
"Apa yang kamu lakukan pada Alana, Tristan?" Mama Jihan menatap tajam pada Tristan.
"Mana Tristan tahu, Mah. Aku hanya memeluk Alana. Tapi Alana malah pingsan dalam pelukan Tristan. Katanya sih tidak tahan bau dengan tubuh Tristan." Tristan bicara apa adanya mengenai apa yang terjadi barusan.
Dia sendiri bingung kenapa bisa Alana sampai pingsan di saat menghirup aroma tubuhnya.
"Mungkin kamu terlalu kencang kali memeluknya," seru Yanto berpikir jika Tristan kekencangan saat memeluk Alana.
"Tidak juga. Kan Tristan meluknya hanya biasa saja tanpa mendekap erat. Tapi Alana sepertinya pingsan gara-gara mencium bau tubuhku deh."
Mama Jihan menyimak semua perkataan mereka seraya berusaha mengoleskan minyak kayu putih yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Kenapa bisa Alana mencium bau di tubuh kamu? Apa dia sakit?" Jihan terlihat sangat khawatir pada Alana. Dan berusaha membangunkan Alana dengan cara memijat kening menantunya.
"Tidak, Mah. Tristan juga tidak tahu kenapa sampai seperti ini. Setahuku Alana tidak sedang dalam sakit. Dia baik-baik saja."
"Apa mungkin Alana hamil?" celetuk Dewi yang sedari tadi menyimak sekaligus menerka-nerka apa yang terjadi. Kejadian ini mengingatkan Dewi pada kisah sahabatnya yang pernah mengalami mual saat mencium aroma tubuh suaminya dan tidak mau di dekati suaminya.
Deg...
Tristan mematung tidak percaya atas perkataan Dewi barusan. Kenapa tidak percaya karena mereka baru saja tiga bulan menikah. Namun, dia juga mempercayainya sebab setelah melakukan pemeriksaan kemungkinan dia memang baik-baik saja. Antara percaya dan tidak, Tristan lema diantara keduanya.
"Hamil..?! Ah, kau benar. Ini bisa saja terjadi pada wanita hamil. Terkadang hidungnya sangat sensitif terhadap bau-bau di sekitar. Rasa ingin muntah dan bertindak sesuka hatinya selalu menghampiri secara tiba-tiba." Mama Jihan terlihat senang jika memang Alana beneran hamil.
"Masa sih Mah Alana hamil? Kok bisa?" Tristan masih belum percaya dan belum sepenuhnya mengerti.
Mama Jihan mendelik tajam pada putranya. Bisa-bisa di saat seperti ini Tristan menanyakan kok bisa? Dia berdiri bertolak pinggang menjitak kepala Tristan saking kesalnya.
"Aduhh Mah, kenapa kelapa eh kepala Tristan di jitak sih? Salah apa dan dosa apa yang daku lakukan sampai nyai emak Jihan marah begitu. Sakit tahu." Tristan mencebik kesal seraya mengusap kepala yang terkena jitakan mamanya.
"Heh bocah semprul. Kau masih bertanya apa salah kau hah? Bicara mu itu kudu di sekolahin biar otakmu mengerti. Kau bilang kok bisa Alana hamil? Ya bisa lah kalau tiap hari, tiap saat tiap jam atau bahkan tiap menit kau garap bercocok tanam kecebong mu itu. Pasti bisa hamil lah. Emangnya mau bini mu hamil kecebong orang lain?"
"Iishhh ogah lah. Enak saja kalau bicara sekate-kate nih emak satu. Kagak boleh sawah Tristan di garap orang." Tristan menjawab dengan nada sewot tidak terima mamanya bilang begitu. Dia yang modalin, dia yang rawat, dia yang menanam, enak saja mau di garap begitu saja.
"Makanya otakmu pake, jangan cuman bisanya nanam doang tapi tidak berpikir jika bini mu bunting gara-gara elu, junedd..." Mama Jihan kesal sekali, kadang-kadang Tristan emang ngeselin.
"Namaku Tristan bulan judedd, Mak. Tristan kan saking paniknya jadi kagak tahu. Panik Mak, panik bininya pingsan."
"Semprul emang nih bocah. Eh, Dewi Dewi amor, urut yang bener jidat mantu saya. Usahakan dia bangun secepatnya. Saya mau menelpon dokter pribadi dulu." titah Jihan pada Dewi seenak udelnya menyebut nama Dewi.
"Nama saya Dewi Rengganis. Bukan Dewi Dewi amor." Dewi protes atas perkataan Jihan.
"Ah bodo amat. Saya tidak tahu." Jihan pun mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter pribadi sekaligus meminta membawa alat-alat periksa kehamilan ke kediaman Tristan.
"Mah, apa perlu kasih tahu Papa?" tanya Tristan.
"Ah iya, Mama hampir lupa. Telpon papa kamu sekarang juga!" Jihan kembali mendekati Alana lalu seenaknya duduk menggeser Dewi.
"Hei, bisa tidak duduk di tempat lain? Tuh kan masih ada yang lowong."
"Kagak mau. Saya mau duduk di sini. Sono kau dekati duduknya di kekasihmu itu," tunjuk Jihan pada Yanto yang sedari tadi malah diam memperhatikan kehebohan mereka.
*******
"Mah, jadi kan periksa ke dokter?" tanya Tristan sambil melirik Alana yang sudah tersadar dan sedang duduk di sofa sembari mengemil.
"Jadi lah, masa kagak. Tinggal nunggu dokternya tiba."
"Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan kita?" sahut Alana yang sedari tadi mendengar pembicaraan orang-orang dewasa.
"Apapun hasilnya kita serahkan sama Tuhan. Kalau positif Alhamdulillah, kalau negatif kalian usaha lebih keras lagi. Kalau sudah di periksa, setidaknya kita tidak terlalu penasaran," balas Yanto yang masih setia menunggu dokter ingin mengetahui hasil pemeriksaannya.
"Yanti benar, jangan berkecil hati kalau kalau hasilnya negatif. Kan masih banyak waktu buat si buaya buntung berenang bercocok tanam di rawa-rawa," timpal Marko.
"Pastinya itu mah, Pah. Buaya buntung ku pasti akan selalu bercocok tanam."
Yang lain mah diam dengan jantung berdebar ingin segera memastikan segalanya.
"Kalau gitu aku bersiap dulu." Alana ingin berdiri.
"Tidak perlu bersiap diri. Cukup pake baju itu juga pasti memudahkan dokter untuk periksa. Kamu mending tunggu di kamar saja." cegah Mama Jihan.
"Dokternya pria atau wanita?" tanya Tristan khawatir jika dokter yang memeriksa Alana seorang pria. Mana mau istrinya di sentuh-sentuh pria lain.
"Wanita lah. Mama juga mikir kali untuk memeriksakan Alana nya." jawab Jihan sewot, Tristan bernafas lega.
Papa Marko dan Yanto menggelengkan kepalanya melihat ke posesifan kedua orang tersebut.
"Tristan, wooww jadi binimu bunting Bang? waah ternyata garapanmu membuahkan hasil. Berbuahnya berapa? Satu, dua, tiga, atau langsung dua belas seperti tim sepak bola?" Andrian suaminya Kanaya berteriak kencang saat memasuki kediaman Tristan.
Dia datang bareng istrinya setelah di beritahu kalau Alana akan di periksa dokter kandungan dan Kanaya dengan heboh ingin segera datang ke rumah Tristan.
"Dua lusin, puas lo. Banyak bacot lo berisik. Ck, siapa yang mengundang lu ke rumah gue? Perasaan gue kagak memberitahukan lu." Tristan mencebik karena Andrian pasti akan heboh kalau garapannya buaya buntungnya membuahkan bibit unggul buaya baru.
Yang lain malah terkekeh atas kebisingan yang di ciptakan Tristan dan Andrian.
"Mama yang ngundang kenapa? Mau marah?"
Tristan menengok nyengir saat mengetahui Jihan yang mengundang. "Hehehe ternyata emak satu ini yang ngundang. Kagak apa-apa, Mah. Tristan senang kok."
"Tapi boong," lanjutnya dalam hati.
Hingga beberapa saat, suara bel berbunyi.
Ting.. tong.
"Nah itu pasti dokternya. Buruan sambit eh salah sambut dokternya," seru Tristan heboh sendiri dan sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Asyiiap..." Mama Jihan dan Kanaya segera menyambut dokter itu. Mereka berdua membuka kan pintunya.
"Selamat datang dokter"