My Imperfection

My Imperfection
Melepas Gelar Duda



Hari H pun tiba, hari yang di mana dinantikan oleh Tristan. Hari spesial baginya, hari di mana dia akan melepas masa dudanya. Segala macam persiapan sudah selesai dipersiapkan dalam satu hari satu malam.


Kini Tristan tengah berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya. Tangannya tengah menyisir rambut basahnya seraya bersiul riang gembira. Hatinya berbunga-bunga merasakan bahagia bercampur gugup serta deg-degan. Hari ini dia akan melepas masa duda setelah 2 tahun lamanya. Senyum manis terpancar jelas di bibir tebal sensualnya tak sabar lagi untuk menghalalkan wanita yang ia pilih menjadi istrinya.


"Ok, Tristan, kau sudah sangat tampan. Tubuhmu sudah wangi bagaikan toko parfum berjalan, penampilanmu sudah sangat rapi dalam balutan taekwondo berwarna putih. Tapi, tadi pungkiri aku merasakan kegugupan meski ini bukanlah yang pertama," monolog diri sendiri mengusap-usap merapikan baju yang ia kenakan.


Dia terus memperhatikan penampilannya yang sudah siap. Tinggal ke luar berbaur dengan banyak orang.


"Tristan sudah siap belum?" tanya Marko hendak masuk ke kamar Tristan.


Tristan menengok. "Sudah, Pah. Aku sudah siap segala-gala nya. Lahir, batin dan penampilan," katanya sambil mengambil peci berwarna senada dengan pakaiannya. Kemudian memakaikan ke kepala. Baru keluar kamar bareng bersama Papanya menuju ke tempat di mana akad akan diselenggarakan.


Setibanya di ruang akad, sudah banyak orang tengah duduk menunggu kedua pengantin datang. Meja kecil sebagai tempat akad sudah tersusun rapi dan sudah ditempati oleh penghulu sebagai wali hakim, dan para saksi.


Selain menjadi penghulu sebagai Pegawai Pencatat Nikah, penghulu juga memiliki tugas menjadi wali hakim bagi calon mempelai perempuan yang tidak memiliki wali nasab atau karena sebab tertentu wali nasab tidak dapat menikahkannya.


Berhubung Alana sudah tidak memiliki wani nasab atau saudara kandung, atau saudara dari ayahnya maka, wali di serahkan kepada penghulu.


Hanya ada orang-orang terdekat yang ada di sana. Para tetangga rumah di sekitar Tristan dan juga sanak saudara. Namun, tidak ada satupun keluarga dari Alana menghadiri pernikahan ini. Karena memang tidak ada orang yang boleh membeli tahu kan ibunya Alana sebelum pernikahan ini berlangsung. Karena itu demi kebaikan ala anak sendiri agar terhindar dari penyetan paksa atas pelunasan utang ibunya.


Rasa gugup tiba-tiba saja datang menghampiri Tristan. Kegelisahan timbul begitu saja saat sudah tiba di antara mereka semuanya. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya sakit nervous takut salah berucap.


Sesekali Tristan mengelap keringatnya sendiri ketika dia sudah berhadapan di depan penghulu. Matanya pun yaedarkan berharap dapat melihat wanita yang akan dia bersunting.


Seakan mengerti apa yang Tristan pikirkan, Marko berbisik ke telinga putranya. "Tenang saja, Alana aman terkendali bersama Mama dan Kanaya. Mereka akan datang ke sini setelah kau mengucapkan ijab Kabul."


"Tristan gugup sekali, Pah. Padahal tadi tidak merasakan hal seperti ini. Tapi kenapa sekarang malah tiba-tiba datang? Tristan takut gagal," bisiknya.


"Ini hal biasa yang sering dirasakan oleh mempelai pria." Marko menepuk-nepuk pundak putranya. "Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Dan fokuslah agar buaya buntung bisa berenang di rawa-rawa." Di saat genting begini masih saja Marco menyelipkan kata yang sering diucapkan Tristan, buaya buntung ingin ke rawa-rawa.


"Isshh..." Tristan mendesis sebal. Namun ada benarnya juga. "Ok, Tristan, kau pasti bisa melewati satu tahap ini. Kalau kau mampu, buaya buntungmu akan berenang sepuasnya di rawa-rawa. Lalu, kita akan uji coba. Apakah si tongkat saktinya sun go kong ini bisa berdiri benar-benar tegak atau loyo," batin Tristan.


"Apa Anda sudah siap?" tanya penghulu. Tristan mengangguk. "Saya siap, Pak. Siap menyelami rawa-rawanya."


"Semprul..." Marko menepuk kasar pundak Tristan. Pria itu hanya cengengesan. kemudian dia membalas jabatan tangan penghulunya.


Suasana mulai hening.


"Saudara Tristan Delano bin Marko Delano, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Alana Rahmadianti binti Ramli yang walinya saya wakilkan untuk menikahkannya dengan Anda dengan mas kawin satu set berlian dan sebuah uang senilai 1,3 miliar rupiah dibayar tunai." Ucap Lantang dan tegas pak penghulu.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah.."


"Sah.."


"Saaahhh..."


Bapak penghulu pun berdoa.


(Allahhumma biamaaanatika akhattuhaa, wa bikalimaaatika istahlaltu farjahaaa, fain qadhayta lii minhaa waladan faj’alhu mubaarakan syawiyyaa, walaa taj’al lissyaithaani fiihi syariikan walâa nashibaa)


Artinya: “Ya Allah, dengan amanat-Mu ku jadikan ia istriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya”


Sedangkan di dalam ruangan berbeda. Alana meneteskan air mata, resmi sudah dirinya menyandang status istri. Kini hidupnya akan terus mengabdi kepada suaminya. Suami yang ia harapkan mampu menjaganya, suami yang akan terus membimbingnya, suami yang diinginkan untuk selalu menjaganya serta membahagiakannya.


"Sayang, sekarang kamu adalah menantu Mamah. Eh bukan, tapi Putri Mamah. Selamat datang di keluarga Delano." Mama Jihan terharu, dia memeluk Alana penuh sayang. memberikan sebuah kecupan lembut seorang ibu.


Air mata Alana semakin mengalir deras, rasanya nyaman sekali dipeluk seorang ibu. Dia yang tidak pernah merasakan pelukan hangat seorang ibu membalas pelukan Jihan.


"Mamah..." lirihnya terisak pilu.


Kanaya ikut meneteskan air mata laku dia menghapusnya. Dia merasakan jika wanita yang sudah resmi menjadi kakak iparnya pasti merindukan pelukan seorang ibu yang melahirkannya. Tangan kanannya terus mengusap punggung Alana.


Ada kesedihan yang Alana rasakan di saat hari pernikahannya tidak dihadiri oleh ibunya. Bukan ia tidak mengetahui alasan apa Kenapa mereka tidak memberitahukan Ibunya Tetapi ini semua demi kebaikan Alana sendiri. Ya, Alana sudah tahu perihal dirinya yang akan di jadikan pelunas utang. Dan Alana yang berpikir bahwa akan dinikahkan dengan Pak Yanto memilih untuk mengikuti perintah keluarga suaminya.


"Sekarang kita keluar, ya. Pasti saat ini suamimu sudah menunggu dan tidak sabar ingin bertemu dengan. Ayo?!" ajak Jihan membantu Alana berdiri. Kanaya juga membantunya. Namun, sebelumnya Mama Jihan menghapus dulu air mata Alana tersenyum sangat ramah dan menatapnya penuh perasaan.


Lalu mereka bertiga berjalan keluar kamar dan kedatangannya diperhatikan oleh banyak pasang mata yang ada di sana termasuk Tristan.


Pria yang sudah resmi melepas masa dudanya begitu terpesona melihat Alana yang jauh terlihat sangat berbeda. "Pah, yang di tengah istriku kan?" bisik Tristan tidak bisa berpaling.


"Iya, dan yang di samping kanan istri papa."


"Aku tahu itu, dan di samping kiri istrinya Andrian."


"Istriku begitu sangat cantik bagaikan bidadari. Aku beruntung bisa mendapatkannya," batin Tristan tersenyum ketika matanya saling beradu pandang dengan Alana.