala.
Alana menghitung menggunakan jari. "Satu.. dua.. tiga.."
Ariel dan Alana langsung saja menggelitiki perut Tristan. "Rasain, ini balasan untuk ke usilan Ayah." Ariel begitu semangat menggelitiki Ayahnya.
"Hahahaha geli sayang." Tristan menggelinjang kegelian. Alana dan Ariel tiada henti menggelitiki nya.
Tristan menangkap tubuh putranya membawanya berbaring membalas gelitikan nya.
"Hahaha Ayah ampun. Geli."
"Tidak akan, kalian harus merasakan ini." Tristan juga membalas Alana. Ketiganya tertawa bahagia bercanda ria. Alana tidak bisa melawan suaminya dan ia justru malah terjatuh ke dalam dekapan Tristan karena suaminya mendekap erat pinggangnya.
"Udah, ah. Aku lelah, capek tahu tertawa terus," keluh Alana memiringkan tubuhnya.
"Ariel juga lelah," timpal anak lelaki tampan jiplakan Tristan itu.
"Siapa suruh main serang, eh malah kalian yang tepar ke lelahan," balas Tristan.
"Ayah sih curang," seru Ariel.
"Loh, kok curang? Kan tidak seperti itu konsepnya."
"Iya, kamu curang. Tenaga kamu kuat sehingga kami tidak bisa melawannya."
"Ka..."
"Maaf Den, di depan ada tamu." Bi Surti tiba-tiba datang memotong ucapan Tristan.
Alana bangkit dan mendudukkan tubuhnya, begitupun dengan Tristan yang juga langsung duduk. Kalau Ariel, dia masih rebahan.
"Siapa, Bi?" tanya Tristan penasaran.
"Itu, non Lisa." Jawab Bi Surti terlihat ragu.
"Lisa?!" Tristan mengerutkan keningnya, "Ngapain dia ke sini?" batin Tristan melirik Alana yang juga tengah menatapnya. Tristan lupa belum menceritakan tentang Lisa. Yang ia ceritakan kepada Alana hanya semua masa lalunya yang buruk.
"Baik, bi. Nanti aku ke depan." Bi Surti pun pamit masuk lagi.
"Siapa Lisa?" tanya Alana penasaran. Dalam hatinya panas mendengar ada wanita lain menanyakan suaminya.
"Aku ke depan dulu, ya. Nanti aku jelaskan siapa Lisa." Bukan jawaban yang Tristan katakan. Dia pun mengusap pipi Alana menatap dalam wanita yang ia sayangi. Tristan pun beranjak pergi dari sana.
Alana memperhatikan Tristan. "Kamu tidak menjawabnya." Alana menghelakan nafas berat, tiba-tiba terasa panas dan sesak.
"Ariel, apa kamu tahu siapa wanita bernama Lisa?" Alana sampai bertanya saking penasarannya.
Nampak kening Ariel berkerut seolah sedang berpikir. "Hmmm Lisa? Seperti nama wanita yang dulu pernah mau ayah jadikan ibu tiri ku."
Deg...
Sedangkan di depan, Tristan menemui Lisa.
"Lisa." Panggil nya ketika melihat wanita tengah duduk membelakangi nya.
Lisa menengok ke belakang. "Tristan.." Pria itu terkejut melihat raut wajah Lisa, terlihat memar di wajahnya serta mata sembab dengan ujung bibir merah ke biru-biruan.
Lisa segera berdiri kemudian berlari memeluk Tristan menangis dalam pelukan pria itu. Tristan terhenyak mendapatkan pelukan dadakan.
"Kau kenapa?" dia tidak membalas pelukan nya namun, ia terlihat khawatir.
"Papa memukul ku, Tristan. Aku kabur dari rumah. Aku tidak bisa bertahan di rumah orang yang terus mengekang ku. Aku lelah terus mengikuti kemauan Papa. Aku lelah Hiks hiks." Lisa menangis tersedu-sedu.
Tristan menghelakan nafas berat. Dia ragu untuk membalas pelukan Lisa. Namun, dia juga tidak tega sehingga berusaha menenangkan Lisa dengan cara memeluknya dan mengusap punggung Lisa.
"Tenanglah, jangan menangis lagi."
Tanpa Tristan sadari, ada hati yang juga tengah merasakan sesak di dada melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain.