
"Kita sebenarnya mau ke mana, Ca? dari tadi sudah muter mencari di mana Alana berada." Rio dan Ica mencari Alana ke berbagai tempat, lebih tepatnya toko-toko Delano fashion.
Mereka tidak tahu rumah Tristan, sehingga yang mereka lakukan adalah mencari Alana ke setiap toko.
"Ada satu lagi yang belum kita kunjungi. Pusat Delano fashion. Aku yakin dia saat ini sedang bersama pria itu."
"Bagaimana kalau dia tidak ada di sana?"
"Kita coba saja dulu, ini tempat terakhir yang harus kita kunjungi. Kalau belum ketemu besok kita cari lagi." Ica tidak ingin rencananya ditunda-tunda. Dia Ingin secepatnya memisahkan Alana dengan Tristan. Hanya pria ini yang ia harapkan untuk menolak Yanto. Ya, karena Ica tidak akan pernah rela jika Alana mendapatkan hal yang jauh lebih baik dari dirinya.
"Baiklah. Semoga saja dia ada di sana karena aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan uang sesuai yang kau janjikan."
Mereka berdua mencari Alana ke tempat terakhirnya. Di belakang juga Denis masih mengikuti. Namun dia kehilangan jejak ketika lampu merah menyala.
"Sialan, malah lampu merah. Ayo cepat lampu hijau, perasaanku tidak enak." Setelah lampu kembali hijau, Denis kembali melanjutkan pencariannya mencari Ica dan Rio.
"Itu Alana, Rio. Benar dugaan ku jika dia ada di sini." Ica bersyukur kalau dia bisa menemukan alana. Dirinya merasa jika Tuhan berpihak kepadanya.
Rio pun menepikan motornya tidak jauh dekat Alana.
"Alana.." suara seseorang memanggil Alana hingga membuat Gadis itu menoleh.
"Ica..!" Alana cepat-cepat membayar es krimnya. Dia tidak ingin bertemu dengan Ica.
"Ibu Al, Ibu dipaksa rentenir Yanto. Kita tolong ibu Al, ayo!" perkataan Ica menghentikan langkah Alana.
"Ibu...! Ada apa dengan Ibu?" Seburuk-buruk nya Dewi, Alana masih saja mengkhawatirkan ibunya. Dia tidak mungkin membenci sang Ibu meskipun dia marah atas perlakuan ibunya.
"Ibu... ibu dipaksa membayar hutang. Saat ini Ibu telah disekap oleh rentenir itu. Dia akan dijual Al, ayo kita selamatkan Ibu aku khawatir." Ica menjalankan sandiwaranya, wajahnya sudah terlihat sangat cemas serta matanya mengeluarkan air mata buaya untuk mengelabui Alana.
"Kau yakin?" Alana menjadi panik dia tidak ingin terjadi apapun kepada ibunya.
"Yakin Al, ayo buruan kita ke sana. Kamu lebih dulu pergi dengan Rio. Aku menunggu tukang ojek dulu," Ica girang rencananya akan berhasil.
"Tapi..." Alana bingung harus berbuat apa? Antara ikut Rio atau minta izin Tristan.
"Buruan Alana! Kamu mau kita tidak melihat ibu lagi? Ibu akan di jual ke luar kota. Dia memiliki utang sebesar 80 juta kepada pak Yanto. Setelah kalian pergi, Pak Yanto datang marah-marah." Ica memaksa Alana untuk naik ke atas motor Rio. Rio dan Ica saling lirik.
Saking khawatir pada ibunya, tanpa berpikir panjang Alana mengikuti perkataan Ica dan dia naik ke atas motor Rio. Meskipun Alana tahu jika Rio pria pemabuk, saat ini pikirannya hanya tertuju kepada ibunya.
Rio pun melajukan motornya. Ica melompat kegirangan. "Yes... rencanaku berhasil. Alana, kau akan hancur. Aku pastikan Tristan tidak akan mau lagi sama kamu hahahaha," batin Ica. Sekarang dia mencari Tristan untuk memberikan kejutan jika wanita pilihannya bukanlah wanita baik-baik. Ica berpikir jika Tristan tidak akan mau pada wanita yang sudah ternoda.
********
"Rio kemana Pak Yanto membawa Ibu pergi?" tanya alamat khawatir tidak sabar ingin menemui ibunya.
"Saat ini dia tengah diseret ke klub untuk melayani pria-pria hidung belang sebelum dijual ke luar kota. Kita harus mencegahnya, Al." Rio sedikit mengebut saat menjalankan tugasnya.
"Buruan, Rio! Aku khawatir ibuku kenapa-kenapa."
Rio benar-benar membawa Alana ke sebuah club. Meski baru sore hari, namun tempat itu sudah banyak pengunjungnya. Alana yang polos tidak mengetahui apapun rencana Ica dan Rio. Dia mengikuti Rio. Dia yang tidak pernah memiliki pikiran negatif kepada orang lain begitu saja percaya.
Alana tidak tahu saja jika Dewi memang bekerja di club. Dia juga tidak terlalu mengenal Rio yang ia tahu hanyalah pemabuk saja.
"Ibu di mana, Rio? Ica mana lagi, kenapa belum nyampe sini?" Dia terus menengok ke pintu masuk berharap Ica segera datang.
"Bu Dewi ada di salah satu ruangan. Saat ini dia tengah disekap. Dan Pak Yanto bilang kalau ingin menyelamatkan Dewi harus datang ke sana." sungguh Rio dan Ica sampai tega memfitnah Pak Yanto mengambil keuntungan dari peristiwa yang sedang Dewi alami.
Alana sudah masuk ke dalam ruangan itu. Namun, dia tidak melihat siapapun dari dalam sana. "Mana Ibuku? Tidak ada di sini?"
Rio menyeringai. Dia memperhatikan Alana dari atas ke bawah. Sungguh, jika diperhatikan tubuh Alana jauh lebih mantap dibandingkan Ica.
"Tidak ada ibumu disini, hanya ada kita berdua."
Ceklek...
Alana langsung menengok ke belakang saat menyadari pintu ruangan tersebut dikunci. Dia terkejut merasakan hal yang ganjal.
"Ke-kenapa pintunya di kunci?"
Rio mendekat dengan senyum menyeringai. Alana gemetar takut, dia memundurkan langkahnya. "Ja-jangan mendekat!"
"Ayolah, Alana. Kita akan senang-senang disini. Hanya ada kita berdua." Rio semakin gencar mendekati Alana. Dan Alana semain mundur.
"Buka pintunya, Rio! Aku mau pulang! Kalian membohongiku." Pekik Alana ketakutan.
"Hahahaha kita memang membohongimu. Dan ini semua adalah rencananya Ica."
Alana menaikkan tongkatnya untuk memukuli Rio berharap dia mau mengeluarkannya dari sana. "Keluarkan aku dari sini! Aku mau pulang!"
"Mengeluarkan mu dari sini? Tidak akan sebelum kita menikmati kesyahduan bersama."
Rio menarik tongkat Alana sampai gadis itu tersungkur ke depan dan dia menangkapnya. Alana memberontak tidak ingin di sentuh. Rio semakin berusaha hingga ia tanpa sadar menampar Alana sampai pingsan.
*******
"Pak, di luar seorang wanita tengah melakukan keributan." bisik salah satu pegawai Tristan.
"Siapa?"
"Saya tidak tahu, Pak. Tapi dia bilang, ini menyangkut wanita yang bernama Alana."
"Alana..!" Tristan langsung saja berlari keluar dari gudang saat Alana disebut. Dia takut seseorang menjahatinya.
Dan saat tiba di luar, dia terhenyak ada Ica tengah bersitegang dengan salah satu security di sana.
"Saya ke sini ingin bertemu Tristan kenapa kalian mencegah?"
"Pak Tristan sedang sibuk, jadi sebaiknya anda pergi!"
"Tunggu! Ada apa kau datang kemari membuat kekacauan di sini?" seru Tristan mengalihkan mereka.
"Tristan, kau harus ikut denganku. Aku melihat Alana pergi dengan seorang pria. Dan apa kau tahu dia itu bukanlah wanita baik-baik seperti yang kau pikirkan. Aku bisa membuktikannya itu."
"Alana...?"