My Imperfection

My Imperfection
Kena Semuanya



"Tidak boleh. Kamu Mama hukum tidak boleh bobo bareng dengan Alana selama 3 hari!"


"Apa?! Kok gitu..?!"


Tristan di buat terkejut atas keputusan yang Mama Jihan buat. Mana mungkin ia bisa tidur tanpa ada guling hangat menemaninya.


"Kok gitu? Ya, iyalah, gitu. Itu hukuman buat kamu. Turunin Alana!" perintah Mama Jihan garang menggeplak pundak Tristan.


"Mah..." rengek Tristan tidak terima atas keputusan sang Mama.


"Turunin!" Jihan kembali memerintah melotot pada Tristan.


Tristan mendengus kesal, dia menurunkan Alana mendudukkan nya secara perlahan di kursi.


Yang lain tengah menahan tawa melihat raut wajah Tristan yang menyedihkan. Tristan mendelik sebal melirik satu persatu pria yang menertawakan nya.


"Ayo, sayang. Kita tidur di kamar Mama." Ajak Jihan pada Alana.


Alana mendongak menatap suaminya. Dia merasa bersalah dan kasihan pada suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi?


Alana pun berdiri mengangguk mendekati Mama Jihan. Mereka berdua pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Hahaha kasihan deh bobo sendirian gak ada yang temani." Ledek Andrian.


"Uuuhhhh derita suami durjana ya seperti itu, rasakan hukumannya," timpal Papa Marko ikut meledek.


"Isshh kalian ini sungguh TERLALU kejam." Tristan terduduk lesu mengacak rambutnya secara kasar.


Kanaya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir para pria malah saling meledek menertawakan penderitaan orang lain. Sedangkan anak-anak sudah pada tidur di satu kamar yaitu kamar Mama Jihan.


"Kanaya," panggil Mama Jihan.


"Iya, Mah." jawabnya sambil menengok.


"Ayo masuk! Kamu juga tidur bareng Mama. Biarkan para lelaki tidur dengan para lelaki."


"Hah...apa?! Kok gitu?" pekik Marko dan Andrian bersamaan terkejut mereka juga ikut di hukum.


Kanaya tertawa melihat wajah keterkejutan para lelaki. "Hahaha kasian."


Tristan pun ikut tertawa, ada temannya. "Hahaha emang enak tidur tanpa guling hidup. Kasihan deh tidur tidak ada yang temani. Rasain." ujarnya merasa puas para lelaki tidak bisa tidur bareng wanitanya.


"Bye, bye, para lelaki. Tidur sono di dalam satu kamar yang sama." Mama Jihan menarik Kanaya dari sana. Kanaya pun ikutan melambaikan tangan tersenyum senang malam ini bebas dari terkaman suaminya.


"Mah, jangan gitu lah, Mah. Andrian mana bisa tidur tanpa ngelonin Naya."


"Mah, masa Papa juga kena hukum, sih? Gak adil ah."


"Derita kalian," jawab Mama Jihan, dia menengokkan kepalanya dari balik pintu kamar lalu menutup rapat pintunya terkekeh melihat wajah prustasi para pria.


"Ini semua gara-gara kamu, Tristan. Coba kalau kamu tidak bikin ulah, Papa sudah pasti saat ini tidur banget kamu."


"Isshhh napa jadi aku yang di salahin, sih?"


"Kau memang salah, Tristan..." seru Marko dan Andrian bersamaan membuat Tristan nyengir kuda menggaruk kepalanya.


"Ini memang salahku membuat menantu Mama menangis," ujarnya begitu lirih merosot terduduk lesu di lantai dengan punggung menyender ke kursi.


Ketiga pria itu sama-sama duduk dengan raut wajah di tekuk murung. Jatah malam ini mereka tidak mendapatkan nya.


Ketiganya menghelakan nafas berat.


"Hffuuhhh... nasib menyedikan," ucap mereka secara bersamaan.


********


"Wi, Alana sudah menikah, kapan dia punya anak?" tanya Yanto.


Dewi yang sedang memasak sarapan pagi itu seketika terdiam. "Enggak tahu. Tanya saja sama Alana. Aku tidak ingin lagi mengusik kehidupan Alana. Biarkan dia bahagia bersama pilihannya."


Dewi kembali melanjutkan kegiatannya memasak makanan. Yanto pagi-pagi sudah bertamu ke rumah Dewi. Entah apa tujuannya Dewi tidak tahu. Namun, akhir-akhir ini Yanto sering menemui Dewi semenjak Alana tahu jika dia merupakan ayah kandungnya.


Tetapi, sejak saat Alana tahu jika Yanto Ayah biologisnya, hubungan mereka sedikit renggang dikarenakan Dewi yang tidak lagi menemui Alana.


"Meskipun begitu, Alana tetap anak kandungmu. Kita sebagai orang tuanya juga wajib mengetahui apa saja yang dialaminya terutama masalah anak. Kita ini sudah tua, aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki cucu. Menggendongnya, mengajaknya bermain, bercanda ria, tertawa, melihat setiap tubuh kembang sang cucu." ucap Yanto membayangkan bisa bermain dengan cucunya.


"Saya tahu Alana memang anakku, tapi hubunganku dengan anakku saat ini sedang merenggang. Mungkin ini diakibatkan oleh perilaku ku yang terus semena-mena terhadapnya. Aku tidak seberani itu menanyakan perihal cucu kepadanya," jawab Dewi sambil menggoreng nasi goreng.


"Maka dari itu kita wajib menjalin hubungan lebih dekat lagi dengan Alana dan juga keluarga mertuanya agar kita bisa lebih akrab dan bisa bermain ke rumah suaminya Alana."


Dewi diam berpikir, perkataan Yanto ada benarnya juga. Tiba-tiba ia memiliki pikiran, " Jika aku kenal akrab dengan mertuanya Alana, pasti akan ke cipratan kaya. Dan juga siapa tahu setelah hubungan ku dan Alana semakin baik, Alana akan mengajakku tinggal di rumahnya," batin Dewi membayangkan bisa hidup enak bareng putrinya.


"Wi, kau dengar aku tidak?" Yanto mengagetkan Dewi yang sedang melamun.


"Hah, iya. Aku dengar, nanti aku tanyakan pada Alana kapan ia beri kita cucu."


"Emangnya kau tahu tempat Alana tinggal?"


"Tidak. Tapi saya tahu tempat kerjanya."


"Hmmm ok. Kalau gitu kita menikah saja?" ajak Yanto mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Dan itu membuat Dewi menengok terkejut.


"Menikah dengan orang miskin seperti mu? Hahahaha, tidak mau. Kau saja tukang rentenir, uang yang kau gunakan haram."


"Hei, kau pikir yang kau gunakan juga halal? Tentu tidak, bukan. Kau juga dapat uang hasil dari menjual tubuhmu. Daripada kau menjadi wanita malam mending menikah denganku mencari kehidupan baru setelah menikah. Saya bisa saja berhenti menjadi rentenir dan menambah usaha baru. Uang halal masih ada dari hasil jualan warung sembako. Saya juga enggak miskin-miskin amat, Dewi." Yanto kesal Dewi masih saja materialistis.


Udah hidup jungkir balik pun masih saja besar kepala. Begitu pikiran Yanto.


"Gak ah, mending saya menjanda daripada kembali sama kamu." Dewi sok jual mahal. "Mending gaet mertuanya Alana daripada menggaet rentenir sepertimu," lanjutnya sangat pelan.


"Apa kau bilang?"