
"Apa ini masih sakit?" Tristan mengusap jidat Alana yang terlihat memerah bekas terbentur tadi.
"Tidak, tapi hatiku sakit melihatmu dipeluk nenek sihir itu." Alana masih saja membahas Lisa. Padahal keduanya sudah berdamai dan berakhir di atas ranjang saling berhubungan badan bertukar saliva penuh gairah nan penuh kenikmatan.
"Kan aku sudah minta maaf. lagian aku tidak tahu kalau dia tiba-tiba memelukku dan menciumku dari belakang. Seandainya tahu pun tidak mungkin ku membiarkan itu terjadi. Aku juga tahu kalau ada hati yang harus kujaga, ada cinta yang tengah ku pertahankan, ada rumah tangga yang harus ku junjung tinggi agar tetap bertahan sampai ke surga nanti."
Tristan mendekap Alana lebih erat. Keduanya masih dalam keadaan tidak berpakaian. Alana pun tak ingin kalah, dia juga membalas pelukan suaminya.
"Aku juga berharap tidak akan ada lagi yang mencoba memisahkan kita. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, cukup satu kali jangan berubah."
"Seperti lagu?"
"Itu emang lagu. Pemiliknya lagi viral gara-gara di banting, di cekik, lapor polisi, eh ujung-ujungnya di bebaskan."
"Oh iya, iya. Kamu tahu juga update terbaru yang sedang viral itu, ternyata."
"Bagaimana enggak tidak tahu, hampir setiap televisi, media sosial, itu itu mulu yang di bicarakan. Kali-kali kita gitu di bicarakan. Dimana seorang gadis cacat tidak sempurna menikah dengan pangeran tampan dari keluarga kaya, pasti di jamin seru. Atau mungkin kena hujan netizen di katai tidak pantas."
Tristan mengerutkan keningnya, Dia menunduk sedikit menjauhkan kepalanya lalu menatap Alana yang tengah terpejam sambil memeluknya.
"Sampai segitunya mengetahui berita terkini? Tahu netizen pula. Hebat kamu."
"Enggak hebat, tapi kurang kerjaan." Jawab Alana terkekeh sendiri.
"Siapa bilang kurang kerjaan. Setiap hari kamu kerja, kok. Kerja puasin aku di atas ranjang," bisiknya terdengar mesum dan kembali menyerang istrinya tiada ampun.
"Isshh... lagi-lagi aku harus tepar akibat ulah buaya buntung mu itu," gerutunya namun menikmati setiap sentuhan suaminya.
**********
Malam pun telah berganti pagi.
Alana yang memang ingin berbakti kepada suaminya menyiapkan segala macam keperluan Tristan. Mulai dari pakaian sarapan dan lain sebagainya. Seperti yang tengah ia lakukan sekarang memasangkan dasi.
"Yang, hari ini kemungkinan ku akan pulang malam. Banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan. Apalagi ini sudah tanggal 29 akhir bulan, aku dan yang lainnya harus segera capai target agar nanti di akhir bulan tercapai." Tristan tengah berdiri di hadapan Alana yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memakaikan dasi.
"Pulang jam berapa?" terdengar helaan napas berat dari mulut Alana. Dia yang sudah terbiasa ditemani Tristan hampir siang malam apalagi malam tidak pernah ketinggalan ada Tristan membuat dia sedikit merasa kecewa harus ditinggal suami kerja.
"Sekitar jam 08.00 itupun kalau cepat selesai Kalau kerjaannya masih banyak kemungkinan jam 09.00 jam 10.00." papar Tristan meninjau kemungkinan jam pulang sekitar pukul segitu.
"Hmmm iya, deh. Tapi aku mau kerja bareng Rianti, ya?" izin Alana sangat sopan seraya memperlihatkan senyum manis nan tulus. Kerjaannya sudah selesai, dia pun mengusap jas suaminya.
Rianti adalah salah satu penjaga toko Delano Fashion yang sudah sangat dekat dekan Alana.
"Boleh, asalkan kamu tidak terlalu kelelahan. Nanti Rianti akan terus mengawasi mu dan akan lapor pada ku."
"Isshhh iya, terserah kamu saja. Kamu memang suka gitu." Alana pasrah mengikuti keinginan suaminya.
********
Setibanya di toko, Tristan menitipkan Alana pada Rianti, teman dekat Alana akhir-akhir ini.
"Ri, pokoknya kau jaga istriku baik-baik! Jangan sampai dia keluyuran kemana-mana." Tristan terus saja mengoceh menitipkan istrinya pada setiap pegawai yang ada di toko itu.
"Siap, Pak. Saya akan menjaganya supaya tidak lecet sedikitpun," jawan Rianti terkekeh. Alana memberenggut manyun atas pembicaraan keduanya.
"Kalian sungguh menyebalkan. Aku kan sudah dewasa, tidak usah di jaga juga," protes Alana.
"Aku pergi dulu, kamu hati-hati di sini, ya." Alana mengangguk. "Kamu juga hati-hati. Jaga hati, jaga mata, jaga buayanya, dan jaga cintanya."
"Tentu dong sayang." Tristan mengacak rambut Alana pelan sembari tersenyum penuh ketulusan. Dia pun mulai berbalik badan ingin meninggalkan Alana.
"Tristan," panggil Alana membuat Tristan kembali menoleh.
"Iya."
Alana menunjukan jari berbentuk hati sambil tersenyum manis. "Sarang Hae." Lalu mengerlingkan mata. "Aku tunggu kamu di rumah."
Tristan di buat meleleh. Dia kembali menghampiri Alana dan memeluk erat. "Aah pulang saya, yuk? Aku jadi pengen bawa kamu ke lautan cinta."
"Ishh udah, ah. Katanya mau ada meeting."
Tristan menghelakan nafas berat menunduk lesu. "Iya." Jawabnya kemudian kembali melanjutkan tujuan awalnya.
"Aaaa so sweet banget sih kalian ini." Rianti dan beberapa pegawai lainnya bagaikan menonton drama romantis kisah nyata. Alana hanya tersenyum dengan hati berbunga-bunga.
*********
Tristan sedikit tergesa menuju kantor nya. Kantor tempat dimana ia dan kawan-kawan mengadakan meeting. Kantor yang sering di jadikan tempat pertemuan dengan para rekan bisnis lainnya.
"Ricky, dimana orang yang akan bekerjasama nya?" tanyanya saat sedang ber pas-pasan dengan Ricky.
"Beliau sudah ada di dalam, Pak."
"Oh, Ok. Kalau gitu saya masuk dulu." Tristan pun segera masuk ke dalam ruangannya meeting nya.
"Maaf saya sedikit terlambat."
Di dalam sana sudah ada dua orang yang tengah duduk menunggu ke datangannya.
Tristan sempat tertegun melihat siapa pria yang ada di sana. Salah satu pria pemilik tekstil terbesar di kotanya.
"Pak Cahyo Nugroho!"
Pria itu juga menatap Tristan tak kalah terkejut, lalu berdiri. "Wow surprise sekali bisa bertemu denganmu di sini. Jadi kau pemilik Toko baju Delano Fashion yang saat ini tengah ramai di kota ini! Saya benar-benar tidak menyangka."
Tristan tersenyum ramah, dia pun menjabat tangan orang itu. "Hanya titipan," jawabnya.
Mereka bertiga sudah duduk. Pria yang satunya merupakan sekertaris Pak Cahyo.
"Seandainya saya tahu jika kau adalah pemiliknya, saya sudah pasti merestui hubungan kalian."
"Hmmm maaf, pak. Kita lanjutkan ke pembahasan inti saja." Tristan tidak nyaman dengan pembicaraan itu. Pak Cahyo adalah Papanya Lisa.
"Ah, iya, saya sampai lupa. Ayo, ayo." Dan mereka pun membahas kerjasama yang di tawarkan oleh Cahyo ke Tristan.
"Hmmm saya cukup menarik dengan penjelasannya." Tristan mengakui kain yang di tawarkan Pak Cahyo sangat bagus.
"Kalau kamu mau menerima tawaran saya, kamu bisa untung jauh lebih banyak. Saya juga akan memberikan satu penawaran lagi. Kau bisa mendapatkan kain berkualitas baik dan murah dengan syarat..." Pak Cahyo menjeda ucapannya. Tristan ingin tahu syaratnya apa.
"Menikahlah dengan anakku."
Deg...