My Imperfection

My Imperfection
Video Call



Baru saja Tristan ingin membuka pintu mobil ponselnya berdering. Dia tak jadi masuk dulu dan memilih menerima telepon.


"Rumah sakit," gumam Tristan setelah mengetahui siapa yang sudah menelponnya.


Seketika dia berdebar, mungkinkah ini pemberitahuan mengenai hasil pemeriksaan yang ia lakukan hari kemarin? Ada rasa takut, cemas, khawatir, namun juga penasaran dengan hasilnya.


Tristan pun menerima panggilan tersebut.


"Hallo, Dok."


"Pak, saya cuman mau mengabarkan jika hasil pemeriksaan mengenai kesuburan anda sudah keluar. anda bisa datang kemari guna memeriksa hasilnya," tutur seorang pria di seberang telepon yang Kristen ketahui sebagai dokter yang sudah menanganinya kemarin.


Ya, dia meminta nomor dokter tersebut agar memudahkan dirinya untuk mengetahui segala hasil dari semuanya.


"Baik, Dok. Saya akan segera ke sana sekarang juga." Tristan pun mematikan ponselnya. Dia sempat mendengar bentakan Cahyo dari dalam rumah. Namun, Tristan tidak memperdulikan teriakan tersebut. ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan mengurusi urusan keluarga mereka.


Dia kembali melanjutkan niatnya membuka pintu mobil, masuk ke dalam, kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari kediaman keluarga Cahyo Nugroho menuju rumah sakit.


Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, terlihat hilir mudik kendaraan kesana kemari membelah kota tersebut, begitu banyak gedung-gedung pencakar langit berjejer rapi di setiap tempat. Kendaraan yang Tristan kendarai melewati gedung-gedung tersebut


Tiid.... tiiid....


Bunyi klakson pun terus menerus menggema terdengar di sepanjang jalan membuat sang pengemudi kesal. Termasuk Tristan yang sudah tidak sabar ingin cepat sampai. Dan tentunya tidak sabar ingin mengetahui hasil mengenai kesuburan dirinya.


Tiiiid... Tiid...


Mobil di belakangnya terus membunyikan klakson berharap kendaraan di depan maju. Tristan kesal sendiri jadinya.


"Sabar atuh woi! Gue juga sama kena macet, nih. Gak lihat apa di depan macet parah," gerutu sang pengemudi, Siapa lagi kalau bukan Tristan.


"Woy, jalan woy! Panas ini, saya buru-buru," teriak pengendara mobil yang ada di belakangnya.


"Ishh, tuh orang bener-bener, ya. Enggak lihat apa, di depan macet parah. Ada apa sih sebenarnya? Enggak biasanya macet begini?" Keluh Tristan menyenderkan punggungnya ke jok kursi dengan sikut bertumpu di jendela dan jari tangan memijat pelipisnya.


"Kamu sabar aja, Tristan! Kamu 'kan tahu kota J itu selalu macet parah. Kadang bikin kesal sendiri," ocehnya mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu kaget atas kemacetan yang terjadi.


Tristan membuang nafasnya secara kasar, ia mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan video call dengan istrinya sambil menunggu macet berangsur membaik.


"Hallo, sayang. Lagi apa?" tanya Tristan menyimpan ponselnya di depan.


"Aku lagi nunggu pembeli. Apalagi kalau bukan bekerja di toko kamu," jawab Alana di sebrang telpon. Dia kembali meminta izin pada suaminya untuk bekerja sebab Ia merasa bosan bila terus-terusan di rumah. Dan Tristan sebagai suami tidak melarang Alana asalkan hati istrinya senang.


"Kemana aja sih? Tumben banget lama hubungi aku. Eh, bagaimana hasilnya? Apa kamu berhasil membujuk mantan terindah mu itu?" sindir Alana memberenggut kesan memanyunkan bibirnya melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda.


Tristan terkekeh gemas, seandainya Alana ada di dekatnya sudah pasti dia akan memakan bibir manyun itu.


"Kamu yakin mantan terindah mu itu tidak akan musik kita lagi?"


"Stop! Jangan bilang dia mantan terindahku. Jika dia mantan terindahku tidak mungkin kita menjadi mantan dan tidak mungkin pula aku menikah dengan. Dan, kali ini Aku pastikan jika dia tidak akan lagi mengungsi ketenangan kita."


Untuk sejenak keduanya terdiam tak bersua memandangi satu sama lain lewat panggilan video. Alana malu-malu menatap Tristan lalu menunduk lagi."


"Apa kamu merindukanku?" seru Tristan membuka kembali perbincangan keduanya.


"Tidak," jawab Alana mengalihkan pandangannya tak ingin menatap suami yang sudah merasuk kedalam relung hatinya.


"Masa?" goda Tristan mengedipkan mata di saat Alana melirik lalu membuang mukanya tergugup malu.


"Tau ah, kamu ngeselin. Apa kamu tahu, dari tadi aku nungguin kamu tahu. Aku kangen kamu," lirihnya menunduk malu terdengar manja-manja gimana gitu. Dan pada akhirnya dia memilih jujur karena tidak bisa lagi menyembunyikan kerinduan nya.


Tak di pungkiri jika dia merindukan pria ini. Kebersamaannya dengan Tristan ingin selalu terus menerus tak ingin usai.


Dada Tristan berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang merasakan bahagia tiada tara. Rasanya ada ribuan kupu-kupu hinggap ke hatinya berputaran di sana.


"Sayang..." ah, Tristan tidak sabar ingin bertemu sang istri yang malu-malu itu.


Tristan gemas melihat wajah kesal nan malu-malu istrinya. Seandainya sedang berdua, Tristan sudah membawa Alana kedalam lautan cinta surga dunia penuh cinta.


"Sun nya mana?" pinta Tristan tiba-tiba membuat Alana melototkan mata terkejut atas permintaan suaminya.


"Apaan sih? Gak jelas banget deh." Alana mengedarkan pandangannya takut ada orang mendengan pembicaraan mesum suaminya.


"Apanya yang gak jelas, sayang? Aku minta mana sun nya?" Tristan sampai mendekatkan wajahnya berharap mendapatkan suntikan vitamin sun dari sang istri.


"Enggak ah. Nanti saja di rumah," tolaknya memberikan penawaran menarik.


"Tapi aku maunya sekarang. Ayo mana? Itung-itung imun di saat menunggu kemacetan di sini. Ayo!" pintanya kembali memaksa Alana memberikan sun.


"Tapi aku malu," lirihnya pelan.


"Issh gemes banget deh. Buruan sayang!" desaknya tidak sabar ingin mendapatkan sun jauh.


Alana mengedarkan pandangannya, kembali berharap tidak ada yang melihat. Dia mendekatkan wajahnya bersiap memberikan sun sesuai yang Tristan inginkan tapi....


Tiiiiiiidd....


"Alamaaak... ngagetin kali tuh klakson."