
Raut wajah Mama Jihan masih terlihat menyeramkan, hingga di dalam mobil pun dia masih terlihat marah.
Kanaya menyadarinya dia yakin jika ada hal yang mengganggu ketenangan mamanya.
"Ada yang tidak beres, muka Mama kelihatan banget tidak bersahabat," kata Naya. Alana menoleh ke samping. Dia juga memperhatikan raut wajah Jihan yang tengah duduk berdampingan dengannya.
"Ada dua orang manusia berhati iblis tengah mempengaruhi Mama." Jihan melirik menatap Alana. Dia tiba-tiba menggenggam tangan gadis itu.
"Pria itu menunjukkan sebuah foto di mana Alana tengah melakukan hal panas dengannya." Alana melotot terkejut.
"Aku?! Hal panas apa?"
"Bertelanjang dengan seorang pria."
"Apa? Tidak, Mah. Aku tidak pernah melakukan tindakan memalukan seperti itu."
Gadis memiliki lesung pipi di kedua pipinya itu tengah dilanda shock berat. Seumur hidupnya, ia belum pernah bertelanjang dengan seorang pria. Kalau mungkin hanya sebatas berpelukan pernah tapi sampai keterlaluan seperti itu tidak. Dia sadar akan kodratnya seorang wanita dan dia sadar kalau ingin melakukan hal seperti itu harus dengan suaminya.
"Mama percaya kika kamu tidak seperti itu. Sepertinya ada orang yang ingin menjatuhkan harga dirimu di depan orang lain."
"Kira-kira siapa orang itu, Mah?" tanya Naya yang duduk di barisan depan samping sopir yang selalu mengantarkan keluarga Delano.
"Mama juga tidak tahu." Bukan Jihan tidak tahu melainkan dia menyembunyikan Siapa orang itu. Sebenarnya Jihan sudah tahu wajah kakak dan ibu tirinya Alana dari Marko.
Hampir menunggu beberapa menit, mereka tiba di mall AG trade center. Kanaya Jihan, dan Alana berjalan beriringan.
Dengan setiap penuh perhatian mama Jihan membantu Alana berjalan.
"Mah, apa kalian tidak malu berjalan bareng aku yang cacat ini?" Alana merasa banyak pasang mata memperhatikan mereka.
"Tidak perlu hiraukan mereka, ini duniamu dan kamu harus berdiri atas kemauanmu sendiri. Biarkan mereka memandangmu jijik, menilaimu rendah asalkan kamu tidak rendahkan," kata Jihan memberikan dukungan kepada Alana kalau dia tidak akan malu berjalan dengannya.
"Iya, Al. Mending sekarang kita menikmati hidup kita tanpa harus memikirkan ocehan orang. Penilaian orang sampai kapanpun mereka akan tetap menilai kita sesuai keinginannya," timpal Kanaya.
"Kalian benar, untuk apa memikirkan mereka kalau hanya untuk membuat diri kita terluka." mulai hari ini Alana akan cuek terhadap orang lain, dia tidak akan mempedulikan lagi penilaian orang tentang dirinya yang hanya berjalan ter pincang-pincang.
Berhubung Naya sudah mendaftar duluan jadi mereka langsung dilayani.
*******
Setelah urusannya dengan konveksi selesai, Tristan ingin pulang. Rasa lelah hampir seharian mengurusi kerjaan membuatnya ingin segera cepat pulang dan terlelap di rumahnya sendiri.
Tristan pun merebahkan tubuh ke atas kasur. baru saja dirinya terlelap, dering ponsel membangunkannya kembali.
Suara lengkingan wanita yang ia sayangi terdengar menyakitkan di telinga.
"Tristan bisa jemput kita kemari ini? Mama butuh bantuan kamu sekarang juga!"
"Aa..."
Tut....
Belum saja menjawab panggilan sudah ditutup duluan.
"Mama ini ganggu saja, padahal aku baru saja sampai rumah baru saja istirahat udah menyuruhku ke sana."
Namun tak urung Tristan mengikuti arahan mamahnya. Dia pun membersihkan dirinya terlebih dulu, lalu melanjutkan tujuannya ke tempat di mana Jihan berada.
*******
"Al, kamu pulang bareng Tristan, ya? Mama sama Kanaya ada perlu, urusan mendadak. Kamu tunggu saja di sini!"
"Iya, Mah. Aku nunggu di sini sesuai yang Mama katakan." Tanpa bantahan ataupun penolakan saya mengikuti Kata mamanya.
Dia menunggu Tristan di depan mall tersebut. Penampilannya pakaiannya sudah terlihat lebih baik dibandingkan kemarin-kemarin. Paju pun kelihatan mahal, kulitnya pun tidak kusam seperti kemarin-kemarin, wajahnya pun mulai dirias sederhana dan tidak terlalu memperlihatkan bekas jerawatnya.
"Enggak apa-apa, Nay. Aku mengerti, asal kan pak Tristan beneran mau jemput ke sini aku mah udah senang."
"Tentu, Tristan pasti menjemputmu."
Jihan dan Kanaya meninggalkan Alana sendirian.
"Mama yakin ini akan berhasil untuk mendekatkan Alana dan Tristan?"
"Mama yakin, Nay. Kalau mereka jalan berdua bisa menambah kedekatan mereka." Ya, sebenarnya ini hanyalah rencana keduanya untuk menjodohkan Tristan dan Alana.
"Semoga saja mereka benar-benar berjodoh."
"Aamiin."
*******
"Sebagai perayaan atas keberhasilan kita menghasut pemilik toko itu, aku ingin jalan-jalan ke mall," ujar Ica memeluk Dimas di atas motornya.
"Terserah kamu saja." Dimas pun membelokkan motornya ke arah mall yang tidak jauh darinya.
"Oke, kamu memang yang terbaik, Dimas. Aku bahagia bisa dicintai olehmu."
Dimas tersenyum kecut, "Dulu aku memang mencintaimu, Ca. Tapi sekarang rasa itu perlahan hilang. Kalau bukan rasa tanggung jawabku atas apa yang aku lakukan, aku tidak mungkin mempertahankanmu di sisiku," batin Dimas.
Ica begitu berat memeluk Dimas, matanya ia edarkan, namun seketika dia memicingkan mata di saat netra matanya tidak sengaja melihat Alana tengah duduk sendirian di pinggir jalan.
"Dim, Dim, itu Alana kan?" tunjuk Ica ke depan. Dimas menajamkan penglihatannya.
"Sepertinya iya, ngapain dia sendirian di pinggir jalan seperti ini?"
"Berhenti di sana! Aku ingin tahu apa yang sedang si catat itu lakukan di sana?"
"Sudahlah, Ca. Jangan mengganggu Alana lagi! Bukankah tadi kita sudah menghasut pemilik toko. Sekarang kita ke mall saja berbelanja." Dimas enggan membuat masalah dengan Alana.
"Enggak, pokoknya sekarang kita hampiri dia!" Ica kekeh, malahan dia menggoyangkan tubuh Dimas.
"Ca..! Ok, ok, kita kesana." Dimas pun memberhentikan motornya di dekat Alana.
Alana memutar matanya jengah.
"Hei, pincang." Ica mengernyit memperhatikan penampilan Alana yang terlihat elegan dan bening. Begitupun dengan Dimas yang juga tidak berpaling melihat perubahan Alana.
"Duit darimana lo bisa beli baju sebagus ini?" Ica memegang ujung baju lengannya.
Alana menepis kasar tangan Ica. "Bukan urusanmu!"
"Wanita cacat sepertimu tidak pantas memakai baju bagus seperti ini. Seharusnya ini aku yang pakai bukan dirimu." Ica panas melihat Alana memakai baju bermerk.
"Kau mencuri, ya? Atau jangan-jangan kau menjual diri? Beli? mana mungkin mampu. Waahhh jangan-jangan kau menjual diri?" tuduh Ica membuat Alana kesal hingga memukul paha Ica dengan tongkatnya.
"Aku tidak se rendahan itu untuk hanya sebuah baju," sentak Alana kesal. Dia berdiri.
Ica memekik kesakitan membuat dia menatap tajam. "Kurang ajar, beraninya kau memukul ku." Sentak Ica mengambil tongkat Alana dan melemparkan nya.
Alana menahan berat tubuhnya agar tidak jatuh. Meski kakinya ada dua tapi yang satunya terasa sakit bila di gunakan. Makanya menggunakan tongkat.
"Apa? Aku tidak takut kepadamu? Kalian tidak malu hanya bisa menyerang orang cacat seperti ku, hah? Kau Dimas, maunya kau di jadikan budak dia dan malah membiarkan kekasihmu itu bertindak bodoh," sergah Alana menahan sakit satu kakinya tidak kuat lagi berdiri lama.
*********
Nah, apa yang akan terjadi nih?