
"Lebih baik aku mati daripada hidup seperti ini!" teriak Lisa prustasi tidak tahu lagi kemana ia meminta perlindungan. Tidak ada lagi tempat ia mengadu, tidak ada lagi orang yang peduli akan dirinya. Semuanya telah sirna.
"Nona, turun! Apa yang kau lakukan?" teriak salah satu pria yang ada di sana penuh ke khawatiran.
Lisa sudah berdiri di atas pembatas jembatan bersiap melompat dari ketinggian. Rasa sesalnya begitu menyeruak ke relung hati. Hidupnya sudah tiada guna lagi, ia ingin mengakhiri hidupnya di karenakan tidak adalagi yang orang yang peduli padanya.
"Lisa turun!" teriak Tristan segera berlari mendekati mantan kekasihnya.
Meskipun Lisa pernah berbuat salah, tapi Tristan tidak tega melihat wanita itu prustasi dan berbuat bunuh diri. Instingnya sebagai manusia harus menolong Lisa.
Lisa menoleh ke asal suara. Mata sayu dan sembabnya membola mengetahui siapa yang mencegahnya. "Tristan, kau pasti puas melihatku hancur bukan? Aku akan mengakhiri hidupku agar kau lebih puas lagi!" pekik Lisa malah semakin menjadi tak terkendali.
Sehabis meeting dengan klien nya, Tristan kebetulan lewat jembatan itu dan melihat seorang wanita nekat ingin melompat ke sungai. Tristan tentu kaget mengetahui siapa yang ingin lompat. Tristan pun segera memberhentikan mobilnya dan menghampiri kerumunan.
"Otakmu dimana Lisa? Kau ingin bunuh diri atas kesalahan mu sendiri? Kau bodoh, Lisa. Meskipun kau mati hidupmu tidak akan tenang. Aku pun tidak puas melihatmu mati seperti ini. Justru aku merasa sedih kalau sampai kau nekat seperti ini. Turunlah!" Tristan mencoba membujuk Lisa turun dan melontarkan kata-kata pedasnya. Dia mengulurkan tangannya berusaha membujuk berharap Lisa menerima uluran tangan tersebut.
"Hei bung, kenapa kau malah bicara seperti biru? Kau malah terkesan tidak ingin membujuk dia tapi malah membuat dia semakin menjadi," seru salah satu dari mereka yang merasa heran atas perkataan Tristan.
Tristan hanya menoleh saja. Lagian dia benar kok, meskipun Lisa mati bunuh diri itu tidak akan puas setelah apa yang dilakukan kemarin. Menggagalkan rencana indahnya bareng istri.
"Tidak! Aku lebih baik mati daripada hidupku seperti ini!" teriak Lisa menolak tegas ajakan Tristan. "Aku ingin mati!" pekiknya nekat melompat dari atas jembatan ke sungai yang terlihat dalam.
"Lisa...!" teriak Tristan terkejut atas tindakan yang Lisa lakukan.
Grep...
Untung saja ada tangan kekar mencoba menggapai tangan Lisa. Tristan menoleh kesamping, matanya membola mengetahui siapa pria itu. "Dimas...!"
"Bantu saya menarik dia! Malah bengong saja kau ini. Dia berat tahu, kebanyakan dosa di cewek," seru Dimas kesal sebab Tristan dan yang lainnya malah diam menonton.
Inilah warga negara Indonesia, banyak orang yang kurang peduli pada sekitarnya tetapi peduli pada ponselnya. Mereka justru mengabadikan momen menegangkan ini di berbagai media sosial. Bukannya membantu malah merekam. Ck, dasar netizen yang budiman.
"Ah iya." Tristan pun kembali mengulurkan tangannya menatap ke bawah. "Pegang tanganku, Lisa! Ayo naik."
"Lepaskan saya! Saya ingin mati saja, dia tidak mau tanggungjawab atas anak ini. Saya mau mati," teriaknya mencoba melepaskan cekalan Dimas dan menolak ukuran tangan Tristan.
"Hei, bodoh. Kalau kau prustasi karena pria brengsek itu kenapa tidak kau bunuh saja dia! Menyusahkan sekali pakai acara hendak bunuh diri segala. Di jembatan lagi, kenapa tidak kau bunuh diri gantung diri saja di pintu rumah," seru Tristan mengompori Lisa.
"Hei suaminya Alana, kalau kau ingin membantu jangan mengompori nya begini. Buruan bantu saya, pegal ini," ujar Dimas menahan pegal di tangan akibat mempertahankan tangan Lisa.
"Ogah, dia saja mau mati ya, biarkan saja dia mati. Biar hantunya tidak di terima di bumi di langit. Biar dia jadi hantu gentayangan." Tristan menarik lagi Iran tangannya. Dia malah menyenderkan punggungnya di penyangga jembatan seraya bersidekap dada.
Orang-orang justru malah terkikik menyaksikan drama ini. Bukannya tegang malah berubah lawakan.
"Lisa, sudah belum dramanya? Yakin mau mati konyol? Emangnya kau tidak ingin membuat kekasihmu itu menyesali perbuatannya? Emangnya kau mau membunuh anak tidak berdosa itu?" cerca Tristan dengan santai mengambil sebungkus nikotin kemudian menarik satu bayang. Lalu, dia mengambil korek api dan dengan santai menyulut nikotin tersebut.
"Kalian mau rokok?" tawarnya pada beberapa pengendara lainnya.
"Emangnya boleh? Ini rokok paling mahal."
"Tentu saja boleh, nih ambillah!" Tristan memberikan rokok tersebut pada pengendara lainnya.
"Hei suaminya Alana, bagi-bagi dong rokok mahalnya." Dimas ingin melepaskan tangan Lisa membuat wanita itu terbelalak dan langsung meraih tangan Dimas.
"Jangan lepaskan tanganku. Aku belum siap mati." rengeknya melihat kebawah yang terlihat menyeramkan dimatanya.
"Katanya kau mau mati. Takut? Atau belum siap masuk neraka?" sahut Tristan menyesap nikotin tersebut hingga keluar asap dari mulut dan hidungnya.
"Banyak ngoceh lu, buruan bantu gue naik ke atas. Gue belum siap mati sekarang sebelum Rafael menyesal," seru Lisa berubah pikiran.
"Ck, menyusahkan." Balas Tristan mencebik kesal kemudian membantu Dimas menarik tangan Lisa.
Berhubung ini malam hari dan jalan sepi, jadi tidak terlalu banyak pengendara lain hanya orang-orang sekitar saja. Dan aksi Lisa di perhatikan beberapa orang saja.
Dimas yang hendak pulang pun tak sengaja melihat Tristan sedang membujuk seorang wanita. Tadinya ia begitu marah melihat suami Alana itu tengah berusaha membujuk wanita lain. Ia pikir jika Tristan sedang selingkuh dan wanitanya berusaha bunuh diri. Tapi ternyata dugaannya salah, Tristan malah terlihat biasa saja. Mau wanita itu bunuh diri ataupun tidak sepertinya Tristan tidak mempedulikan itu.
Setelah Lisa naik keatas, Tristan melepaskan tangannya dan membiarkan Dimas yang membantu.
"Sudah, kan? Kalau sudah aku mau pulang. Rindu istri, bye." Tristan pergi dari sana membiarkan urusan ini Dimas dan yang lainnya. Dia sudah tidak sabar ingin cepat sampai rumah dan melepas rindu pada istri tercintanya.
Lisa terhuyung ke depan, untungnya Dimas segera mencekal pinggang wanita itu.
"Kau tidak apa-apa?" Lusa menggelengkan kepalanya. Dan beberapa orang di sana menarik nafas lega Lisa terselamatkan.