My Imperfection

My Imperfection
Ingin Menikah



"Ada apa, Tan, malam-malam begini membangunkan Papa dan Mama?" Tanya Mama Jihan sambil tangannya menutup mulut yang sedang menguap.


Tidur mereka sempat terganggu oleh kebisingan yang dilakukan putranya. Di tengah malam waktunya mereka istirahat justru Tristan malah mengetuk-ketuk pintu kamar mereka.


"Kalau menguap jangan dulu bicara!" tegur Marko.


"Hehehe maaf, Pah."


Tristan menggelengkan kepalanya tersenyum tipis.


"Maaf kalau Tristan mengganggu tidur kalian. Tapi Tristan tidak bisa tidur sebelum menyampaikan maksud dan tujuan Tristan kepada Papa dan Mama." Duda berusia 31 tahun itu membenarkan letak duduknya menyandar di kursi sambil bersedekap dada.


"Emangnya apa yang ingin kau sampaikan kepada kami? Tidak bisa kah menunggu waktu siang hari?" tanya Papa Marko.


"Justru itu, Tristan tidak bisa tidur sebelum mengutarakan keinginanku kepada kalian."


"Ya sudah buruan, jangan bertele-tele! Dari tadi Mama ngantuk banget," balas Mama Jihan kembali menguap.


"Aku Ingin secepatnya menikahi Alana," ucap Tristan begitu yakin lantang dan penuh penegasan. Sesuai permintaan mamanya untuk tidak bertele-tele.


Dan pastinya perkataan Tristan barusan itu membuat Jihan yang tadi mengantuk menjadi tersadar karena terkejut.


"Are you serious?" tanya Mama Jihan dan Marko secara bersamaan.


"Aku serius Mah, Pah. Makannya malam ini juga Tristan berkata kepada kalian. Tristan sudah memikirkan matang-matang apa yang akan aku lakukan ke depannya, dan Tristan juga sudah yakin dengan pilihanku kali ini."


"Apa yakin itu kamu ingin menikahi Alana? jangan gegabah Tristan, pernikahan bukanlah hal yang sederhana seperti yang kau pikirkan. Apalagi baru saja dirimu putus dengan Lisa membuat Mama khawatir jika kamu hanya menjadikan Alana sebagai pelarian saja," kata Jihan.


"Benar, Tan. Papa mungkin menyuruhmu untuk mendekati Alana dan berharap kalian berjodoh, tapi tidak secepat ini juga. Yang Papa khawatirkan adalah kamunya belum siap untuk membuat Alana bahagia dan melindungi dia serta menerima dia dengan segala kekurangannya."


"Tristan sudah mantap memilih hati Tristan kepada Alana. Dan tentunya pengalaman-pengalaman pernikahan yang dulu Tristan alami menjadi pelajaran bagi Tristan untuk menjalankan biruk rumah tangga yang bahagia."


"Soal Lisa, Tristan akui kita memang baru saja berpisah tapi bukan berarti Tristan akan terus dihantui bayangan masa lalu karena yang Tristan tuju sekarang yaitu, membangun rumah tangga bahagia, aman, tentram dan sentosa. Sakinah mawadah dan warohmah."


"Dan pastinya hanya bersama Alana senjataku kembali normal seperti biasa," batin Tristan.


Marko menghelakan nafas. "Jika hati pikiran mu sudah yakin, Papa hanya akan mendukung keputusanmu. Dan jika nanti banyak orang yang mencemooh kalian, Papa harap kamu tidak akan pernah sedikitpun menyesal menerima Alana. Karena Papa ingin membuat Alana bahagia bisa berada di dalam keluarga kita.


"Mama juga berharap kamu mampu membuat Alana yakin kalau dia pantas untukmu."


"Aku akan berusaha untuk meyakinkan Alana."


"Jika kamu sudah siap segalanya Bapak dan Mama akan melamar Alana ke orang tuanya."


"Orang tuanya?" Marko dan Tristan kompak berucap. Sepertinya kedua pria itu melupakan sesuatu kalau anak-anak masih memiliki orang tua meskipun orang tuanya tidak mengakuinya.


Mama Jihan menatap heran silih berganti wajah kedua pria berbeda generasi. "Kenapa kalian kaget? Benar kan, kalau kita akan melamar Alana ke orang tuanya? Dia kan masih punya ibu dan otomatis kita harus datang ke rumah Alana, dong."


"Ah, Mama benar. Aku sampai tidak memikirkan hal itu, yang aku tahu melamar Alana kepada kalian." Semenjak Alana tinggal di rumahnya, Tristan tidak memikirkan hal lain lagi selain Alana sudah resmi menjadi anggota keluarga mamanya. Niat membangunkan kedua orang tuanya atas dasar untuk melamar kepada mereka.


"Papa juga lupa jika dia masih memiliki orangtua. Ya, mau gimana lagi? Tentunya harus datang ke rumah mereka." Terlihat helaan nafas berat Marko tunjukan.


"Berarti besok kita harus datang ke rumah Alana?" tanya Tristan memastikan.


"Iya, karena hanya kepada orangtuanya kita berhak memintanya," jawab mama.


"Meskipun dia tidak memberikan izin, Papa yang akan menikahkan kamu dengan Alana. Biar Papa yang menjadi walinya, sebab Alana karena sudah tidak memiliki keluarga lain selain ibunya dan kakaknya," timpal Marko.


"Ok, aku setuju. Enggak dapat izin pun aku tidak peduli. Yang penting nikah sama Alana." Tristan berdiri.


"Aku mau lanjut bobo cantik, ah. Alana kau lah pilihannya." gumam Tristan begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya setelah mendapatkan keputusan.


"Ck, anak kurang ajar. Setelah mendapatkan pencerahan mah langsung pergi begitu saja," umpat Marko. Kemudian menarik Jihan ke dalam dekapannya.


"Marko...!"


"Sssttt diam! Aku lagi mau menengok mu." Marko malah menggerayangi tubuh istrinya.


"Besok jam be..." Tristan terbelalak melihat mama dan Papanya saling tumpang tindih.


"Tristaaaaaan....!"


Blug....


"Sorry, Pah, Mah, lanjutkan...!" balas Tristan setelah menutup pintu kamar orangtuanya.


"Bisa-bisanya aku melihat mereka bercumbu, dasar orang tua gak punya akhlak."


Tristan cuman mau menanyakan jam berapa mereka ke rumah Alana tapi malah melihat orangtuanya saling bercumbu. Untungnya mereka masih memakai baju, kalau tidak, behhh malunya bukan main.


Tristan melanjutkan langkahnya namun ia malah berjalan ke dapur ingin mengambil minuman. Saat tiba di sana, dia mengerutkan keningnya melihat seseorang tengah mengendap-ngendap di dekat lemari dingin.


Lampu temaram tidak memperlihatkan wajah siapa orang itu. Tristan semakin mendekat, dia ingin tahu siapa orang itu. Karena yang ia tahu Andrian dan Kanaya sudah pulang, begitupun dengan Ariel yang juga pulang ke rumah ibunya.


Senyumnya menghiasi bibirnya ketika mengetahui siapa yang ada di sana.


Orang itu tengah berdiri menutup kulkas. Dia berbalik tepat di saat Tristan mengagetkannya.


"Heeii...."


"Aakkhhh..." Prang...


Gelas yang di pegangnya terlepas dan pecah.


"Ya ampun..! Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanku." Alana mendongak, dia kesal di kaget kan seperti itu.


"Bisa tidak untuk tidak mengagetkanku? Untung jantungku tidak copot, kalau copot mati aku. Malam-malam begini malah mengagetkan ku. Bapak sedang ngapain di sini?" Oceh Alana kesal.


"Jangan mati, dong. Kalau kamu mati aku bagaimana? Kan belum nikah, belum kuda-kudaan, masa sudah ditinggal mati."


Alana mengernyit tidak mengerti. "Siapa yang akan nikah dan main kuda-kudaan? Bapak aneh deh, omongannya suka ngaco." Alana belum mengerti maksud perkataan Tristan. Dia perlahan berjalan menghindari pecahan beling.


Tristan dengan sigap membopong Alana agar gadis itu tidak menginjak beling.


"Pak...!"


"Takutnya kaki kamu terluka." Kemudian Tristan mendudukkannya di kursi. Lalu menyalakan lampu dan mencari sapu.


Alana memperhatikan Tristan yang tengah membersihkan pecahan tersebut. "Kenapa Bapak begitu baik padaku? Bagaimana kalau aku jatuh cinta pada Bapak? Aku takut untuk jatuh cinta lagi setelah pengkhianatan Dimas," ucap Alana jujur membuat Tristan menoleh.