My Imperfection

My Imperfection
Viral



"Hei wanita kotor, berapa juta orang yang kamu layani membayar mu?" sergah salah satu pengunjung membuat Alana dan Tristan saling lirik.


Deg...


Mereka semua menatap Alana.


"Siapa yang kalian maksud?" tanya Tristan buka suara. Ia penasaran kepada siapa pertanyaan itu dilontarkan.


"Jelas-jelas wanita pincang inilah. Anda tidak tahu berita yang tengah viral diperbincangkan? Seharusnya Anda mengetahui jika wanita yang sedang Anda gandeng wanita murahan."


"Berita, berita apa? Tentang siapa? dan hal apa yang sedang ramai diperbincangkan?" Kali ini Alana bertanya dengan raut wajah bingung tidak mengerti maksud dari semua ini.


"Eh gadis cacat, jangan sok polos deh kamu. Saat ini seluruh dunia sudah tahu kalau kamu itu wanita nggak bener. Gak malu aib sendiri sampai di posting begitu?"


"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan ini? Postingan apa? Aku tidak memiliki sosial media. Bagaimana caranya diriku memposting sesuatu kalau tidak punya sosial media?" kata Alana di buat bingung.


"Kalian jangan menuduh Istriku yang aneh-aneh."


"Oh dia ini istrimu, wanita berkaki tiga ini istrinya? sayang sekali ya, sudah cacat kelakuannya, cacat pula kakinya. Nggak seperti terlihat dari wajahnya yang begitu polos," seru ibu-ibu begitu sinis menatap jijik Alana.


"Kau... kau tidak berhak menilai istriku seperti itu. Kau tidak tahu siapa istriku," sergah Tristan marah istrinya dihina di depan para pengunjungnya.


"Justru kami tahu, makanya kami memberitahukan mu. Coba kau cek saja sosial media! Semua kebusukannya terpampang jelas di berbagai macam sosial media. Istrimu itu hina, kotor, murahan, pela...."


Plak...


Alana menampar wajah ibu-ibu yang sedang menghinanya habis-habisan. Semua orang terperangah. Bahkan ada sebagian orang yang tengah mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut.


Tristan yang menyadarinya cepat-cepat menarik anak dalam dekapannya. Menyembunyikan wajah anak-anak agar tidak terekam.


"Jangan pernah sekalipun kau menghina istriku! Jangan pernah sekalipun kalian semua mengetahui istriku pela cur ataupun murahan! Mending sekarang kalian pergi dari sini! Jangan pernah mengurusi hidup orang lain sebelum hidup kalian benar-benar sempurna. Urus aja kehidupan kalian masing-masing!" hardik Tristan murka dengan sorot mata tajam setajam silet.


"Ck.. kami hanya memberitahukan kalau istrimu ini murahan. Percuma memberitahukan mu. kau sudah di tipu habis-habisan."


"Pergi sebelum saya menyeret kalian semua ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik!" sergah Tristan semakin marah.


Para ibu-ibu itu mencebik kesal kemudian pergi meninggalkan toko baju tersebut dengan raut wajah kesal namun juga takut.


"Pak, mungkin yang ibu-ibu maksud itu, ini." Salah satu karyawan Tristan memberanikan diri membuka sosmed setelah mendengar pembicaraan mereka.


Tristan melihatnya dia terbelalak melotot terkejut saat mengetahui sebuah gambar di mana Alana dan seorang pria saling memeluk. Tapi, di situ wajah prianya tidak kelihatan, hanya punggungnya saja. Wajah wanitanya begitu jelas seperti Alana yang sedang tengah menikmati cumbuan dari seorang pria.


Alana juga sangat syok mengetahui foto yang tengah beredar di sosial media. "Tristan...! Itu bukan aku! Aku bersumpah itu bukan aku..!" Alana menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca takut jika suaminya mempunyai foto palsu itu.


Padahal sedikitpun dirinya tidak pernah melakukan hal tindakan seperti yang ada di gambar tersebut.


"Tidak, sayang. Aku percaya sama kamu." Tristan berusaha menenangkan sang istri dengan cara memeluknya mengusap rambut Alana.


Tangannya terkepal menahan amarah. Amarah yang ingin Ia lampiaskan pada seseorang. "Brengsek.. Siapa yang sudah melakukan ini kepada Alana? Siapa yang sudah memfitnah Alana? Aku tidak akan mengampuninya," batin Tristan.


Tubuh Alana gemetar takut dan juga malu. Nama baiknya tercemar oleh tindakan yang tidak pernah ia lakukan. Dia memeluk erat pinggang Tristan berharap suaminya benar-benar tidak mempercayai tindakan tersebut. Rasa khawatir menghantui, di takut keluarga suaminya percaya pada gambar tersebut.


********


"Ada apa, Mah? heboh banget." Marko menyimpan koran yang sedang ia baca di atas meja.


"Wajah ini mirip dengan Alana." Jihan menunjukkannya kepada Marko. Pria itu pun memperhatikan gambar yang Jihan tunjukan.


"Astaga..! Siapa yang sudah melakukan ini? Papa yakin ada seseorang yang sengaja membuat berita simpang siur ini. Papa sudah sangat-sangat tahu jelas kalau Alana itu wanita baik-baik Papa yakin itu." Marko sama terkejutnya. Dia yang suka mencari informasi mengetahui siapa Alana. Terkecuali ayah kandungnya yang ia tahu adalah Ramli.


"Mama juga yakin itu, Pah. Pasti sekarang Alana tengah diperbincangkan banyak orang. Kasihan dia Pah. Dia di fitnah oleh orang yang memiliki sifat iri." Mama Jihan bisa membayangkan bagaimana perasaan Alana saat ini.


"Segera telepon Tristan!" Mama Jihan mengangguk, diapun segera melakukan panggilan telepon kepada Tristan.


Tak membutuhkan waktu lama, sambungannya terhubung.


"Hallo, Mah."


"Tristan, apa kamu sudah tahu berita yang sedang viral di berbagai sosial media? Mama sudah membaca semuanya dan hampir dari media sosial ada gambar itu."


"Sudah, Mah. saat ini Alana begitu shock mengetahui wajah dirinya terpampang jelas di berbagai macam sosial media."


"Tristan, Papa minta kamu bawa istrimu ke sini! Kita urus secepatnya kasus ini. Jangan terlalu lama membiarkannya, ini menyangkut nama baik Alana sendiri."


"Baiklah Tristan mengerti. Tristan juga geram kepada orang yang sudah melakukan ini. Tristan sama Alana pulang sekarang juga."


"Jaga istrimu baik-baik, Tristan!" pinta Jihan.


"Iya, Mah."


*********


"Apa-apaan ini? Kenapa Alana memenuhi setiap beranda sosial media? Siapa yang sudah melakukan ini? Apa ini ulah Ica?" Dimas pun sama terkejutnya mengetahui apa yang sedang viral sekarang ini.


Dimas sang mantan kekasih Alana juga mengetahui kalau Alana bukanlah wanita seperti yang ada di gambar tersebut. Ia begitu yakin ada seseorang dibalik semua ini. Entah kenapa pikirannya langsung tertuju kepada Ica.


"Aku harus memastikan ini kepada Ica. Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan Ica. hanya dia yang sering membuat masalah kepada Alana."


Dimas pun segera mengambil kunci motornya, lalu mengambil jaket, kemudian meluncur ke tempat di mana Ica berada.


*********


"Ica, kau sungguh keterlaluan. Kenapa kau lakukan ini kepada Alana, hah?" sergah Dewi murka ketika mengetahui Ica tidaklah main-main dengan ucapannya.


Ya, Ica sempat berkata akan membuat Alana malu dengan menyebarluaskan foto hasil editannya. Dan ternyata, ucapan Ica benar-benar bukan hanya kebohongan belaka.


Dewi sampai membanting ponselnya ke atas kursi. Dia menyesal telah salah mendidik Ica. Karena salah didikan, Ica tumbuh menjadi wanita keras kepala, iri, menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan tujuannya.


Dewi mengusap wajah secara kasar. "Ini semua salahku. Akibat salah asuh Ica seperti itu. Alana, maafkan Ibu."