
"Tristan kamu mau bawa baju berapa?" Alana sedang mempersiapkan segalanya untuk keperluan mereka saat di Bali nanti.
Beberapa pakaian sudah berada di atas kasur dan Alana sedang memilih pakaian yang akan di bawa saat hendak ke Bali.
"Cukup bawa 2 saja, sayang. Sisanya bisa beli di sana." balas Tristan sedang duduk bersila sambil memangku laptop.
"Oh. Ok, kalau gitu aku bawa masing-masing dua pasang ya."
"Iya," jawab Tristan singkat berfokus pada laptop nya.
Keduanya sibuk dalam urusan masing-masing. Alana dengan kegiatannya dan Tristan dengan kegiatannya. Urusan pekerjaan sekalian berbulan madu akan keduanya lakukan. Keberangkatannya pun pada sore hari. Dan berhubung ini masih pagi, maka Alana mempersiapkan segalanya.
"Tristan, hari ini aku mau ketemu ibu apa boleh?" Alana bertanya setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Tristan mendongak. "Sekalian kita bertemu ayah kandung mu."
Alana mengerutkan keningnya. "Ayah?" dia hampir lupa jika dirinya memiliki ayah kandung yang asli.
"Iya, ayahnya Dimas kan ayah kandungmu juga."
Ah, Alana sampai melupakan hal itu. Dia masih berpikir jika ayahnya sudah tiada tapi kenyataannya sekarang sang ayah masih ada.
"Hmmm iya, aku melupakan itu."
Tristan tersenyum mengusap pucuk kepala Alana. "Hal yang sulit untuk kamu terima di saat 26 tahun baru mengetahui ayah kandung mu. Kita bertemu mereka untuk meminta izin berbulan madu supaya kegiatan kita di sana mendapatkan berkah dan tentunya sekalian meminta doa agar kita segera memiliki momongan."
Alana mengangguk tersenyum manis. Dia bergeser duduknya menjadi di dekat Tristan kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak suaminya.
"Aku ikut apa kata kamu saja."
Tristan pun menautkan tangan keduanya lalu mengecup punggung tangan Alana penuh perasaan. Lalu menatap Alana penuh cinta. "Rasa sangat sayang banget sama kamu. Tetap bersamaku dalam keadaan suka maupun duka. Aku mencintaimu, Alana."
Alana tersenyum, "Aku juga mencintaimu Tristan. Tetaplah bersamaku dan tetaplah mencintaiku serta menerimaku dalam keadaan apapun."
Tristan membalas senyuman Alana kemudian mendaratkan kecupan mesra di kening Istrinya. Perlahan, dia melepaskan kecupan itu lalu menatap dalam bola mata indah istrinya. Tristan menutup laptopnya kemudian menyimpan kembali ke atas meja samping tempat tidur. Dan beralih memandangi wajah cantik Alana yang kian hari kian semakin glowing.
Tatapan keduanya saling memandang, Tristan membaringkan Alana secara perlahan seraya menikmati bibir indah milik sang istri. Perlahan namun pasti, keduanya menikmati indahnya surga dunia penuh nikmat disertai kebahagiaan hingga menjelang siang.
******
"Ingat ibu juga kamu? Kirain ibu udah lupa." baru saja Diana tiba di rumah ibunya, dia sudah disambut oleh ucapan ketus dari sang ibu.
"Ibu apa kabarnya?" Alana bertanya sambil mengulurkan tangannya mencium tangan sang ibu. Di susul oleh Tristan yang juga menyalami mertuanya. Mereka tidak ingin berdebat panjang. Alana males meladeninya
"Baik," jawab Dewi singkat seraya masuk ke dalam.
Alana menghelakan nafas, ini adalah hal yang paling tidak disukai olehnya. Sikap dingin sang Ibu membuat dia tidak ingin kembali berjumpa. Bukan karena tidak menghormati tetapi sifat ibunya masih saja ketus dan sedikitpun tidak mempedulikan Alana.
Tristan dan Alana masuk ke dalam mengikuti Dewi. kemudian keduanya duduk tanpa dipersilahkan dulu.
"Kedatangan kami ke sini ingin berpamitan kepada Ibu dan sekalian meminta doa untuk keberhasilan kita segera memiliki momongan," ucap Alana.
"Berpamitan? Emangnya kalian mau ke mana? Mau pergi dari sini? pergi ke mana? dan ngapain juga Ibu harus memberikan doa kepada kalian? Memangnya mau dibayar berapa jika Ibu mendoakan kalian segera punya anak?" Dewi memberondong macam-macam pertanyaan aneh kepada anak dan menantunya.
Dan yang bikin membuat Tristan kesal, Dewi seakan menjual belikan sebuah doa untuk anaknya. Dia tidak habis pikir pada jalan pikiran wanita paruh baya ini. Bukannya mendoakan tapi malah meminta harga untuk sebuah doa.
Alana menghelakan nafas dia bingung, kenapa ibunya masih saja bersikap seperti ini? Padahal dia sudah tidak lagi tinggal barang Ibunya, sudah tidak lagi menyusahkan ibunya, dan tidak lagi membuat ibunya kesal.
"Kami ingin..."
"Emangnya berapa uang yang Ibu inginkan sampai menghargai sebuah doa untuk anaknya?" Tristan memotong ucapan Alana saking kesalnya kepada mertua mata duitan ini. Dia juga berpikir jika Dewi tidak akan pernah berubah karena mungkin saja sifat dan karakternya sudah mendarah daging terutama mata duitannya yang mungkin akan terus melekat pada diri Dewi.
Alana sontak menoleh begitupun dengan Dewi yang langsung menatap horor pada Tristan. Namun Tristan memandangnya tak kalah tajam.
"Memangnya kau akan memberikan uang berapa jika Ibu mendoakan kalian? Apa ketika saya meminta sejumlah uang dan kendaraan kau akan memberikannya?" pancing Dewi berharap menantunya memberikan apa yang sedang ia inginkan.
"Baik, saya akan memberikan kendaraan itu dan saya juga akan memberikan sejumlah uang satu miliar tapi dengan syarat, jangan pernah lagi mengganggu ataupun menemui Alana!" kali ini Tristan ingin egois mengenai Alana. Dia bisa menilai jika orang seperti Dewi akan terus meminta jika ada keinginan yang ingin digapai. Lebih baik menghindari daripada dirinya terus-terusan di paroti.
"Tristan..." Alana menatap sedih apabila hal itu terjadi. Tristan melirik serta menatap anak secara lembut penuh cinta. Dia pun menggenggam tangan sang istri.
Dewi diam memikirkan semuanya. Dalam hatinya berkata, "Jika saya meminta kendaraan meminta uang dan dia mau mengabulkannya berarti saya tidak usah lagi tinggal di gubuk reot ini. Saya bisa membeli rumah yang jauh lebih layak dan tentunya bisa menggaet pria kaya agar hidup saya semakin terjamin dan tentram sentosa. Ya, lebih baik saya terima tawaran Tristan."
"Ok, saya terima asalkan kau menambahkan uangnya menjadi 1,3 miliar."
"Apa?! Kenapa Ibu bicara seperti itu? ibu menjualku kepada Tristan? dan kamu juga Tristan, kenapa mau-maunya mengabulkan keinginan Ibu? sudah tahu ibuku ini matre dan dia tidak akan pernah puas jika bersangkutan dalam materi." Alana tidak mengerti pada pikiran keduanya. Di sini dia merasa menjadi barang yang sedang diperjualbelikan.
"Bukan begitu sayang..."
"Cukup!" Alana berusaha berdiri, "terserah kamu melakukan apa tapi jangan pernah ribetkan aku dalam urusan jual beli yang kalian lakoni. Aku bukan barang yang seenaknya kalian jual lalu kalian beli. Aku memiliki perasaan Bu, Tristan." Alana pun pergi dari sana dalam keadaan tergesa.
Tristan segera berdiri mengejar istrinya. "Sayang, maksudku bukan begitu. Aku tidak memiliki pikiran kesana, sayang." Tristan mencegah langkah Alana dengan cara menarik tangannya dan membawa Alana ke dalam pelukannya.
"Enggak mau, aku tidak mau di sentuh olehmu. Kalian jahat sudah bersikap seperti ini. Ibu juga tidak sayang aku, dia malah mementingkan uangnya daripada aku. Kenapa juga kamu ikut-ikutan seperti ibu?" Alana memberontak menangis dipelukan Tristan.
Rasanya sangat sesak dan sungguh membuat dia ingin menangis meraung menerima kenyataan jika ibunya malah menjual dan Tristan malah menerima itu semua. Dipikiran Alana saat ini keduanya sedang melakukan transaksi jual beli dan dialah yang menjadi barangnya.
"Sayang aku tidak membeli mu. Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk ibu bukan jual beli. Iya kan, Bu?" Tristan berharap mertuanya mengerti jalan pikirannya untuk tidak semakin membuat Alana bersedih.
"Ah iya, ibu juga tidak memiliki pikiran kesana
Ibu hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki uang banyak berkendaraan mewah."
"Bohong... ibu bohong, ibu menjual aku pada Tristan hiks hiks..." Alana menatap sedih wajah ibunya.
"Ada apa ini? Kenapa Alana menangis?"
Bersambung....