My Imperfection

My Imperfection
Salah paham



Alana menghelakan nafas berat. Dia memilih meninggalkan tempat itu dan kembali lagi menemani Ariel di taman belakang. Namun, pikirannya terus tertuju pada suaminya.


"Bunda, coba lihat. Kucing nya sangat rakus sekali makannya." Celoteh Ariel mengalihkan Alana.


Dia tersenyum berusaha menyembunyikan kerisauan dalam hati atas kedatangan mantan kekasih suaminya.


"Kucingnya terlihat gembul makan. Pantas saja tubuhnya gemuk sekali."


Sedangkan di dalam.


"Sekarang kamu duduk dulu, tenangkan dulu dirimu." Tristan melepaskan pelukannya kemudian menggiring Lisa untuk duduk. Diapun ikut duduk di hadapan Lisa dengan tubuh condong ke depan menekuk sikutnya di paha.


"Sekarang coba jelaskan, kenapa sampai bapakmu tega memukul anaknya sendiri?" tanya Tristan penasaran.


Dia tidak menyangka seorang ayah bisa memukul putrinya sendiri. Dilihat dari luka memar yang Lisa dapatkan dari wajahnya terlihat seperti pukulan, bahkan ada cap merah di pipi seperti tamparan.


"Seperti biasa, Papa menyuruhku menikah dengan orang yang jauh lebih kaya dan menuntutku untuk cepat memiliki momongan. Aku tidak bisa terus-terusan mengikuti perintahnya sedangkan hatiku sendiri tidak ingin menikah dengan orang pilihan papa ku. Aku sudah memiliki pilihan sendiri dan aku yakin jika pilihanku tidaklah salah."


Tristan hanya menatap memperhatikan Lisa dengan tatapan sulit di artikan. Namun hatinya berkata, "Pria yang waktu itu kau pilih sampai rela menolak lamaran ku." Dia masih ingat pertengkaran Lisa dengan seorang pria yang bilang jika dirinya rela meninggalkan Tristan demi pria itu.


"Lalu, siapa pria yang sedang kau perjuangkan dan kau yakini jika pria itu terbaik untukmu?" tentu Tristan penasaran. Penasaran ingin tahu lelaki mana lagi yang akan Lisa dekati.


Nampak Lisa mendongak menatap dalam mata Tristan. Dia memberikan sorot mata terluka dan penuh damba pada pria di hadapannya.


"Kamu.." Tristan terperangah. Dia sampai menegakkan duduknya.


"Kamu pria yang ingin ku perjuangkan. Aku ingin kembali lagi sama kamu. Kamu masih mencintai ku kan? Ayo kita menikah dan tunjukan pada papaku kalau kamu itu kaya, dan juga pasti kita bisa secepatnya memiliki momongan," Lisa berharap Tristan mau kembali padanya. Dia menyesal telah melepaskan pria baik dan bertanggungjawab seperti Tristan demi pria yang sangat arogan dan tukang selingkuh.


Lisa yakin jika Tristan masih mencintainya dan dia juga yakin kalau Tristan mau melanjutkan kisah mereka yang sempat tertunda.


"Kamu yakin? Bukan kah kamu bilang kalau kita tidak mungkin bersama karena aku ini mandul? Kenapa sekarang malah bilang begini?" Tristan di buat bingung dengan pemikiran Lisa yang seolah melupakan penolakannya.


"Itu kan dulu, Tristan. Sekarang aku tidak memikirkan itu. Aku mau kita bersama lagi." Lisa berdiri mendekati Tristan. Dia sampai berjongkok di hadapan Tristan. "Mau kan?"


Tristan berdiri enggan melihat Lisa. Dia menjadi semakin tidak menyukainya. "Maaf, aku tidak bisa."


Lisa berdiri. "Kenapa? Kita pasti bisa kembali bersama. Aku menyukaimu dan kamu pun masih menyukai ku. Ayo menikah." Ajak Lisa memaksa Tristan untuk menikah dengannya.


"Kamu masih mencintaiku, kan?"


Tristan semakin di buat heran, tiba-tiba Lisa begitu kekeh untuk menikah dengannya. Aneh bukan. Tiba-tiba Lisa kembali memeluk Tristan dari belakang.


"Lisa..! Apa-apaan kau ini, lepaskan!" Tristan berusaha melepaskannya. Dia tidak mau membuat kesalahpahaman di mata orang-orang sini.


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu bilang kalau kamu masih mencintaiku." Lisa semakin mengeratkan pelukannya enggan melepaskan Tristan.


"Lepaskan Lisa!" sentak nya mencoba membuka tangan Lisa yang sedang erat memeluk pinggangnya.


"Tidak akan sebelum kamu menjawabnya!" Lisa kekeh akan pendiriannya ingin mendengarkan kata cinta lagi dari Tristan dan ia yakin akan hal itu.


"Ariel, bunda ke depan dulu, ya. Kamu tunggu ke di sini."


"Iya, Bunda." Jawab Ariel mengangguk.


Alana kembali berjalan ke depan. Dia mencari keberadaan Bi Surti untuk menanyakan yang terjadi di depan. Sedangkan bi Surti ada di lantai atas sedang menyetrika baju. Pada akhirnya Alana ke depan sendiri.


Ariel, bocah lelaki yang peka dengan sikap Alana sedari tadi tidak ceria menjadi penasaran penyebabnya. Dia pun diam-diam mengikuti Alana dari belakang dan ingin tahu apa yang terjadi di depan.


Setibanya di pintu menuju ruang tamu, Alana mematung terkejut atas apa yang ia lihat. Dadanya semakin sesak saja, hatinya kecewa, matanya ikut berembun atas apa yang barusan ia dengar.


"Iya, aku memang mencintaimu..."


"Ayah..." Ariel memekik di balik tubuh Alana. Bocah kecil itu mengepalkan tangannya menatap tajam ayahnya tengah di peluk wanita lain.


Tristan menolehkan kepalanya ke samping. Dia terbelalak melihat Alana tengah berdiri menatap sedih, bahkan Alana menghapus air matanya secara kasar. "Tidak, dia salah paham," batin Tristan panik.


Dia melepaskan paksa pelukan Lisa bahkan mendorongnya ke belakang.


"Awws Tristan sakit." ringis Lisa terduduk di kursi, tapi Tristan tidak peduli.


Alana cepat-cepat pergi dari sana menuju kamar lewat lift supaya cepat sampai. Meski berjalan tertatih-tatih, Alana mencoba berlari. Hatinya sakit atas pengakuan suaminya.


"Al, kau salah paham, sayang." Tristan mencoba mengejar tapi Lisa menarik tangannya.


"Siapa dia, Tristan?"


Tristan menghempaskan tangan Lisa menatap tajam kearah nya.


"Kau..! Aku memang mencintaimu tapi itu dulu sebelum kau menolak lamaranmu. Sekarang aku tidak lagi mencintaimu, aku sudah menikah dan jangan pernah lagi kau mengharapkan ku. Aku muak dengan tampang polos palsu mu itu!" sentak nya marah. Itulah yang ingin Tristan ucapkan. Namun, kesalahpahaman lebih dulu menghampiri.


"Apa..!? Me-menikah?" Lisa syok mengetahui Tristan sudah menikah. Kapan? Dengan siapa? Lisa bertanya-tanya.


Tristan segera berlari ke kamar mengejar istrinya. Dia sempat menatap putranya. Namun, Ariel justru membuang muka kesal dan marah.


Anak kecil itu mendekati Lisa menatap tajam wanita yang akan menyakiti bundanya.


"Hei Tante jelek, mending tante pergi saja dari rumah Ayah! Di sini tante tidak diinginkan kehadirannya, di sini tante hanya jadi pengganggu ketenangan rumah ini saja." Pekik Ariel bertolak pinggang kesal bercampur marah pada wanita yang sudah mengusik ketenangan rumah Ayahnya.


"Hei bocah, siapa kau berani mengatur mengatur saya? ini rumah kekasihku seharusnya bocah ingusan seperti mu yang pergi dari sini!"


Ariel mengepalkan tangannya. Dia mengambil air minum kemudian menyiramkannya ke wajah Lisa. "Aku, Ariel Delano Lewis. Mau apa hah? Mau marah? Ayo, siapa takut. Justru Tante jelek akan di sebut gila meladeni anak kecil sepertiku."


Lisa semakin di buat terkejut nama akhir Tristan tersemat di belakang bocah ini. "Kau.." Lisa kesal, dia berdiri mengusap wajahnya secara kasar lalu mengambil tasnya dan pergi dari sana.


"Aduh, Den kecil, maaf bibi telat memisahkan."


Ariel menoleh dan mencebik.