
"Alana...?!" Tristan langsung teringat kepada Alana. Iya pergi ke dalam mencarinya. di dalam ruangan kerjanya pun alamat tidak ada lalu Tristan menanyakan nya ke pegawai dia.
"Apa kau melihat seorang gadis yang tadi ikut denganku?" tanya Tristan kepada salah satu pegawai dia yang sempat melihatnya dengan Alana.
"Tadi wanita yang Anda maksud keluar, Pak."
"Keluar? Sendirian? lalu ke mana dia pergi?"
"Tadi saya melihatnya membeli es krim di seberang jalan sana. Lalu tiba-tiba ada motor berhenti di dekatnya dan salah satu penumpang dari motor itu wanita yang membuat keributan di depan, Pak." pegawai itu memberitahukan apa yang ia lihat.
Tristan melihat Ica yang tengah berdiri bersih dekat dada menunggu Tristan di luar sana. "Apa yang telah direncanakan kepada Alana?" batin Tristan.
"Lalu pria itu membawa gadis yang bareng Bapak dengan begitu tergesa."
"Apa? Kenapa kalian tidak mencegahnya?" seketika rasa khawatir datang. apa lagi Kristen wanita berhati iblis dan dia semakin dibuat gelisah.
Tristan pun sedikit berlari keluar tokonya.
"Di mana Alana sekarang?"
"Aku sudah bilang Alana pergi dengan seorang pria. Aku tahu mereka pergi ke mana. Kalau kau ingin tahu, ayo ikut aku?" ajak Ica berharap Tristan mau ikut.
Tristan memikirkan kembali ucapan Ica. Dan dia semakin yakin jika Ica tengah merencanakan sesuatu. Namun, rasa penasarannya dan rasa khawatirnya begitu dalam sehingga dia memutuskan untuk ikut dengan Ica, tapi menggunakan mobilnya.
"Baiklah, kau tunjukan mereka dimana!" kata Tristan melangkah menuju mobilnya. Ica kembali bersorak senang.
"Yes, rencanaku semakin berhasil. Tristan, saat kau tiba di sana aku yakin wanita itu sudah hancur sehancur-hancurnya dan aku akan membuat kamu begitu jijik kepadanya," batin Ica bersorak gembira atas keberhasilannya.
Kapanpun mengajukan mobilnya mengikuti petunjuk sesuai yang Icha berikan. Namun, Tristan menatap aneh, kenapa jalan itu malah menunjukkan tempat laknat yang dulu pernah ia kunjungi.
"Club..? Apa Alana di bawa kesana? Kenapa? Ada apa?" batin Tristan bertanya.
"Alana masuk ke sana bersama seorang pria, dan aku yakin jika saat ini dia tengah menjajakan tubuhnya. Alana tidak sebaik yang kau pikirkan, Tristan." Hasut Ica sebelum keluar mobil.
Tristan menahan amarahnya. Dia sudah memikirkan hal-hal negatif yang terjadi di dalam sana. Tanpa pikir panjang lagi Tristan keluar membanting pintu mobilnya secara kasar.
Bluggh...
Ica terlonjak kaget, ia refleks memegang dadanya. "Gila, jantungku copot gara-gara dia." Ica juga ikut turun mengikuti Tristan dari belakang.
Sedangkan di dalam, Alana tersadar dari pingsannya. Merasa pusing dan juga merasakan sakit di pipinya. Perlahan matanya terbuka, namun seketika dia tersadar jika dirinya berada di tempat yang tidak ia kenali.
Alana terbelalak. "Rio...! Dia...! Tidak...!" Alana langsung duduk dan seketika matanya tertuju pada dirinya sendiri yang tidak mengenakan satu helai pakaian pun.
Alana semakin terkejut saat menyadari dirinya tanpa busana. Matanya berkaca-kaca, dia terus menggelengkan kepalanya tidak percaya jika ini terjadi kepadanya.
"Tidak...! Ini tidak mungkin terjadi padaku..?! Ini tidak mungkin..!" tangis Alana pecah saat itu juga. Dia memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.
Hatinya hancur, jiwanya terluka, dia tidak percaya kalau dirinya ternoda. Apa yang selama 26 tahun ini ia jaga terenggut paksa oleh segelintir orang tidak berprasaan.
"Tidak...! Ini tidak mungkin... Ini tidak mungkin terjadi.. Hiks hiks Tidak..!" Alana terus menggelengkan kepala menolak percaya dan berharap hanya sebuah mimpi.
Dia menangis histeris sambil menjambak rambutnya sendiri dengan tangan kiri memegang erat selimutnya. "Tidaaak...! Papa, Alana kotor... Hiks hiks"
Brakk...
"Alana..!"
"Tristan...!" Bibir Alana bergetar sakit menahan rasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga diri.
"Lihatlah Tristan, Alana itu tidak sebaik yang kau pikirkan. Dia itu seorang pela cur," Ica yang dari tadi memperhatikan tersenyum puas dan ia yakin jika dia akan menang.
Tristan perlahan melangkah mendekati Alana. Tangannya terkekal kuat hingga memperlihatkan urat-urat. Wajahnya menahan marah dengan sorot mata tajam terlihat memerah. Dan kini ia berdiri di samping ranjang dekat tembok.
"Kau...!" Tristan sangat sulit berkata namun ia terus saja mendekati Alana.
Alana menatap Tristan penuh luka, kecewa, dan tentunya marah. Dia semakin mengeratkan pegangannya keselimut dan perlahan mundur tidak ingin didekati oleh Tristan.
"Ti-tidak, ja-jangan mendekat!"
"Kau.. kurang ajar...!"
Bugg...
Tristan memukul tembok sangat keras melampiaskan amarahnya. "Siapa yang sudah melakukan ini kepadamu, hah? Siapa Alana?" pekik Tristan menatap tajam.
Ica terhenyak mengetahui bahwa Tristan tidak mencacinya, malah bertanya Siapa yang melakukan ini.
Alana hanya menggeleng kan kepala enggan menjawab. Dia semakin mundur hingga tubuhnya mentok di sudut ranjang. Air matanya terus mengalir deras tiada henti. Isakan tangisnya terasa pilu membuat hati Tristan semakin sakit.
"Jawab aku! Siapa yang sudah melakukan ini kepadamu?" Tristan menaiki ranjang mendekati Alana.
"A-aku... a-aku ko-kotor Tristan, a-aku kotor..." Alana menangis tersendat-sendat menunduk menangis histeris tidak bisa menjawab pertanyaan Tristan.
Tristan menangkup kedua pipi Alana menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Dia semakin marah melihat warna merah di pipi Alana. Dirinya semakin yakin jiga sudah terjadi sesuatu dan itu ada sangkut pautnya dengan Ica.
"Aku akan menikahimu," ucap Tristan membuat Ica terkejut. Begitupun dengan Alana hingga ia mendongak dengan mata sembabnya.
"Apa-apaan kau ini, dia itu wanita ja lang. Seharusnya kau buang saja dia!"
"Diam..!" bentak Tristan menggeram marah hingga menatap tajam bak ingin membunuh. Ica menjadi bungkam takut melihat kemarahan Tristan. hanya dengan gertakan saja mampu membuat nyalinya menciut.
"Siapa dirimu berani mengatur diriku? Aku tidak pernah mengenalmu, sampah." Tristan kembali menatap Alana yang tengah menatapnya.
Tubuh Alana terus bergetar, deraian air mata tiada henti berjatuhan membasahi pipi.
"Apapun yang terjadi kepadamu, aku akan tetap menikahimu." Tristan meyakinkan Alana. Jika keputusannya untuk menikahi Alana adalah keputusan yang bulat.
Alana menggelengkan kepalanya dia tidak mau menerima Tristan. "Aku sudah kotor, aku tidak pantas untukmu."
"Tristan dia itu pe..."
Tristan melemparkan bantal secara kasar tepat mengenai wajah Ica. Dia marah gara-gara Ica Alana nya seperti ini. "Sialan kau, dasar wanita tidak tahu diri. Aku pastikan hidupmu tidak akan baik-baik saja, aku akan membalas setiap air mata yang Alana keluarkan gara-gara dirimu."
Tristan melilitkan selimut hingga menutupi seluruh tubuh Alana terkecuali kepala. Dia membawa Alana dari sana dengan sorot mata menahan amarah.
"Aku akan mencari pria brengsek itu... Aku janji padamu akan membuat dia sengsara," batin Tristan.
"Aakkhh... Sialan... Kenapa dia tidak marah dan jijik saat Alana seperti itu? Kemana Rio? Kenapa dia tidak ada di sini? Brengsek... Semuanya gagal total." Umpat Ica menendang-nendang bantal yang tergeletak di lantai.