
Seorang istri sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya. Dia malu karena sudah mengungkapkan rasa rindunya kepada Tristan. Tapi, hatinya tidak bisa di bohongi jikalau dia memang merindukan sang suami.
Suami yang ternyata sudah masuk ke dalam relung hati menyisakan rasa cinta tanpa terasa mengisi seluruh hatinya. Suami yang begitu perhatian dan mau menerima dia dengan segenap hati. Suami yang ternyata ia cintai.
Padahal, Alana tahu jika dulu ia pernah mencintai pria lain tapi kini, hatinya sudah sepenuhnya berpaling kepada Tristan.
"Hmmm aku ingin memberikan kejutan buat Tristan. Tapi, aku malu." lirihnya terduduk bingung antara memberikan kejutan dan juga tidak sama sekali.
"Malam yang panas, aku ingin memberikan itu." gumam Alana menggigit bibir bawahnya meringis membayangkan malam indah penuh keringat bersama suaminya.
Alana berdiri mendekati lemari pakaian, dia mencari barang yang pernah di berikan Kanaya. Alat makeup, baju jaring laba-laba yang menggoda, serta buku panduan memuaskan hasrat suami supaya tidak beralih mencari kepuasan di luaran sana.
Lebih baik mencegah daripada mengobati, begitu pepatah lamanya. Lebih baik berjaga-jaga dan waspada daripada terlanjur mencari kenikmatan di luaran sana, begitu pikir Alana saat ini.
Dia memperhatikan gaun malam transparan di tangan kirinya. Sejenak ia bergidik ngeri melihat gaun bagaikan jaring laba-laba itu. Dia memperhatikan warnanya yang mencolok terkesan berani.
"Iihh ini sangat menggelikan? Tapi aku ingin mencobanya. Ayo Alana, kamu bisa." Alana menyemangati diri sendiri untuk mencoba gaun malam itu.
Perlahan, dia mengganti pakaian yang di kenakannya. Di saat sudah selesai, dirinya memperhatikan penampilan diri sendiri. Sungguh menggelikan di matanya. "Aku seperti wanita penggoda," lirihnya sambil meneliti penampilan dia dari atas hingga bawah.
Alana pun melepaskan ikat rambutnya hingga surai panjang sepinggang itu menjuntai begitu indah. "Ayo, Al. Demi suamimu kau harus tampil cantik, mempesona, dan hot."
Tapi Alana menunduk malu.
Alana pun duduk di depan meja rias, dia mengambil berbagai macam alat makeup kemudian memoleskannya ke wajah secara natural. Kini, penampilan Alana sudah berbeda, jauh lebih cantik.
"Sempurna. Tristan pasti menyukai kejutan ini," gumamnya sambil berdiri berjalan mendekati jendela kamar ingin melihat suaminya.
Jantungnya berdegup kencang menyadari mobil Tristan sudah tiba di pekarangan rumah. Bahkan, dia juga mendengar suaminya berteriak memanggilnya.
"Aku di sini, Tristan. Aku menunggumu."
*****
"Sayang, aku pulang. Kamu dimana, sayang?" baru saja membuka pintu rumah sudah berteriak memanggil istrinya. Tristan tidak sabar ingin bertemu Alana untuk memberikan kabar bahagia yang ia rasakan.
Tristan melepaskan kancing kemejanya, dia juga menyimpan tas kerja di atas sofa ruang tamu lalu membuka kemeja yang ia kenakan sampai menyisakan kaos putih menutupi tubuh kekarnya. Dan di simpan sofa.
"Alana sayang, aku sudah pulang." panggilnya kembali berteriak. Bukannya segera masuk ke kamar, Tristan malah belok ke dapur mengambil minuman.
"Neng Alana sedang istirahat di kamar, Den." Jawab Bi Surti keluar dari kamar mandi bagian dapur.
Tristan menoleh, "Oh, kalau gitu aku ke kamar dulu."
"Tapi ini makanannya bagaimana? Ini neng Alana yang memasak!" bi Surti bingung dengan makanan seenak ini.
Tristan melihat makanan itu, "Nanti kita turun. Sekarang bibi makan duluan saja di sini. Aku udah tidak sabar mau bertemu istrimu." Tristan pun langsung beranjak dari sana.
Tristan mengerutkan keningnya tidak melihat keberadaan Alana. "Sayang kamu dimana?" Tristan menutup pintunya dan masih belum menyadari Alana. Bahkan saat mengunci pintu pun ia tidak menyadarinya.
"Kemana Alana? Tidak ada suaranya," gumam Tristan kembali membalikan badannya. Namun, saat berbalik ia di kagetkan oleh tangan yang memeluk perutnya.
"Aku disini, Tristan." Alana menyenderkan kepalanya ke punggung Tristan.
Pria itu tersenyum, dia mengusap tangan Alana yang melingkar di perutnya. "Rupanya kamu bersembunyi di belakangku." Tristan ingin berbalik tapi di cegah.
"Biarkan sejenak seperti ini." Tristan pun diam membiarkan Alana memeluknya dari belakang. Setelah merasa kakinya mulai bereaksi, Alana melepaskan pelukannya.
"Ssttt..." Alana meringis sakit. Baru lah Tristan berbalik menyadari kalau istrinya pasti tidak menggunakan tongkat.
"Sayang ka... mu..." namun, Tristan di buat mematung melihat perubahan Alana. Sangat cantik sekali. Meskipun hari biasanya memang sangat cantik, tapi ini jauh lebih mempesona membuat Tristan terhipnotis.
Alana tidak kuat menahan sakit di kaki hingga akan terjatuh dan untungnya Tristan segera menarik pinggang Alana dan langsung membopongnya.
"Kalau tidak kuat lama-lama berdiri kenapa tidak menggunakan tongkat saja." Omelnya sambil mendudukkan diri dan membawa Alana duduk di pangkuan dia.
"Aku hanya ingin menyambut kamu dengan pelukan," jawabnya mengerucutkan bibirnya sambil menunduk.
Tristan memperhatikan wajah sang istri, turun ke bawa dan... Glek... tenggorokan Tristan terasa tercekat memandangi keindahan di hadapannya. Jakunnya seakan sulit menelan ludahnya sendiri.
"Sayang, kamu cantik dan sexy." bisik Tristan mengecup lembut telinga Alana. Dan itu membuatnya bersemu merah menunduk malu.
Tristan mengampit dagu Alana menariknya ke hadapannya. Hingga kini wajah mereka saling berhadapan. "Jadi kamu mau memberikan kejutan ini untukku?" Alana mengangguk tidak berani menatap Tristan.
"Kenapa menunduk hmmm? tatap aku!" Alana menggelengkan kepalanya. "Malu," jawabnya memeluk Tristan menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Tristan.
Tristan semakin dibuat gemas, "Kenapa harus malu? Kan kita cuman berdua saja di dalam kamar. Tidak ada yang lain, sayang."
Tristan membalas pelukan Alana, tangannya mengusap rambut panjang sang istri. Tristan melonggarkan pelukannya menangkup wajah Alana. Dia menyelipkan rambut yang menghalangi wajahnya Alana ke telinga. Alana memberanikan diri menatap mata suaminya.
Dia yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah. Dia meraba wajahnya takut ada yang aneh.
"Ka-kamu kenapa menatapku seperti itu? ada yang aneh ya, dengan wajahku?" tanyanya menghindari tatapan Tristan yang terlihat berbeda. Tristan menggeleng.
"Kamu cantik, aku bahagia dan beruntung bisa memilikimu." tuturnya begitu lembut dan terdengar tulus.
Wajah Alana kembali bersemu merah, ia ingin menunduk namun jari-jarinya menahan dagu itu dari bawah. "Aku mencintaimu."
Tristan pun mengecup lembut bibir Alana penuh damba. Dia yang sudah normal kembali ingin lagi dan lagi membawa buayanya berenang kembali.
Tangan yang tadinya diam meraba setiap inci tubuh sang istri. Bibir yang tadinya hanya mengecup berubah menjadi ******* menggebu tiada henti. Keduanya yang tadinya duduk sudah terbaring di pembaringan melakukan pemanasan sebelum berperang.
Alana yang tengah terpejam menikmati setiap sentuhan Tristan melenguh mengeluarkan irama merdu nan menggoda telinga suaminya. Permainan yang tadinya biasa saja menjadi brutal di saat Tristan tak bisa lagi menahan gejolak hasrat menggebu. Dengan semangat 45, Tristan terus bergerak cepat untuk mengeluarkan bibit-bibit unggul penerusnya. Hingga keduanya sama-sama terkapar dalam keringat membasahi tubuh. Mereka menikmati malam indah penuh nikmat disertai kebahagiaan hingga menjelang pagi.