
Seperti rencana awal, Tristan mengambil uang sebesar 1,3 miliar di bank dan menunjukannya di depan Dewi, Yanto dan tentunya di depan istrinya sendiri.
Malah, kini mereka bertiga bengong menyaksikan uang sebanyak itu di dalam koper besar.
"Ini beneran isi duit semua kan? Bukan kertas biasa berupa duit mainan?" tanya Dewi masih tidak percaya a jika dia bisa melihat uang sebanyak itu di hadapannya.
"Iya, Tan. Ini uang kan? Bukan daun berubah jadi uang sebanyak ini?" timpal Yanto yang juga terkejut melihat uang sebanyak itu.
"Ya iyalah ini uang. Masa daun pisang." balas Tristan sewot.
Alana diam menatap takjub uang yang sedang di pegangnya. Dia juga baru pertama kali melihat uang sebanyak itu dan untuk pertama kali juga menyaksikan sendiri seberapa banyak uangnya yang ada di hadapan dia.
"Tristan, kamu sungguh kaya banget ya? Uang segini banyak ada di bank segala." Alana menatap kagum suaminya.
"Ini bukan milikku tapi hanya titipan dari Allah untukku kelola sebaik mungkin. Tetap saja di hadapan tuhan mah aku tidak memiliki apapun selain jiwa raga diri ini." Tristan merendah karena memang dia tidak memiliki apapun selain badannya. Dia juga tidak ingin menjadi sombong dan lupa diri di saat dirinya sukses begini.
Alana menatap kagum pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dia tidak menyangka jika Tristan sungguh suka merendah tidak pernah memamerkan kekayaannya. Dan itu menjadi daya tarik sendiri bagi Alana.
"Kau sungguh luar biasa Tristan. Aku mencintaimu, sangat sangatlah mencintaimu." Alana mencoba berdiri memeluk Tristan yang sedang berdiri memegangi tutup koper.
"Benarkah kau mencintaiku?" tentu Tristan sangat bahagia jika Alana juga mencintainya. Tidak akan pernah ada lagi wanita yang Tristan cintai selain Alana dan mamanya.
Tristan juga membalas pelukan Alana mengusap lembut rambut istrinya seraya mengecupi pucuk kepala sang istri.
"Tentu, Tristan. Kamu memang pria yang aku cintai saat ini, besok dan selamanya. Jangan tinggalkan aku, tetaplah bersamaku menjadi imam sekaligus ayah buat anak-anak kita kelak." Alana memeluk erat suaminya menunjukan jika dialah pemilik Tristan.
Yanti dan Dewi memperhatikan interaksi keduanya. Yanto bersyukur jika putrinya mendapatkan pria yang bisa menerima segala kekurangannya dan mencintai Alana sepenuh hati.
Dewi, dia tak bisa berkata apa-apa di saat Alana bahagia. Hati kecilnya selalu mendoakan yang terbaik buat Alana. Biarlah dia di cap menjadi ibu kurang ajar asalkan Alana tersenyum bahagia bersama pilihannya.
Untuk sejenak, Alana dan Tristan saling memeluk satu sama lainnya menunjukan rasa sayang yang mereka rasa lewat pelukan. Hingga dimana Alana mencium bau sesuatu di dalam tubuh Tristan.
Alana pun melepaskan pelukannya. "Tristan, bau apa ini?" Alana mengendus-endus tubuh suaminya dan seketika rasa berbeda dengan gejolak ingin muntah menyerangnya.
"Kweeeek... kkhwweeeek... kamu bau ih." Alana sedikit mendorong dada Tristan dari hadapan. Dia juga memencet hidungnya berharap bau itu tidak terendus olehnya.
Tristan, Yanti dan Dewi saling menatap satu sama lainnya. Mereka heran karena hidung mereka tidak mencium bau apapun.
"Bau apa? Di sini tidak ada bau apapun? Mungkin hidung kamu bermasalah kali." balas Tristan merasa heran atas perkataan Alana. Dia juga mengendus-endus tubuhnya yang ternyata masih wangi maskulin.
"Tapi tubuh kamu bau ih. Bau banget. Kamu mandi sama, aku tidak mau ketemu kamu kalau masih bau begini." usir Alana menyuruh Tristan masuk ke dalam kamar.
Ya, mereka saat ini berada di kediaman Tristan sendiri. Pria itu mengajak Dewi dan Yanto mampir ke kediamannya sekalian mau menunjukan uang 1,3 miliar itu seberapa dan sebanyak apa.
"Tidak di endus juga kamu sudah wangi, Tan. parfum mu kan mahal dan wangi," ujar Yanto karena memang Tristan begitu wangi.
"Enggak, Pah. Tristan itu bau. Pokoknya Alana ingin Tristan mandi sekarang juga." Alana masih kekeh dengan kondisi hidungnya yang merasa Tristan bau.
"Kamu gak percaya aku ini wangi? Sini aku peluk kamu biar kamu tahu aku tuh tidak bau.' Tristan malah mendekati Alana kemudian berusaha memeluk istrinya.
"Tidak mau...! Kamu jauh-jauh sari aku, Tristan. Kamu itu bau." Alana menolak pelukan suaminya karena hidungnya merasa mencium aroma menyengat dari diri Tristan.
"Aku wangi sayang." Tristan memeluk Alana, malah pria itu juga menciumi Alana.
Alana semakin tidak nyaman dengan baunya. Dia berusaha lepas dari pelukan Tristan karena perutnya semakin bergejolak ingin muntah. Namun, kali ini bercampur pusing tak terkira membuat kepala Alana berputar.
"Tristan bau ih, lepaskan aku pusing." Alana melemah, dia tak kuat lagi menghirup aroma berbeda dari suaminya.
"Tidak akan, kamu aneh-aneh saja bilang aku bau. Aku ini wangi dan jangan pura-pura pusing, deh." Tristan memeluk tubuh Alana namun Alana tidak merespon karena wanita itu sudah terkulai lemah tak sadarkan diri dalam dekapan Tristan.
Tristan terdiam di saat tubuh Alana kian berat. Dia menunduk dan terkejut melihat istrinya terpejam.
"Sayang, kamu kenapa?" Seketika Tristan panik dan membopong Alana membawanya terbaring ke atas sofa.
Dewi dan Yanto ikut panik Alana pingsan. "Kenapa bisa pingsan begini sih? Kamu kekencangan kali peluk Alana nya." Dewi protes pada Tristan.
"Apa Alana saking pusing dan baunya mencium tubuh kamu sampai dia pingsan begini," timpal Yanto.
"Aku juga tidak tahu. Ini gimana? Apa yang harus ku lakukan?" Seketika Tristan tidak bisa berpikir jernih mengenai semuanya.
"Kamu panggil dokter saja untuk memeriksa Alana. Biar semuanya jelas apa yang terjadi pada Alana." usul Dewi diangguki oleh Yanto dan dan Tristan pun segera memanggil dokter.
Di saat panik begitu, Mama Jihan bertamu ke rumah Tristan.
"Tristan, Alana Mama datang bawa makanan buat kalian." terdengar Mama Jihan berteriak memanggil anak mantunya.
"Masuk, Mah. Tristan di dalam." jawab Tristan tak kalah kencang saking khawatir sama Alana sampai tidak menyambut kedatangan mamanya.
Jihan pun masuk kedalam setelah mendengar teriakan putranya. Namun, dia melotot kaget di saat melihat menantunya sedang pingsan tak sadarkan diri dengan kaki di gosok-gosok oleh Dewi. Tangannya di gosok-gosok oleh Yanto dan Tristan sedang berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan memegang ponsel berusaha menghubungi dokter yang tak kunjung bisa di hubungi.
"Aduh gustiiii... Anak mama kenapa pingsan begini?" Jihan sampai sedikit tergesa menyimpan barang bawaannya. Dia segera mendekati dan mendorong Tristan agar sedikit menjauh.
"Apa yang kamu lakukan pada Alana, Tristan?"