My Imperfection

My Imperfection
Apa..! Alana..! Tidak Mungkin..!



Keesokan hari pun tiba, hari di mana akan menjadi sebuah hari yang mendebarkan bagi seorang Tristan Delano.


Untuk pertama kalinya Tristan akan melamar seorang wanita ke orang tuanya secara langsung. Dulu saat menikah bersama Kanaya, dia dijodohkan dan tidak melakukan sesi lamaran. Saat bersama Emily, juga tidak melakukan lamaran ke orang tuanya. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya seorang Tristan Delano di hadapkan dengan sesi lamaran ke orang tua wanitanya secara langsung.


Tristan sudah siap. Dia terlihat rapi dan tampan dengan baju yang ia kenakan nya. Celana jeans warna hitam dipadukan dengan kaos warna putih serta jas warna hitam begitu cocok melekat di tubuh Tristan.


Dia bercermin memperhatikan penampilannya. Apakah sudah benar-benar terlihat tampan rapi atau masih berantakan.


"Tristan, wow, sungguh kau terlihat tampan rupawan. Pasti Alana akan terpesona se jatuh-jatuhnya, kalau perlu klepek-klepek dah." gumam Tristan menyugar rambutnya ke belakang.


Kemudian dia mengambil arloji mewahnya yang ada di atas kasur. Lalu memakainya ke pergelangan tangan sebelah kiri.


"You look handsome, Tristan." pujinya pada diri sendiri.


Sedangkan di kamar berbeda, Alana tengah merasakan kegugupan yang luar biasa. Bagaimana tidak, ucapan Tristan semalam benar-benar akan terjadi jika hari ini adalah hari lamaran untuknya.


Sungguh Alana tidak percaya kalau dia akan dipinang oleh keluarga kaya. Ada rasa takut yang terus menghantui pikiran serta mengganjal hatinya. Dan tentunya ketakutan itu masalah ketidaksempurnaannya.


"Kamu kenapa sayang? Kamu gugup, tidak percaya, atau ada hal lain yang sedang kamu pikirkan?" tanya Jihan menggenggam kedua tangan Alana duduk saling berhadapan dengannya.


Gadis itu sudah dihias tipis sedemikian rupa agar terlihat semakin cantik mempesona. Baju dress berpayet di bagian dada dengan bahu terbuka menambah kesan elegan, anggun dan tentunya sangat pas bila dikenakan oleh Alana.


"Mah, aku masih tidak percaya kalau anak Mama akan melamar ku. Ini beneran kan? Aku tidak mimpi kan?"


Mama Jihan tersenyum dia mencubit pipi Alana sampai gadis itu terkejut.


"Aaww...! Kenapa malah di cubit?" protes Alana mengusap pipinya.


"Itu tandanya kamu tidak sedang mimpi dan ini nyata." Jihan pun berdiri, "kita berangkat sekarang mumpung ini masih pagi dan kemungkinan ibumu masih ada di rumahnya."


Jihan membantu Alana berdiri. Jika sudah begini dia tidak bisa menolak, sebab keluarga Tristan begitu teguh pada pendirian mereka.


Keduanya keluar kamar dan kebetulan mereka berpapasan dengan Tristan yang juga baru saja keluar kamar.


Tristan sempat tertegun tak bisa berpaling menatap penuh pesona wajah wanita cantik yang ada di hadapannya, tepatnya Alana. Jantungnya semakin berdegup kencang meta matanya memperhatikan penampilan anak dari atas hingga ke bawah dan dari bawah kembali lagi ke atas.


Seketika ia terasa sulit hanya untuk menelan ludahnya sendiri. "Gila, dia sungguh terlihat cantik dalam balutan dress ini. perhiasannya pun natural dan sungguh menambah kecantikannya. Duuh kenapa pake panas segala sih, ini setan bener-bener ganggu terus sih. Dari tadi nggak bisa bikin adem sedikit apa. Oh senjata jangan kau berdiri tegak sebelum label halal menyertaimu. Oh senjata, tolong diam, woles, jangan memberontak atau kau ku sunat kembali. Eh, kalau disunat nanti burung perkutut kok habis lagi. Ntar gak bisa mengerami sarangnya dong," batin Tristan melanglang buana.


"Hei, mantan duda. Ngapain kamu masih berdiri di situ? Ayo berangkat!" tegur Marko bingung melihat Tristan dia mematung sedangkan Jihan dan Alana sudah berjalan duluan.


"Hah..! Mana mereka?" Tristan tersadar dari keterpesonaan nya sampai dia tidak menyadari jika kedua wanita itu sudah tiada.


"Buruan Tristan..! Jadi tidak ini lamarannya?" tegur Marco yang masih melihat putranya diam di tempat.


"Jadi dong, Pah. masa gagal lagi." Tristan pun mengejar mereka yang sudah dulu meninggalkannya. Dia tersenyum menggelengkan kepala tidak habis pikir akan kelakuannya sendiri.


**********


"Ica, hari ini kamu tidak perlu bekerja. Yanto ingin menemuimu." Kata Dewi yang tengah membereskan piring bekas makanan mereka.


"Pak Yanto rentenir itu? Ngapain dia mau bertemu dengan Icha?" Ica heran karena tidak biasanya rentenir itu menanyakan dirinya.


"Mana mungkin aku bilang kepadanya jika aku sudah melakukan kesepakatan hitam di atas putih jika Ica akan menjadi pengganti hutang-hutang ku," batin Dewi.


Ini adalah syarat kedua yang harus Dewi penuhi agar hutang-hutangnya lunas tanpa apapun lagi. Awalnya Dewi keberatan, apalagi orang yang Yanto pinta adalah Ica, anak yang ia sayang sedari kecil. Tapi demi bisa melunasi utang-utangnya, Dewi mengiyakan. toh, Yanto kaya cukup terlihat muda dan penuh kharisma.


"Ya, aneh saja."


Tok.. tok.. tok..


Dan terdengarlah suara pintu diketuk.


"Ibu yakin jika itu Yanto." Dewi pun berjalan untuk membuka pintu. Diikuti oleh Ica yang juga penasaran kenapa Pak Yanto mencarinya.


Di saat pintu terbuka lebar Dewi dan Ica tertegun jika yang bertamu bukanlah Yanto. Dan Ica terbelalak melihat orang yang ia kenal, Tristan Delano beserta keluarganya.


"Alana...!" ujar Dewi.


"Tristan..!" kata Ica.


Dewi mengurutkan keningnya ketika Ica menyebut Tristan. "Alana, siapa mereka?"


"Bisa kita bicara di dalam?" pinta Jihan.


"Ah, iya, silakan masuk." Dewi pun mempersilahkan mereka masuk.


Ica terus memperhatikan mereka. Terbesit dalam hatimu merasa iri kenapa Alana bisa datang bersama keluarga kaya. Dan dia pun tidak menyukai baju bagus yang Alana pakai dikenakan oleh gadis itu.


"Seharusnya itu baju aku yang pakai. Si pincang itu sungguh tidak pantas. Aku harus segera menjalankan rencanaku," batin Ica.


Sudah duduk di samping Jihan. Istrinya Marco Delano itu tidak membiarkan anak jauh darinya.


"Bu, mereka itu pemilik Delano Fashion, toko baju brand ternama yang saat ini tengah diperbincangkan," bisik Ica membuat Dewi terbelalak.


"Berhubung Anda masih ada di rumah maka saya akan memulai bicara tentang maksud dan tujuan saya ke sini beserta keluarga," ujar Marko mengawali pembicaraan.


Meski Dewi tidak mengerti, dia mendengarkan dan tentunya penasaran apa yang akan mereka katakan.


"Saya datang ke sini bertujuan melamar Putri Anda untuk putra saya Tristan."


"Melamar?!" pekik Dewi dan Ica bersamaan. keduanya hilang dan berpikir jika orang yang akan dilamar itu Ica.


Ica sudah tersenyum dalam hati jika hasutan dia pasti akan berhasil. "Aku yakin Nyonya itu sudah memberitahukan foto Alana kepada Tristan dan suaminya," batin Ica.


"Pasti kalian mau melamar Ica kan?"


"Siapa bilang saya mau melamar Ica? Yang saya inginkan adalah Alana," jawab Tristan ketus menatap sinis dua orang itu.


"Apa..! Alana..! Tidak mungkin..!" pekik Dewi dan Ica bersamaan terkejut.