My Imperfection

My Imperfection
Semakin Romantis



Tristan kembali membawa Alana ke rumah orangtuanya. Dia tidak jadi mengajak Alana menginap di hotel mengingat Lisa kembali berulah dengan mengirimkan Video pertengkaran mereka di pantai tadi. Dan sekarang mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Tristan, dan mereka masih berada di dalam mobil.


"Gara-gara mantan kamu kita tidak jadi menikmati makan malam romantis, gagal tidur di hotel mewah," ucap Alana memberenggut kesal. Bagaimana tidak kesal, ponsel Tristan terus saja berdering mulai dari pesan, video call, hingga sambungan telpon biasa. Dan apa yang mereka dapat? sebuah ancaman Video yang sudah di edit untuk menjatuhkan Tristan.


"Maaf, sayang. Tapi aku memikirkan keselamatan serta kenyamanan kamu. Aku tidak ingin Lisa mengganggu kita lagi. Malam ini kita menginap di sini lagi, ya. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kamu jika kita masih memaksakan menginap di hotel. Aku harus pergi menyelesaikan urusanku. Ini demi kebaikan kita juga." Tristan sudah memikirkan matang-matang akan hal ini. Mungkin rumah orangtuanya tempat paling aman dari gangguan Lisa.


Tristan di buat geram atas tindakan yang di lakukan Lisa dimana wanita itu mengancam akan menyebarkan berita hoaks ke media. Lagi-lagi Tristan harus berurusan dengan media. Beginilah nasibnya seorang pengusaha baju sukses terkenal hampir ke pelosok tanah air.


"Mau ngapain? Kemana? Dengan siapa? Awas ya kalau kamu menemui kekasih tersayang mu itu. Aku akan ngambek," seru Alana memanyunkan bibirnya seraya bersedekap dada memicingkan mata curiga.


"Jangan curiga seperti itu, aku tidak mungkin bermain apalagi menemui Lisa tanpa seizin mu. Meski memang niatku mau kerumahnya." Tristan berkata jujur, dia memang akan pergi ke rumah Lisa untuk menemui orangtuanya. Dengan cara ini, Tristan akan memberikan peringatan sekaligus pelajaran untuk orang-orang yang sudah mengusik ketenangan rumah tangganya.


Alana menatap dalam mata Tristan mencari kebohongan. Alana tidak menemukan nya, hanya sorot mata teduh serta sebuah kejujuran tergambar jelas lewat matanya.


"Tapi kamu jangan tergoda olehnya," lirih Alana menunduk sedih sambil memainkan kuku jari-jari cantiknya.


Tristan menggeser duduknya menjadi menghadap Alana. Dia mengambil kedua tangan Alana, menggenggam tangan itu, lalu membawa nya ke dalam dekapannya seraya menatap dalam penuh cinta wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Tidak mungkin ku tergoda jika ada wanita indah, cantik, serta shalehah di rumah ku. Sejak ku memutuskan menikahimu, maka selamanya akan akan tetap mencintaimu. Jangan pernah berpikiran buruk mengenai aku karena aku tidak mungkin lagi seperti itu. Cintaku hanya untuk mu hingga ku mati di lekang oleh waktu."


Alana menatap haru bisa memiliki pria seperti Tristan. Tidak peduli masa lalunya yang kelam, tak peduli kekurangannya, yang penting ia bahagia bersama pilihannya.


Alana langsung menghambur ke pelukan Tristan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Tak ada kata yang terucap hanya sebuah pelukan hangat.


Setelah menghabiskan waktu saling berpelukan, keduanya kemudian keluar mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Malam Pah, Mah," ucap mereka secara bersamaan.


Mama Jihan Marko yang sedang menonton salah satu stasiun televisi itu menengok kebelakang. Keduanya tidak menyadari jika Tristan dan Alana kembali lagi ke rumah. Untungnya pintu belum di kunci sehingga memudahkan Tristan bisa masuk.


Jihan melirik jam dinding yang menghiasi dinding ruang tamu. "Ini kan masih jam 9, tumben balik lagi ke rumah kita? Katanya mau pulang?" tanya Mama Jihan merasa heran pada keduanya. Pun dengan Papa Marko yang juga tak kalah herannya."


"Iya, katanya mau menginap di hotel?" timpal Marko.


Tristan serta Alana duduk terlebih dulu.


"Ada masalah, Pah, Mah. Ada gangguan, aku ingin menitipkan Alana kepada kalian. Di luar sepertinya tidaklah aman untuk Alana. Aku juga harus membereskan sesuatu," jelas Tristan menceritakan apa yang terjadi barusan tanpa di tutupi.


Marko dan Jihan terkejut, mereka tidak menyangka Lisa sampai berniat seperti itu.


"Ini yang akan Tristan hadapi. Aku akan menemui keluarga Lisa untuk membereskan semua ini. Aku tidak mau rumah tanggaku di ganggu terus. Kapan bahagia nya?" keluh Tristan merasa banyak sekali ujian kepada keduanya.


"Jangan sekarang, besok saja. Ini sudah malam, kalau pun kau memaksakan diri untuk ke sana malam ini, yang ada mungkin mereka sudah tidur," tutur Marko.


"Baiklah, kalau itu yang terbaik Tristan dan Alana ke kamar dulu." Pamit keduanya kemudian Tristan memegang tangan Alana lalu membawa istrinya ke kamar.


"Rasanya lelah sekali," gumam Alana seraya memejamkan mata menghirup udara secara dalam dan membuangnya.


Tristan terus memandangi wajah cantik Alana dari samping, matanya tidak bisa lepas dari wajah cantik, nan manis itu.


Tristan mendekatkan pipi dia ke pipi Alana. "Kamu cantik dan wangi, aku menyukai mu, sayang," bisiknya.


Cup...


Satu kecupan mendarat tepat mengenai pipinya Alana. Dia menunduk tersenyum malu mendapatkan serangan dadakan dari suaminya.


"Kalau tidak wangi dan cantik nanti kamu malah tidak ingin melirik lagi," jawabnya. Ada rasa takut Tristan kepincut wanita lain. Itulah sebabnya Alana selalu melakukan perawan, selalu merawat diri dan selalu tetap wangi.


Menurut dia, merawat diri merupakan salah satu kewajibannya sebagai perempuan dan yang pasti sebagian dari iman.


Alana tersenyum tulus, wanita mana yang tidak suka jika di katakan cantik dan wangi. Setiap wanita pasti ingin di katakan cantik dan wangi oleh orang lain. Menurutnya dua hal itu suatu kebanggaan tersendiri bagi para perempuan.


Coba kalian renungkan dan tanya pada diri sendiri wahai para wanita, apakah kalian suka di katakan cantik? apakah kalian ingin di katakan wangi? Jawaban saya iya. Bohong jika kalian tidak ingin cantik dan wangi, bohong jika kalian mengelak. Karena pada dasarnya wanita ingin selalu tampil cantik dan wangi di manapun mereka berada.


Jika ada di antara mereka yang bilang kamu jelek, bagaimana perasaanmu? Pasti kamu merasa tidak suka. Jika di antara mereka ada yang mengatai mu bau, bagaimana tanggapan mu? Pasti kamu kesal dan marah. Tapi, jika di antara mereka ada yang bilang kamu cantik dan wangi, pasti hati kecilmu terasa senang, atau bahkan membanggakan diri sendiri.


"Kan biar kamu tetap terus melihatku tidak melihat wanita lain," jawab Alana jujur ingin melangkah tetapi Tristan langsung membopongnya.


Grep...


Tristan membopong Alana. Dia membaringkan istrinya ke tepat tidur secara perlahan. Mata keduanya saling memandang satu sama lainnya. Menyalurkan setiap rasa yang di miliki lewat tatapan.


"Tentunya, mataku tidak akan melirik wanita lain selain kamu yang akan menjadi istri satu-satunya," ucap Tristan lalu perlahan mengecup kening Alana.


Rencana memberikan kejutan istimewa ini pun malah harus urung dan berakhir di dalam rumah orangtuanya.