
"Tristan hari ini Alana izin tidak masuk kerja dulu, Mama sama Kanaya mau ngajak dia ke salon yang ada di mall Andrian," ujar Jihan menghentikan langkah Tristan yang tengah berjalan keluar sambil memakai jam tangan mahalnya.
"Lah, Kenapa Mama jadi yang ngatur Alana? dia kan bekerja, Mah. Otomatis kalau kerja pasti harus profesional. Baru saja dua hari bekerja masa sudah mau libur lagi, apa kata pegawainya lainnya?"
"Ya tinggal suruh mereka ke salon juga lah, gampang kan. Pasti mereka tidak akan iri kalau kamu mengadakan salon bagi setiap pegawai wanita di hari Sabtu," balas Jihan begitu enteng menyuarakan idenya itu.
Kurang baik apa coba keluarga mereka sudah gaji lebih tinggi dibandingkan pegawai UMR toko yang lainnya, dikasih bonus uang jajan, dikasih satu setel baju setiap minggu, dan sekarang mamanya menyuruh Tristan memberikan perawatan setiap minggunya.
"Itu untuk wanita kalau untuk pria?"
"Samakan saja pria wanita juga sama-sama harus melakukan perawatan. Kalaupun nanti tidak ada yang jaga kan bisa bergilir."
"Terserah Mama saja deh, Tristan Mah nurut apa kata orang tua, yang penting usaha Tristan maju terus dan semakin berkembang," balasnya menyerahkan segala urusan kepada orang tuanya.
Bagi dia apa yang mamanya setujui semuanya mengubah jalan hidup Tristan menjadi lebih baik lagi dan dia merasakan hal itu.
Tristan melanjutkan langkahnya mengambil mobil yang ada di parkiran. Pagi hari ini dia belum bertemu dengan Alana, jadwal kerjanya sekarang jauh lebih padat dibandingkan kemarin-kemarin. Sekarang Tristan lagi di sibukkan mengecek konveksi yang bekerjasama dengan fashion nya.
Jihan tersenyum dia menatap kagum pria yang iya besarkan sedari kecil hingga dewasa.
"Sekarang kamu lebih banyak berubah, Tan. Mama harap kamu selalu mendapatkan kebahagiaan dan dipenuhi dengan keberkahan serta di kelilingi orang-orang baik, aamiin."
Jihan pun kembali masuk Persia p mengajak Kanaya dan Alana.
*******
"Pokoknya hari ini kamu harus bantuin aku bikin Alana dipecat dari pekerjaannya!" Entah apa yang ada di pikiran Ica hingga ia bertekad untuk membuat Alana dipecat dan dia yang akan menggantikannya.
"Sudahlah Ca, jangan gangguin Alana terus! Sampai kapan kau akan terus-terusan mengambil dan menggantikan setiap pekerjaan yang ia jalankan? Tidak cukupkah selama ini kau puas dengan apa yang kau lakukan?" Dimas menolak tegas keinginan Ica. Kali ini dia tidak ingin mengikuti terus perintah wanita ini.
Setiap Alana mendapatkan pekerjaan, Ica selalu merecokinya hingga Alana dipecat dan dia yang menggantikannya. Bahkan, pekerjaan yang saat ini ia lakoni sebagai pelayan, itu adalah pekerjaan milik Alana dulu.
"Ayolah, Dim. Bukankah kamu akan melakukan apapun untukku? Bukankah kamu mencintaiku? Dan bukankah kamu siap memenuhi setiap keinginan ku?" Ica mendekat menggerayangi tubuh Dimas yang tengah terbaring di atas kasur.
Dimas mencekal pergelangan tangan Ica, "Jangan terus menggodaku, Ca. Kau tahu kan jika aku selalu tidak bisa menolak sentuhan ini?" Tatapan Dimas begitu nakal, apalagi gesekan tubuh Ica di atasnya membangkitkan gairah yang sempat terpadam.
Ica menyeringai, dia kembali naik ke atas tubuh Dimas memasukan tongkat sakti Dimas ke dalam goanya. Apalah daya, pria itu tergoda dan menikmati setiap pergerakan yang Ica lakukan.
"Aku akan terus menggodamu sampai kau mau melakukan apa yang kuinginkan. Ayolah sayang, aku akan memberikan pelayanan terbaik ku," ucapnya sembari menggerakkan pinggul ke atas ke bawah, ke kiri ke kanan seirama dengan nyanyian merdu nya.
Dimas tidak bisa menolak dia pun mengiakan. Dia kalah oleh sentuhan Ica dan inilah yang ia sukai dari wanita yang ada di atasnya. Dimas sampai rela pura pura-pura menjadi kekasih amanah demi bisa mendapatkan Ica. Sekarang ia bisa mendapatkannya namun dari lubuk hatinya terdalam tak dipungkiri jika kebersamaan dengan Alana menumbuhkan benih cinta. Tapi Dimas sadar, Alana terlalu baik dan dia tidak ingin menyakiti hati Alana terlalu dalam lagi.
Setelah keduanya menyelesaikan kegiatan panas membara, mereka akan menemui toko di mana Alana bekerja.
*********
"Sebenarnya kita bisa melakukan lembur Pak untuk menyelesaikan pesanan kita di akhir bulan ini. Menurut perhitungan karyawan bisa lembur hingga jam 08.00 malam. setidaknya dengan adanya lembur para penjahit yang keluar bisa tertutupi. Tapi masalahnya tentu kita juga harus memberikan uang lembur untuk mereka," ujar mandir konveksi.
Tengah tengah memperhatikan para karyawan yang sedang fokus menjahit.
"Menurutku tidak masalah asalkan pesanan untuk bulan depan tercapai dan targetnya di atas rata-rata. Semakin besar peminat orang-orang, semakin besar juga target pembuatan pakaian yang harus di capai."
"Buat saja surat pernyataannya, berapa gaji uang lemburnya, dan berapa lama harus melakukan lembur."
Tristan berdiri di salah satu penjahit, dia melihat jahitan prakaryawan dan juga ikan kainnya benar-benar kain berkualitas.
"Baik, Pak. Kalau gitu saya akan melakukan sesuatu perintah Anda."
********
Ica dan Dimas sudah berdiri di tempat bekerja Alana seperti yang Dewi kasih tahu.
"Kamu yakin ini tempatnya?"
"Menurut ibu ini tempat Alana bekerja. Sudahlah, ayo kita masuk!" Ajak Ica penuh perintah berjalan duluan meninggalkan Dimas yang telah mendengus kecil.
Ica langsung saja ke meja kasir menanyakan Alana. "Hei, dimana si pincang itu? eh, maksudku wanita yang jalannya sebelah pakai tongkat alias cacat."
Silvi mengurutkan dahi. "Maksud kau Alana? Dia sedang tidak masuk kerja."
"Iya, itu. Saya ingin menanyakan di mana bos kalian? Saya punya berita tentang wanita cacat itu. Ini penting."
"Nggak tahu saya bukan anak bos yang tahu di mana dia berada cari saja sendiri!" jawab Silvi sinis.
"Hei, buruan jawab di mana bosmu?! Ini penting, dia harus tahu kalau si pincang itu bukan wanita baik-baik," nada bicara Ica meninggi sambil melotot bertolak pinggang.
Di tengah keributan tersebut, Jihan masuk ke tempat itu untuk memberitahukan pegawainya.
"Silvi, nanti kau dan Alana bergantian perawatan. mulai hari ini peraturan baru yaitu setiap minggu akan ada perawatan bagi setiap karyawan."
Tentu Silvi girang bisa mendapatkan perawatan gratis sedangkan Ica melotot terkejut.
"Beneran ini, Bu. Setiap minggu akan ada perawatan?"
"Iya, sekarang kau kasih tahu karyawan yang lainnya. Nanti siang kalian akan bergilir melakukan perawatan tubuh. Saya cuman menyampaikan ini dan Alana akan ikut dengan saya jadi dia tidak berjaga dulu."
"Baik, Bu. Siap laksanakan."
Jihan ingin langkah keluar tapi Ica mencegahnya.
"Apa Anda pemilik Delano fashion? Saya harap Anda memecat Alana! Dia itu bukan wanita baik-baik, dia itu pencuri, pela cur dan tentunya dia tidak pantas bekerja di sini."
Jihan mengerutkan alisnya, dia menatap Icha dan juga pria yang tidak jauh di samping Ica.
"Maaf, saya tidak mengenal Anda dan saya tidak percaya atas apa yang Anda tuduhkan." Jihan kembali berjalan tapi kali ini Dimas yang mencegah.
"Orang yang bekerja dengan Anda itu beneran bukan orang baik-baik, Bu. Saya punya bukti nya." Dimas menunjukan sebuah foto panas Alana dengan dirinya. Tentunya editan Ica.
Jihan terbelalak melihat wajah itu mirip Alana. Dia menatap tajam Dimas dan Ica secara bergantian. Lalu pergi begitu saja dengan mimik muka marah.
"Bu... Hei.. Kau pecat dia saja, Bu..!" teriak Ica tersenyum puas bisa menghasut pemiliknya. Dia yakin Alana pasti akan di pecat.