My Imperfection

My Imperfection
Sebuah Rencana



Bruug... bruug.. bruug..


"Dewi, Dewi, keluar kau! Bayar hutangmu..!" Pak Yanto seorang rentenir meminjamkan uang kepada Dewi terus menggedor pintu rumah, meminta Dewi untuk membayar hutang piutangnya.


Dewi yang baru saja istirahat terganggu oleh suara kendaraan di depan rumahnya. Ia mendengar dengar pemilik suara itu.


"Yanto...! Pasti dia datang mau menagih utangnya. Bagaimana ini? Aku tidak sedang memegang uang." Dewi panik ditagih seperti itu, dia mencari cara agar bisa terbebas dari jerat utang yang melingkar padanya.


"Dewi, buka pintunya..! Atau saya dobrak pintu ini!" Ancam Yanto agar Dewi mau membuka pintunya.


Dewi merasa tidak punya pilihan selain menghampiri Yanto. Mau lari ke mana pun, mau menghindar kabur pun tidak bisa. Kemanapun Dewi pergi pasti Yanto menemukannya karena dia selalu di mata-matai.


"Iya tunggu sebentar!" jawab Dewi sedikit berteriak sebelum membuka kan pintu rumahnya. Lalu dia memutar kunci kemudian menarik gagang pintu rumah.


"Nah, nongol juga kau. Bayar utang mu! Kau masih memiliki banyak utang padaku." Yanto menamprakkan telapak tangannya dengan tangan kiri mencak pinggang menatap tajam wanita paruh baya yang menolak tua.


Bagaimana tidak menolak tua umurnya sudah 50 tahun mulai berkeriput tapi selalu dandan layaknya anak muda selalu memakai pakaian modis seperti gadis-gadis.


"Hari ini aku tidak punya uang. Kan kemarin kau sudah merampas uangku jadi untuk hari ini tidak ada." Meski takut dia berusaha menghadapi rentenir tua bangka ini.


"Halah alasan saja. Bukannya kau semalam bekerja, pasti ada uang kan? Sesuai perjanjian kita, setiap hari kau harus membayar sebesar lima ratus ribu. Buruan bayar..!"


"Barang apa lagi yang harus saya berikan kepadamu, Yanto? Saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Setiap hari saya pun bekerja untuk membayarnya kepadamu, tapi saat ini memang saya tidak punya uang." Dewi berkata apa adanya. Jika punya uang pun pasti dia sudah membayarnya. Tapi sekarang sedang tidak memiliki uang.


"Itu urusanmu sendiri. Saya tidak peduli kau mau punya uang ataupun tidak yang penting kau harus tetap bayar setiap hari sesuai perjanjian kita." Rentenir itu tidak kalah menyolot kekeh dengan apa yang ia kerjakan.


Dewi memiliki hutang cukup besar. Dia meminjam uang kepada rentenir Yanto untuk keperluannya dan Icha sehari-hari. Niat hati ingin memamerkan diri jika mereka mampu terlihat seperti orang punya, tetapi utangnya malah kini menjerat leher mereka.


"Kasih saya tempo beberapa hari untuk mendapatkan uang sebesar 10 juta dalam seminggu. Saya usahakan setiap minggu memberikan uangnya segitu." Tanpa berpikir panjang, Dewi berucap membuat sebuah perjanjian yang di mana nanti perjanjian tersebut akan mencekiknya kembali.


Saking bingung harus membayar pakai apa lagi, Dewi sampai berkata menyanggupi membayar utang 10 juta per minggu.


"Saya tidak menginginkan janji-janji manis busukmu itu. Tapi saya butuh bukti bukan hanya sekedar omongan belaka saja. Akan tetapi, kalau kau ingin menganggap semua utang-utang lunas maka ada dua syarat yang harus kau penuhi. Kau tidak perlu mencari uang ke manapun hanya satu permintaan yang harus kau penuhi." Yanto memberikan sebuah penawaran. Dia menelisik penampilan Dewi yang terkesan cukup menarik di mata pria sepantaran Dewi.


"Dua syarat? Apa syaratnya? Aku sanggup memberikan kedua syarat itu asalkan kau benar-benar memasrahkan hutang hutang ku." Tanpa berpikir lagi, Dewi kembali berkata sesuai yang ada di pikirannya. Terpenting baginya terbebas dari segala utang piutang tanpa harus bekerja lagi siang dan malam di tempat hiburan malam.


Yanto menyeringai. Dia celingukan memastikan sekitar jika tidak ada orang-orang di sana. Dan langsung saja dia mendorong tubuh Dewi masuk ke dalam rumah.


Dewi terkejut mendapatkan serangan dadakan seperti itu dia memberontak tidak ingin yang tak sembarangan menyentuhnya.


"Lepaskan saya, Yanto..! Kau tidak berhak menyentuhku..!"


Dewi terbelalak. "Tapi..."


"Ayolah, Wi.. Mau lunas tidak utangnya?" Bujuk Yanto terus memainkan setiap titik sensitif Dewi. Dewi melenguh tidak menolak sentuhan itu.


"Ba-baik lah ahh.. Asalkan semua ah, utang ku lunas." Dia pasrah di garap oleh Yanto. Yang penting tinggal satu syarat yang harus ia penuhi lagi.


Kira-kira, rencana apa yang Yanto dan Dewi rencanakan.


********


"Gara-gara Dimas, aku sampai harus mencari cara untuk pulang. Untungnya aku memiliki nomor-nomor para pelanggan yang ibu tawarkan untukku sehingga kini aku bisa memiliki uang. Tidak mengapa sekali-kali melayani pria, yang penting cuan, cuan, cuan."


Ica terkekeh mengibas-mengibas kan uang hasil dari melayani pria.


"Pokoknya, aku harus mendapatkan Tristan Delano bagaimanapun caranya. Enak saja Alana mendapat kan pria tampan kaya dan mapan. Sedangkan aku mendapatkan Dimas yang hanya pria biasa bulukan."


Ica duduk di pinggir tempat tidur kamar hotel yang disewa oleh pelanggan pertamanya. Dia tengah memikirkan cara agar bisa mendapatkan Tristan dan tentunya menyingkirkan Alana dari Tristan.


"Siapa yang harus aku minta tolong? Mana mungkin Dimas mau membantuku? Dan cara apa yang pas untuk membuat Tristan jijik kepada Alana?" Ica berdiri berpikir keras hal apa yang akan ia lakukan supaya Alana terlihat menjijikan dimata keluarganya Tristan.


Ica juga berpikir siapa orang yang akan ia mintai bantuan agar memuluskan rencananya. Seketika seringainya muncul setelah menemukan caranya dan siapa yang akan di mintai bantuan.


"Hahahaha aku akan membuat si pincang itu di benci keluarga Tristan. Aku tidak sudi dia lebih unggul dariku. Meskipun Alana adikku, aku tidak rela dia lebih beruntung. Ibu, kau yang mengajarkan aku. Jadi inilah caraku untuk merebut hal yang lebih baik dari sebelumnya."


Ica menyeringai menyusun sebuah rencana, dia pun menelpon seseorang kemudian membicarakan rencana yang sudah tersusun rapi di benaknya.


Sebenarnya, rencana apa juga yang Ica rencanakan untuk Alana dan Tristan? Hanya dia dan Author yang tahu, hahahhaha.


*********


Di dalam kamar, Tristan tengah terlentang melipatkan kedua tangannya di bawah kepala. Dia tersenyum menatap langit-langit kamar. Bayangan tadi di mobil pun kembali membayangi benaknya.


"Alana... Ternyata kamu lah wanita pilihannya. Aku pikir Lisa yang akan mampu menyembuhkan impoten yang ku derita. Tapi ternyata, justru senjataku bereaksi padamu. Itu menunjukan jikalau kaulah yang terpilih menjadi pendamping hidupku," gumam Tristan teramat bahagia.


Dia pernah berkata dan berdoa, kalau senjatanya bereaksi terhadap seorang wanita maka dia berjanji akan menjadikan wanita itu pendampingnya dan berjanji akan mencintai wanita itu sepenuh jiwa dan raganya, menerima segala kekurangannya dan tidak akan mempermasalahkan apapun.


Waktu bersama Lisa, dokter memang pernah mengatakan kalau dia sembuh sekitar 80%. Dirinya pun mencoba test drive melakukan adegan kissing. Tetapi senjatanya benar-benar tidak merespon meskipun dirinya begitu meresapi. Lain halnya saat bersama Alana, meski hanya berdekatan saja mampu membangkitkan gairah yang sempat hilang dua tahun belakangan.


Tristan beranjak ingin menemui kedua orangtuanya untuk membicarakan sesuatu. Apa yang kiranya yang akan Tristan bicarakan? Tunggu saja di episode berikutnya.