My Imperfection

My Imperfection
Keluarga Hangat



"Bu bagi uang dong, Bu. Ica mau beli baju bagus. Baju Ica udah banyak yang lusuh dan bosan memakai yang itu-itu mulu," ujar Ica mengagetkan ibunya yang tengah berdandan memakai alat make up. Lipstik yang ia kenakan belepotan ke samping.


"Ica, bisa tidak sih kalau bicara itu jangan sampai mengagetkan Ibu? Lihat, lipstik Ibu jadi belepotan ke pinggir gara-gara suara cempreng mu itu," gerutu Dewi menggeram kesal.


"Salah Ibu sendiri malam-malam begini malah dandan menor seperti wanita malam saja. Jadi jangan salahkan Ica kalau suara Ica bikin Ibu kaget," timpal Ica duduk menghempaskan bokongnya secara kasar lalu melipatkan kedua tangannya di dada.


"Apa kau lupa, Ibu kan memang bekerja di tempat hiburan malam. Dan hanya kau yang tahu ini," balas Dewi membenarkan make up-nya kembali.


"Aku tidak peduli masalah pekerjaan ibu. Sekarang aku minta duit mau jalan-jalan malam mingguan shopping ke mall bareng teman-temanku," pinta Ica menamprakkan telapak tangannya ke hadapan Dewi.


"Ibu gak punya uang, minta saja sana sama Dimas! Bukankah dia anak pemilik warteg, pasti dia punya uang."


"Sekarang Dimas pelit, Bu. Dia tidak lagi memberikan aku uang buat belanja. Kalau cuman makan doang bareng dia sih emang sering dia yang traktir. Tapi buat belanja sekarang nggak. Mana uangnya? Buruan, Bu?" Ica memaksa Dewi.


"Tidak ada uang, Ica. Uang yang Ibu rampas dari Alana saja dirampas kembali oleh rentenir sialan itu."


"Alana punya uang?" tanya Icha sedikit tertarik. Dewi membereskan alat-alat make up nya ke tas kecil.


"Dia bekerja menjadi kasir di salah satu toko fashion ternama di kota ini, Delano fashion."


"Apa? Gadis pincang itu bisa bekerja di toko terkenal itu? Itu kan toko baju yang sering dijajakan di mall-mall? Keluar kota pun saat ini tengah ngetren ramai diperbincangkan." Ica langsung berdiri saking terkejutnya mendengar kalau wanita seperti Alana mampu bekerja di toko fashion ternama.


"Kenyataannya seperti itu. Meskipun dia pincang dia mampu bekerja di tempat terbaik. Tidak sepertimu, cantik sih iya, dandanan modis pun iya, tapi cuman jadi pelayan warteg. Gajinya masih kalah besar dengan Alana. Ibu bangga sama Alana," balas Dewi. Kemudian dia berdiri mengambil tasnya, lalu berjalan keluar rumah meninggalkan Ica yang tengah mematung tidak terima Alana mendapatkan pekerjaan lebih baik dari dirinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan, gadis pincang itu tidak boleh melebihi aku. Aku harus bisa merebut posisi dia saat ini, sampai kapanpun aku tidak terima Alana lebih unggul dariku," ujar Ica mengambil tasnya lalu keluar rumah mencari sesuatu.


********


Rumah Jihan terdengar ramai atas kehadiran Kanaya, Andrian, Andrew dan juga Ariel. kedua anak laki-laki itu tengah bermain kejar-kejaran. Sedangkan para pria saling mengobrol menertawakan Andrian yang tengah bercerita mengenai ngidam istrinya.


Kanaya sendiri tengah makan di dapur di temani Alana dan Jihan.


Kanaya sedang ingin menginap di rumah orang tuanya. Makanya sejak tadi pagi dia mampir dulu ke rumah Jihan untuk sarapan bersama dan sepulang kerja, pulang ke rumah Jihan.


"Coba kalian bayangkan, masa ngidam Kanaya kali ini sungguh luar biasa, bikin aku kesal dan malu 7 turunan. Kalau aku tidak sayang sama istri dan anak, aku enggan sekali melakukannya," curhat Andrian kepada mertua dan Tristan.


"Emangnya apa yang Naya minta darimu?" tanya Tristan.


"Naya ngidam ingin mengusap-usap kepala botak, tetapi aku yang harus melakukannya. ceritanya dia ingin kita itu menjadi, apa ya namanya? Itu loh seperti peramal yang memakai bola kristal."


"Oh itu, ya, kami tahu. Lalu," ujar Marko.


"Hahaha ngidam bini lu aneh-aneh banget Ian. Dulu saja dia ngidam minta lo sama Mike goyang dumang pakai daster, pakai make up, sekarang ngidam pakai harus jadi pesulap merah kayak peramal. Aduh bener-bener luar biasa, bini lo, Ian." Tristan ngakak sampai memegangi perutnya.


Papa Marko pun tidak kalah tertawa kencang menertawakan nasib Andrian yang selalu menjadi sasaran di saat istrinya ngidam.


"Kau begitu puas menertawakan ku, aku sumpahin jika nanti kau memiliki bini, dia akan membuat dirimu kelimpungan gara-gara ngidamnya yang aneh," cebik Andrian kesal.


"Hahahhaha tidak akan, bro. Gue jamin tidak akan."


"Papa setuju dengan doamu, Ian. Papa ingin Tristan juga merasakan nya," sahut Marko ingin tahu bagaimana Kristen mengalami bidang istrinya yang aneh-aneh.


"Ck, Papa tega bener doa'in anaknya," protes Tristan.


Lain halnya dengan ibu-ibu yang tengah saling bercerita masalah wanita.


"Mah, di mall suamiku kan banyak salon-salon yang terkenal tuh. Gimana kalau besok kita ajak Alana ke salon buat perawatan tubuh?" ajak Kanaya sambil mengunyah puding buatan Mama Jihan.


"Boleh itu, Mama setuju. Besok kan Mama tidak ada kegiatan apapun, mending kita menghabiskan waktu jalan-jalan bersama."


"Kamu mau kan Al?" tanya Kanaya.


"Aku gak punya uang buat perawatan, lagian besok kan aku harus kerja. Nanti pak Tristan marah lalu gajiku dipotong bagaimana?" Alana sudah mulai akrab dengan orang-orang yang ada di sana. Dia yang mudah berbaur memudahkan dirinya cepat menerapkan diri.


"Alah masalah Tristan mah gampang, kan ada Mama. Biar Mama yang bicara sama dia."


"Benar, Al. Tristan itu paling nurut sama Mama. Pasti dia akan mengizinkanmu pergi bareng kita," balas Kanaya.


"Kalau aku tidak merepotkan kalian sih, aku mau. Nanti aku cicil deh buat bayarnya. Aku juga kan ingin melakukan perawatan. Ya, biar wajahku nggak kusam-kusam amat."


"Tentu tidak dong, Al. Kamu kan sudah menjadi bagian dari keluarga ini, jadi kamu bebas melakukan apapun. Dan setiap Minggu kita akan melakukan perawatan," seru Mama Jihan.


Alana tersenyum, dia merasakan sebuah keluarga yang tidak pernah ia dapatkan. Rasa bersyukur begitu besar bisa di pertemukan dengan orang-orang baik yang tidak pernah menilai seseorang dari ketidak sempurnaan nya.


Dia yang di lahir kan tidak sempurna memiliki kehidupan tidak beruntung. Di benci Ibu kandungnya sendiri, di sakiti pisik maupun batinnya. Namun, dia tetap tersenyum meski hatinya terluka. Dan sekarang, dia berada di tengah-tengah keluarga harmonis penuh kasih sayang membuat dirinya begitu beruntung.


Matanya kembali berkaca-kaca, hatinya berkata, "Ya Tuhan, izinkan aku memiliki keluarga hangat seperti ini? Aku hanya ingin merasakan kasih sayang seorang Ibu."


Jihan yang menyadari nya menggenggam tangan Alana, tersenyum tulus. Alana pun membalas senyuman itu tak kalah tulus.