
Tristan tergesa memasuki rumahnya, dia ingin segera bertemu Alana. Setelah memberikan pelajaran kepada Rio, Tristan ingin cepat-cepat kembali pulang.
"Bi, Alana sedang apa?" tanya Tristan pada Bi Surti yang tengah menyiapkan makan malam.
"Tadi dia sedang istirahat, Den. Matanya terlihat sembab sekali. Sepertinya dia terus menangis."
Tristan mengambil satu cemilan buah-buahan yang ada di atas meja makan. "Semoga saja dia baik-baik saja."
"Memangnya Non Alana Kenapa, Den? jujur bibi penasaran saat Aden membawa dia dalam keadaan kacau seperti itu. Pikiran bibi menjadi semrawut ke sana kemari dan pikiran bibi jadi negatif mengenai Aden," kata bi Surti menyuarakan apa yang ia sempat pikirkan tadi.
Tristan menggigit apel yang ia pegang sambil berkata, "Tadi sempat terjadi hal buruk kepadanya dan sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Aku ke atas dulu, bi."
Bi Surti mengangguk-ngangguk. "Mangga, Den. Silakan."
Tristan pun meninggalkan dapur menuju kamarnya. Sebelum melangkah ke kamarnya dia penasaran ingin melihat dulu Alana. Langkahnya berbelok menuju kamar di mana Alana berada.
Mata Tristan tertuju kepada wanita yang kini tengah terbaring di atas kasur. Dia mendekatinya lalu berjongkok di dekat Alana. Gadis itu sedang terlelap dengan mata sembab tersisa tetesan air mata.
Tristan membuang nafasnya secara kasar lalu menunduk kemudian kembali mendongak. Tangannya mengusap air mata tersebut lalu menyingkirkan anak rambut yang sebagian menutupi wajah Alana.
"Aku akan berusaha ada di sampingmu. Tidak akan aku biarkan kamu pergi sendirian lagi dan tidak akan kubiarkan orang lain menyakitimu lagi."
Perlahan Tristan mengecup kening Alana. Dia yang tadinya berniat ke kamarnya malah numpang mandi di kamar tamu yang Alana tempati.
Di saat Tristan mandi, gadis itu terbangun. Dia mencari jam dinding. Saat menemukannya, waktu menunjukkan pukul 09.00 malam. Berarti dia sudah tidur 2 jam.
Wanita bermata bulat dengan bulu mata lentik itu mendudukkan bokongnya. Hatinya kembali teriris mengingat peristiwa sore tadi. Ia kembali melamun memandangi jendela kaca sampai tidak sadar ada Tristan yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuk melilit menutupi bagian bawahnya saja.
Tristan berjalan mendekati Alana sambil menggosok-gosokkan handuk ke kepala basahnya. Dia berdiri tepat di samping ranjang.
"Jangan melamun terus. nanti kesambet jin iprit, mau?" suara bariton Tristan membuat alamat tersadar sehingga menolehkan wajahnya.
Namun dia malah melotot dan menutup kembali matanya saat melihat dada bidang duda beranak satu itu.
"Ka-kamu ke-kenapa ti-tidak pakai ba-baju?" tanya Alana terbata dengan tubuh bergetar memikirkan hal-hal negatif lagi.
Tristan yang melihat reaksi Alana mengerti. Dia duduk di pinggir ranjang masih belum mengenakan pakaiannya.
"Aku barusan habis mandi di sini. Kamu tenang saja, tidak ada hal yang terjadi di antara kita." Perlahan tangan Tristan mencoba menurunkan tangan Alana yang tengah menutupi mukanya.
"Al, lihat aku! Tatap mataku! Tolong jangan potong pembicaraanku sebelum aku benar-benar menyelesaikan ucapanku. Ini penting untukmu mengetahui segalanya." Dan Alana seketika menuruti perkataan Tristan.
Mata Alana dan mata Tristan saling beradu pandang.
"Aku ingin bertanya, apa saat kamu terbangun dari peristiwa tadi kamu merasakan, maaf, sakit di daerah inti mu?" tanya Tristan berhati-hati dalam berkata takut menyakiti perasaan Alana lagi.
Karena mengernyit, dia mengingat mengingat saat bangun dari pingsannya. Dia pun menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya kaget saat bangun tubuhku sudah..." Alana enggan melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya terasa tercekat. Dia menggigit bibirnya merasakan kecemasan yang luar biasa.
Tristan menarik sudut bibirnya. "Ternyata Rio tidak sampai menyentuhmu."
Tristan juga kembali melirik memandangi wajah Alana.
FLASHBACK
Bug...
Ketika Tristan dan Rio sudah berada dalam satu ruangan, Tristan langsung saja memukul kembali wajah pria itu.
"Saya belum menjelaskan apapun dan kenapa kau dari tadi memukuliku?"
"Ini tidak seberapa atas apa yang kau lakukan kepada Alana. Kau brengsek telah menghancurkan wanita lugu itu." Sentak Tristan murka dan ingin kembali memukul Rio. namun kali ini saya bisa mengelak sehingga menghindar dari pukulan Tristan.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, aku tidak sedikitpun menyentuhnya. Dia masih suci," pekik Rio melindungi diri dari amukan Tristan.
Tristan yang siap melayangkan tinju seketika mematung dengan kepala melayang di udara. "Apa maksudmu? Aku tidak percaya pada pria sepertimu." Tristan kembali ingin melanjutkan pukulannya.
"Saya berani bersumpah jika saya tidak sedikitpun menyentuh Alana! Ini yang ingin saya katakan kepadamu." tutur Rio perlahan duduk di kursi.
Perlahan amarah Tristan meredup. Dia menerka-nerka apa yang terjadi sebelumnya sampai pria ini kekeh tidak menyentuh Alana. Setelah mengantarkan Alana ke rumah, dirinya mencari Ica. Dia yakin jika wanita itu ada di club. Dugaannya benar kalau Ica masih di klub. Tristan melihat pria yang tengah meminta uang kepada Ica dari situlah dia berpikir jika pria itu adalah pria yang sudah menyentuh Alana. Dengan Amarah yang memuncak, Tristan memukul Rio.
Rio mengajak Tristan berduel di salah satu ruangan. Niatnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya mengakui kalau saya disuruh Ica untuk merencanakan ini semua. Dia meminta saya meniduri Alana agar pria yang bernama Tristan jijik kepadanya dengan jaminan uang sebesar 8 juta. Justru saat mendengar uang sebesar itu saya menyetujuinya. Dan saya pun mengikuti rencana Ica untuk membawa Alana ke sini."
"Saya menyekap dia di dalam satu ruangan dan mencoba pura-pura memaksa Alana. Belum juga di pegang, Gadis itu memukuli saya pakai tongkatnya. Karena saya tidak ingin uang di depan mata mengalun, maka terpaksa saya menampar Alana hingga pingsan."
"Kurang ajar kau memukul Alana..!" hardik Tristan marah.
"Hanya itu satu-satunya cara agar dia pingsan. Saya memanggil seorang pekerja wanita untuk melepaskan pakaian Alana seolah-olah telah terjadi sesuatu kepadanya," jawab Rio menjelaskan.
"Kenapa kau lakukan ini?" Tristan mulai mendengarkan dia pun ikut duduk.
"Karena aku tidak sampai hati melakukan hal seperti itu kepada gadis polos seperti Alana. Saya memang pria pemabuk, saya memang pria berandalan, saya memang suka jajan wanita. Tapi bukan berarti saya suka merusak wanita. Saya juga bisa melihat wanita yang baik-baik dan mana wanita yang tidak baik. Maka dari itu saya tidak sampai hati merusak kehormatan seorang wanita karena itu bukanlah tipe saya. Saya menerima tawaran Ica karena tergiur uangnya saja. Tidak lebih dari itu. Saya tahu siapa Alana dan aku tidak mungkin menyakiti dirinya. Apalagi merenggut kehormatannya karena saya sendiri punya adik perempuan," tutur Rio panjang lebar menceritakan semuanya.
FLASHBACK END
"Jadi aku..."
"Tidak, sayang. Tidak terjadi sesuatu kepadamu. Seorang gadis akan merasakan sakit di area intinya ketika baru pertama kali melakukannya. Emangnya kamu tidak merasakan sakit?"
Alana menggeleng tersenyum manis. "Berarti aku masih perawan dong?" tanya Alana begitu polos. Tristan tersenyum jahil. Dia menarik tangan Alana dan membawanya terjatuh ke atas tubuhnya kemudian memeluk tubuh gadis itu.
Alana melotot terkejut atas tindakan Tristan. "Tristan...!"
"Sebentar lagi kamu akan menjadi mantan perawan." Bisiknya terdengar serak kemudian mengecup bibir Alana.
"Tristaaaaaan.....!!!!"