
"Tidak bisa!" Tristan dan Alana menoleh kaget ada suara orang lain.
"Lisa...!"
Tristan mengerutkan keningnya merasa heran kenapa ada Lisa di sana. setahunya dia sudah minta penjagaan kepada sebagian orang untuk tidak ada yang mengganggu kegiatannya di sana.
Dua orang pria berlari terengah-engah menghampiri Tristan.
"Maaf, Pak. Wanita ini memaksa masuk dan dia juga menipu kami." Rupanya dua orang mengejar Lisa.
Seketika orang yang memainkan musik biola pun berhenti.
"Ck, ganggu saja. Saya sudah bilang kepada kalian jangan sampai ada orang yang mengganggu kegiatan saya di sini. Saya juga sudah bayar kalian untuk mengawasi orang ini. Tetapi masih saja kalian kecolongan," umpat Tristan berdiri marah dan kesal.
Di perjalanan tadi, Tristan merasakan sebuah kejanggalan di mana ada mobil terus mengikutinya dari belakang. Ia kira orang jahat yang akan berbuat macam-macam kepadanya. Dan dia langsung menyadari ketika matanya menelisik memperhatikan plat nomor mobil tersebut.
Alana mengerutkan keningnya berpikir keras kapan Tristan memerintahkan dua pria itu? Sedari tadi Kristen bersama dia tanpa memainkan ponselnya.
"Apa apaan kamu, Tristan? Kamu malah berduaan di sini sedangkan aku menunggu di rumah sendiri. Kamu kurang ajar, Tristan." pekik Lisa mengeluarkan sebuah alibi yang tidak masuk akal.
"Kau ini ngomong apaan sih? Jelas-jelas ku berduaan dengan Alana karena dia istriku. Rumah, rumah mana yang kau maksud? Aku tidak memiliki rumah bareng kamu," jawab Tristan menggeram kesal cara spesialnya dengan sang istri diganggu oleh Lisa.
"Mending kau pergi saja dari sini! Jangan ganggu lagi kehidupanku! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi aku sudah menikah. Pergi dari sini!" usir nya secara halus berharap Lisa jika dia tidak ingin lagi berurusan dengan masa lalu.
"Bawa dia dari sini. Saya tidak ingin melihat dia di sini!" perintah nya pada dua orang pria yang tadi mengejar Lisa.
"Tidak mau. Kau jahat Tristan, kau tega menduakan aku di saat aku sedang hamil. Kau malah asik bersama wanita pincang ini," sentak Lisa terlihat marah.
"Apaan sih, kau gila? Siapa yang menduakan mu? Dia suamiku dan tidak mungkin memiliki wanita lain di belakangku," balas Alana merasa panas kupingnya mendengar ucapan halu wanita dihadapkannya ini.
"Sudahlah, jangan tambah ngaco kamu, Lisa. Buruan bawa dia pergi!" pekik Tristan pada dua orang pria yang masih saja tidak bergerak malah menonton perdebatan mereka.
"Ayo nona, kau keluar dari sini!" kedua pria itu menggiring tubuh Lisa untuk meninggalkan tempat itu.
"Lepaskan saya! Saya tidak mau pergi dari sini. Saya ingin meminta pertanggungjawaban pria itu atas kehamilan saya." Lisa memberontak menghempaskan tangan yang menyeretnya menjauhi Tristan.
"Hamil?!" ujar Alana dan Tristan bersamaan terkejut dengan ucapan Lisa. Keduanya saling pandang. Alana meminta penjelasan kepada Tristan mengenai ini lewat sorot mata. Tristan menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku sayang. Aku tidak tahu apa-apa menyentuh saja tidak." kata Tristan bingung juga kenapa Lisa berbicara seperti itu. Semenjak dirinya mengalami kecelakaan, dari situ dia sudah benar-benar taubat. Tidak lagi bermain perempuan, tidak lagi asal celup sembarangan.
"Tristan kau harus tanggungjawab! Kau malah selingkuh dariku disaat aku sedang hamil anakmu."
"Jangan berisik! Ayo pergi dari sini! Kau mengganggu kenyamanan pelanggan kami." pria berkepala plontos menyeret Lisa.
"Tristan..."
"Cukup Lisa! Jangan lagi berbicara yang tidak tidak. Aku tidak bodoh, kau pikir aku tidak tahu apa yang selama ini kau lakukan di belakangku. Dan aku juga yakin jika anak itu bukan anakku karena ku berani bersumpah kalau diriku tidak pernah menyentuhmu," sentak Tristan menggeram kesal.
"Tristan, kau tidak bisa begini. Aku ingin kembali padamu, Tristan." Lisa ingin mengejar tetapi di hadang oleh dua orang pria tadi sehingga dia tidak bisa mengejarnya.
"Berisik nona. Mending kau pergi dari sini!" usirnya mendorong tubuh Lisa setelah jauh dari tempat tadi.
"Jangan lagi kau mengusik kenyamanan pengunjung di sini. Kalau kau mengusiknya, kami tidak segan-segan melakukan tindakan kasar!" ujar pria itu memperingati Lisa sangat tajam. Lalu keduanya pergi meninggalkan Lisa.
Lisa menoleh, dia menggeram kesal, marah dikarenakan gagal membuat Alana membenci Tristan. Namun, ia tersenyum menyeringai dan menelpon seseorang.
"Apa kau dapat videonya?"
"Tentu dapat. Sesuai yang Anda inginkan."
"Ok, bagus. Kalau gitu kirimkan kepada saya sekarang juga!"
"Baik, nona."
Tut... Lisa mematikannya. Senyum sinis tersemat di bibirnya. "Tristan, jika aku tidak bisa mendapatkan mu secara baik-baik maka akan ku dapatkan dirimu secara licik. Aku akan gunakan video tersebut untuk membuatmu malu dan bertanggungjawab atas kehamilanku."
Lisa tidak akan menyerah begitu saja sebelum mencapai tujuannya. Inilah sifat dia yang asli, egois dan serakah. Apapun akan dilakukan demi mendapatkan keinginannya.
Tadi, dia berniat memberitahukan perihal kehamilannya kepada ke kedua orangtuanya Tristan. Lisa, mendapatkan alamat rumah orangtuanya Tristan dari detektif yang ia sewa. Saat kenal dirinya, Tristan hanya memperkenalkan diri sebagai pelayan toko di Delano Fashion. Lisa cukup syok mengetahui Tristan anak orang kaya. Itulah sebabnya dia berkunjung ke rumah Tristan.
Lisa juga mengikuti Tristan sampai sini. Butuh perjuangan untuk bisa masuk ke pantai tempat Tristan berada. Dia sampai berpura-pura meminta tolong kedua penjaga itu untuk memeriksa kendaraan nya akibat mogok tidak bisa menyala. Di saat dua orang itu membantu, Lisa berlari masuk mencari Tristan.
******
Tristan tidak jadi membawa Alana menginap di hotel. Padahal Ia sudah menyiapkan makan malam istimewa untuk mereka menghabiskan malam berdua. Tetapi, semua rencananya tidak berjalan sesuai harapan yang di rencanakan.
"Maaf, acaranya berantakan. Aku tidak tahu jika Lisa akan mengacaukan semuanya. Semua di luar rencana. Maaf." Ucap Tristan sambil menggendong nya membawa Alana masuk ke kamar hotel yang telah ia siapkan.
"Apa kamu beneran tidak menyentuh dia?" tanya Alana terkesan dingin dengan suara yang lirih. Ia gelisah dan takut jika Tristan beneran menyentuh Lisa sebelum mereka menikah. Alana kembali teringat jika Tristan mantan buaya.
Tristan menunduk memandangi wajah sedih istrinya. "Tidak sayang, aku tidak pernah menyentuhnya. Kamu percaya kan sama aku?"
"Aku tidak tahu."
Tristan menghela nafas panjang. "Tolong ambilkan cardlock di dalam saku kemejaku?!" pinta Tristan tidak bisa mengambil nya karena sedang menggendong Alana.
Alana pun mencari nya sesuai petunjuk Tristan lalu membuka pintu masuk tersebut. Tristan mendudukan Alana di sofa. Dia juga ikut duduk di samping Alana, menaikkan satu kakinya ke atas kursi lalu menghadap Alana kemudian menatap dalam bola mata indah istrinya.
"Aku sungguh tidak pernah melakukannya, sayang. Semenjak resmi berpisah dari almarhumah Emily, aku tidak lagi bermain sebelum menikah. Ya, dulu aku memang kurang ajar, tapi sekarang udah taubat. Jadi percaya padaku kalau apa yang Lisa katakan tidaklah benar."
"Apa kamu serius?" Alana masih ragu dan takut. Tristan mengangguk yakin.
"Serius."