
Tristan dan Alana sedang menikmati malam indah berdua sedangkan Lisa sedang kebingungan entah kemana. Niat hati mau bunuh diri malah tidak jadi karena takut masuk neraka seperti yang Tristan katakan sebelumnya.
Sebanyak dia melakukan dosa jika mengingat soal neraka seperti yang diingatkan Tristan tadi, dia mendadak ngeri dan takut juga. Sudah berdosa, melakukan dosa, banyak dosa, pada akhirnya kan masuk neraka jika tidak bertaubat juga. Pendosa juga ada takutnya.
"Kalau kau mau mati jangan menyusahkan orang begini. Matinya diam-diam saja di rumah. Makan racun sianida kek, makan obat tidur selamanya kek, gorok leher sendiri di kamar. Dan itu jauh lebih baik daripada bunuh diri di pinggir jalan menyusahkan banyak orang. Setidaknya jika tidak ada orang yang mengetahui kau mati, orang-orang sekitar tidak disusahkan akibat rencana konyol mu ini," ujar Dimas memarahi Lisa.
"Ishh Kak itu niat menolongku tidak sih dari tadi terus ngomel ngaler ngidul macam emak gue lu." balas Lisa menggeram kesal mendelik tajam pada pria yang berdiri di hadapannya.
Dimas memutar jengah bola matanya. Dia pun kembali menaiki motor yang sempat ia simpan tak jauh dari peristiwa kejadian.
Lisa mengekor dari belakang karena tidak tahu ke mana lagi dia harus pergi, dan bingung dimana dia tinggal. Hanya sekedar penumpang tidur saja pun ia tidak tahu.
Sahabat yang selalu menjadi tempat mencurahkan segala resah, tempat meminta bantuan tidak lagi peduli padanya dikarenakan sang sahabat sudah berhasil merebut Rafael darinya. Kini dirinya bingung harus kemana lagi meminta bantuan.
Dahi Dimas mengkerut memandangi Lisa yang berdiri di dekatnya. "Ngapain kau berdiri di belakangku? Pasti mau macam-macam ya? Pasti kau ini bukan manusia atau mungkin kau ini hantu jembatan? iishhh serem." ujar Dimas merinding membayangkan jika sosok wanita yang ada di belakangnya ini bukanlah manusia biasa melainkan si manis dari jembatan cihea, alias hantu kuntilanak.
"Enak saja kau mengataiku hantu. Mana ada hantu menginjakkan kakinya di bumi? Kau lihat baik-baik diriku ini, perhatikan dengan seksama apakah aku ini hantu atau bukan? Kalau tubuhku gentayangan tidak menapakkan kaki barulah aku ini seorang hantu," balas Lisa sewot.
Dimas pun memperhatikan kaki Lisa. "Eh, benar juga kakimu menginjak tanah kukira kau ini hantu yang pura-pura menjadi wanita frustasi ingin bunuh diri," sahut Dimas menaiki motornya.
"Hei boleh aku ikut denganmu?" dengan memberanikan diri meski malu dan tidak yakin akan jawaban yang diberikan Dimas, Lisa bersuara minta ikut.
Dimas yang hendak menyalakan starter kembali mengerutkan dahinya. ia menoleh heran atas permintaan wanita yang baru saja ia temui.
"Kagak salah tuh minta ikut denganku? Kenal kagak, saudara bukan, sahabat bukan, tetangga bukan, teman pun bukan. Masa sudah mau minta ikut? Aneh lu. Dasar wong edan." Dimas kembali menyalakan starternya lagi.
Tapi Lisa tiba-tiba duduk begitu saja di belakang motor Dimas. Saking bingungnya mau kemana membuat Lisa nekat ikut dengan Dimas. Tadi dia sempat dengar Dimas menyebut suaminya Alana, itu artinya Dimas kenal kedua orang itu.
"Hei... turun! kau tidak boleh ikut denganku." Dimas menengokkan kepalanya ke belakang.
"Tapi aku bingung mau ke mana lagi? Orangtua ku mengusirku dari rumah karena kehamilanku ini membuat keluarga tercoreng. Aku pun tidak punya sahabat atau teman karena orang yang kuanggap sahabat menusukku dari belakang mengkhianati kepercayaanku dan sudah merebut kekasihku," lirih Lisa tertunduk sedih meremas jari-jari tangannya. Seketika air matanya menetes begitu saja.
Dimas menghelakan nafas berat. "Itu derita lo. Kau yang berbuat engkau yang bertanggung jawab. Apa yang kau tanam itu yang kau tuai. Kau menanam sebuah keburukan maka hasilnya pun berakhir dengan keburukan."
Dimas mematikan mesin motor, dia turun tapi Lisa masih berada di atas motornya. "Apa kau bilang, kau berharap Tristan memperdulikan mu? Itu tidak akan ku biarkan. Enak saja kau mau mengganggu suaminya Alana. Big no!" kata Dimas melotot tajam sambil bertolak pinggang.
Lisa langsung berhenti menangis dan malah menatap bingung pria di hadapannya. "Ada hubungan apa kau dengan mereka?"
"Bukan urusanmu. Minggir!" Dimas menarik tangan Lisa untuk menurunkannya dari motor.
"Aku mau ikut kamu saja. Please, bawa aku kemanapun? Tak apa jadi pembantu, jadi asisten, jadi tukang kebun asalkan ada tempat untuk ku tinggal supaya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Please..." Lisa memohon menangkupkan kedua tangannya berharap Dimas berbaik hati padanya.
Dimas kembali menghembuskan nafas berat. Dia bingung harus berbuat apa kepada wanita keras kepala ini. kalau dia membawa ke rumahnya apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya? kalau dia membiarkan wanita ini berada di luar kemungkinan sesuatu untuk di luar dugaan kembali terjadi menghantam diri wanita ini.
"Kau beneran diusir dari rumah? Kau beneran tidak memiliki siapapun lagi? Dan Apa benar saat ini kau benar-benar sedang mengandung anak kekasihmu?" tanya Dimas kembali memastikan segalanya.
Lisa mengangguk yakin seraya memandang lekas-lekat bola mata pria yang sedang berdiri di hadapannya. Ia berharap pria ini mau menolong dia, setidaknya untuk sehari ataupun dua hari sampai bisa mendapatkan tempat tinggal yang baru.
Dimas pun tertunduk lesu. "Berhubung saya pria baik yang memiliki hati nurani, pandai menabung dan suka menolong, kau boleh ikut."
"Beneran? Aakkhhh makasih." pekik Lisa memeluk Dimas saking senangnya akan memiliki tempat tinggal.
Dimas sampai kaget atas reaksi yang diberikan Lisa padanya. "Tapi, kau tidak boleh berbuat tindakan yang membuat orang lain merugi. Atau, saya akan membawamu ke rumah sakit jiwa."
"Apaan sih. Gak jelas banget, aku tidak gila ya? Aku hanya sedikit kurang waras akibat stress memikirkan kehidupanku yang kacau balau seperti ini." Lisa melepaskan pelukannya meninju pelan dada Dimas.
Dan anehnya, baru saja pertama kali bertemu dengan pria ini dia sudah mampu beradaptasi layaknya orang yang sudah mengenal lama.
"Sama saja, sama-sama gila." Seru Dimas kembali menaiki motornya kemudian menyalakan lagi dan kini dia beneran melajukan kendaraan tersebut sambil membonceng Lisa.
"Makasih karena kamu sudah mau menolongku. Aku janji tidak akan berbuat aneh-aneh di rumahmu. Dan aku janji kalau aku sudah menemukan tempat baru ataupun pekerjaan, aku akan pergi dari rumahmu dan juga pergi dari kehidupanmu."
"Ya itu harus karena saya tidak mau terlalu direpotkan olehmu," balas Dimas sekenanya.