
"Hei, kapan kalian punya anak?"
Deg...
Pertanyaan Dewi kembali menghantam diri Tristan yang akhir-akhir ini sangat sensitif jika ditanyakan masalah anak. Dia sampai mematung memberhentikan langkahnya terdiam.
Alana menghelakan nafas berat. Dia membalikkan badannya menatap ibunya. "Doakan kami saja ya, Bu. Insya Allah secepatnya kami akan segera memiliki anak."
Alana kembali berbalik merangkul lengan suaminya. Kemudian mengusap lembut tangan sang suami sembari tersenyum tulus.
Tanpa disuruh duduk, Dewi melenggang duluan lalu duduk di sofa dengan kaki menyilang. "Enak juga Sofanya, empuk."
"Tapi jangan kelamaan juga. Kamu sudah dewasa sudah mau berusia 27 tahun. Kalau bisa secepatnya segera punya anak supaya nanti kau tidak terlalu ketuaan di saat anak-anak mulai beranjak dewasa," lanjut Dewi sambil mata memperhatikan ruangan.
Tristan mengepalkan tangannya, dia marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa memberikan keturunan setelah dia mengalami kecelakaan. Bukan tidak bisa, melainkan sedikit terganggu. Tapi, hal itu membuat nya sensitif.
"Bu..! Jangan bahas masalah anak dulu. Aku dan Tristan tidak ingin cepat-cepat memiliki anak karena kami ingin menikmati pacaran setelah menikah. Kami juga tidak menunda kehamilan. Biar semuanya Tuhan yang memberikan," balas Alana dengan bijak tidak ingin membuat suaminya semakin merasa tidak berguna.
"Tetap saja..."
"Kalau kedatangan Anda ke sini hanya untuk mengusik kami lebih baik Anda keluar! Kami tidak membutuhkan orang yang terus banyak bicara. Silahkan, pintu keluarnya di sana!" tunjuk Tristan ke arah pintu dengan tatapan dingin.
Dewi mendengus, "Sombong banget jadi orang. Mentang-mentang orang kaya seenaknya saja bicara kasar begitu kepada mertuanya. Apa salahnya saya bicara mengenai anak? Kalian kan sudah menikah, tentu saja saya menginginkan cucu dari kalian. Kalau bukan lahir dari rahim saya, Alana tidak mungkin ada dan tidak mungkin menikah denganmu," balas Dewi ngawur kesana kemari.
Tristan mencoba meredam amarahnya dengan cara menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
"Ok, Anda tidak salah bertanya seperti itu. Saya juga berterima kasih kepada Anda karena sudah melahirkan Alana ke dunia ini. Tapi, saya minta jangan pernah membahas soal anak di antara kita. Bukan saya tidak ingin segera memiliki anak tetapi anak tidak mungkin secepatnya ada jika Tuhan tidak menghendaki. Dan, kalaupun Anda ke sini hanya untuk membahas masalah anak mending Anda pergi saja! Saya tidak butuh orang yang banyak bicara apalagi tidak sopan seperti Anda."
Dewi mengerutkan kening Dia sedang berpikir Kenapa Kristen begitu marah saat dia membahas anak? Dia juga kesal Tristan mengusirnya dari rumah megah yang baru saja ia singgahi.
"Kau juga tidak sopan, Tristan. Saya ini mertuamu, seharusnya kau jauh lebih menghargaiku sebagai ibu dari istrimu. Tapi kau berkata seolah-olah kalau aku ini musuh mu," balas Dewi tidak menyukai cara bicara Tristan seakan mengusirnya secara halus.
Alana kebingungan dengan keadaannya yang jadi begini. "Bu, Tristan, sudah, jangan bertengkar!"
"Kamu bilang sama Ibu mu untuk berlaku sopan di rumah orang! Dan jangan pernah ikut campur mengenai urusan rumah tangga kita. Mau kita punya anak ataupun tidak, ini masalah kita bukan urusan ibu mu," seru Tristan memerintahkan istrinya untuk memberitahukan kepada Dewi. Lalu ia pergi meninggalkan keduanya dalam keadaan emosional yang menyerang.
"Tristan..." panggil Alana menatap sedih. Dia mengerti kenapa Kristen bisa bersikap seperti itu. Anak memang hal yang paling sensitif bagi dirinya.
"Ck, tidak punya sopan santun. Itu suami yang kau nikahi? kaya tapi kelakuan minus."
"Cukup, Bu. Tolong jangan hakimi suamiku. Apa Ibu tidak sadar jika Ibu suka tidak memiliki sopan santun di rumah ini? Aku yakin kedatangan Ibu ke sini bukan hanya karena merindukan Alana saja. Tetapi ada maksud tertentu yang tidak pernah Alana tahu apa tujuannya? Jadi aku mohon, jangan mengusik ketenangan kami."
"Kau itu kenapa, sih? Salah sangka mulu bawaannya. Mentang-mentang ibu suka kasar kepadamu, mentang-mentang ibu suka memperlakukanmu buruk, kamu sampai menilai ibu seperti ini. Ibu beneran merindukanmu, Alana." jawab Dewi terlihat sedih.
Dia pun meninggalkan Dewi enggan lagi berdebat dengan ibu yang egois.
Dewi mendengus kesal. "Sialan, Alana sungguh tidak mempercayaiku. Ya, tebakannya memang benar kalau aku datang ke sini hanya karena ingin melihat seberapa mewah seberapa kaya mertuanya ini."
Dewi bingung sendiri jadinya, dia bingung harus ngapain di rumah ini tanpa ada yang menyapa.
"Eh, Anda masih di sini nyonya?" tanya Bi Surti baru pulang membeli makanan nasi Padang untuk majikannya.
Bi Surti sebenarnya bekerja di rumah Tristan. Berhubung Mama Jihan yang meminta untuk menemani Alana di rumahnya, Bu Surti pun mampir ke kediaman Orangtuanya Tristan.
"Iya, kenapa? Mau mengusir juga? Enggak perlu repot-repot. Saya sudah tidak betah lagi di sini. Saya mau pergi dari pada bertamu tapi tidak di hargai," sahut Dewi geram lalu pergi dari sana.
Bi Surti bengong, "Dia kesambet setan apa? Aneh banget tuh orang. Mertuanya Den Tristan gitu amat, ya. Terlihat arogan sekali." Bi Surti menggelengkan kepalanya tidak habis pikir ada orang seperti itu. Dia pun masuk ke dapur menyimpan makanan di atas meja.
Alana masuk mencari keberadaan suaminya. Terlihat suaminya tengkurap memejamkan mata. Alana berjongkok di dekat kaki suaminya. Dia melepaskan sepatu yang di kenakan Tristan.
Tristan terkejut. Dia langsung menoleh ke arah kakinya. "Sayang..."
"Kamu pasti lelah, biar aku pijitin ya?" kata Alana tersenyum lalu duduk di kasur memijat kaki suaminya.
Tristan kembali tengkurap menikmati pijitan sang istri. "Boleh," jawabnya singkat.
"Aku minta maaf atas nama Ibu. Aku tahu kamu pasti merasa tersinggung. Maaf." ucap Alana lembut.
"Kenapa kamu yang minta maaf? Ini bukan salah kamu, ibumu juga benar. Dia tidak salah menanyakan cucu pada kita. Tapi salahku yang memiliki ketidaksempurnaan. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu jika mungkin aku tidak akan bisa memberimu keturunan," jawab Tristan begitu lirih sambil menikmati pijatan Alana.
"Kamu tidak salah, semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Meskipun kita tidak memiliki anak, kan ada Ariel yang akan menjadi anak kita. Dia kan anak kamu juga."
Alana memberhentikan pergerakan tangannya. Dia ikut berbaring di samping Tristan lalu mengusap lembut kepala sang suami. Tristan mengubah posisi tidurnya menjadi berbaring menyamping.
"Tapi aku juga ingin memiliki anak darimu."
"Sstttt... kalau Tuhan sudah menghendaki, pasti kita akan segera punya anak. Lagian kita menikah baru satu bulan. Mending kita gunakan waktunya untuk pacaran saja." Lalu Alana mengecup pelan bibir Tristan.
"Pacaran halal sambil berusaha membuat ku hamil," lanjutnya mengerlingkan mata menggoda Tristan. "Kita berenang kerawa-rawa, yuk?" ajaknya tersenyum malu dengan wajah memerah.
Tristan tersenyum, dia memeluk Alana menindihnya. "Udah pandai menggoda sekarang mah, ya. Siapa takut, buaya buntung ini pasti mau berenang ke rawa-rawa mu," balasnya langsung menyergap bibir Alana. Bahkan tangannya mulai nakal menyusuri setiap kulit istrinya.
"Aduh gustiiiii... Mama salah masuk kamar..."
Mereka berdua menoleh. "Mama...!"