My Imperfection

My Imperfection
Pembicaraan Ariel dan Alana



Mama Jihan tidak main-main, ucapannya sungguh benar. Jika hari ini tengah dipersiapkan acara kecil-kecilan untuk acara esok hari. Acara di mana pernikahan sederhana antara Tristan dan Alana.


Pernikahan itu pun akan diselenggarakan di kediamannya Tristan. Awalnya Mama Jihan akan menyewa sebuah gedung untuk acara nya. Tetapi Tristan menolak karena ini bukanlah pernikahan pertama melainkan pernikahan yang ketiganya.


"Nggak Mah. Aku tidak ingin pernikahan yang mewah-mewah. Cukup sederhana saja asalkan sakral. Yang aku inginkan itu bukan hanya sekedar pesta pernikahan mewah melainkan keluarga yang bahagia aman sentosa sakinah mawadah dan warohmah. Tristan ini sudah menikah dua kali dan ini yang ketiga kalinya jadi Tristan rasa lebih baik uangnya kita kumpulkan untuk masa depan kita kelak." Tristan menolak tawaran Mama Jihan yang hendak menawarkan pesta pernikahan mewah di salah satu gedung.


"Tapi kan ini pernikahan pertama Alana, jadi semua orang harus tahu kalau Alana menikah. Supaya nanti mereka tidak mencoba mendekati Alana maupun dirimu."


"Justru, kalau pernikahan mewah di publish ke banyak orang, aku takutnya Alana merasa minder dan sakit hati dan aku tidak mau itu terjadi. Alasannya pasti banyak orang yang menatap Alana dengan tatapan berbeda. Mungkin karena merasa kurang pantas bersanding denganku, atau karena menilai kekurangan Alana dan aku tidak mau itu terjadi."


Jihan terdiam, dia berpikir kalau perkataan Tristan ada benarnya juga. Pasti semua orang tidak akan pernah sama dan pasti mereka akan menilai kekurangan seseorang dan pastinya itu akan menyakiti Alana sendiri.


"Baiklah, jika itu yang terbaik untuk Alana sendiri, Mamah akan menikahkan kalian di sini saja. Dan kamu juga beritahu orang tuanya Alana kalau besok anaknya menikah. Dia mau datang ataupun tidak, itu terserah dia, yang penting kita sudah meminta izin kepadanya." Balas Jihan berdiri dari duduknya menepuk-nepuk pundak Tristan.


"Mama harap kali ini adalah pernikahan kamu yang terakhir kalinya. Dan Mama sangat berharap kamu tidak mengulang lagi apa yang dulu kamu lakukan kepada mantan-mantan mu," nasihat Jihan mengingatkan putranya untuk tidak berbuat hal yang membuat kepalanya sakit hati.


Tristan mendongak dia mengangguk yakin. "Iya, Mah. Tristan janji tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dulu Tristan lakukan. Aku akan berusaha membahagiakan Alana dan menjaganya dalam suka maupun duka. Hari ini juga aku mau menemui ibunya Alana." Jihan mengangguk lalu keluar dari kamar Tristan.


*********


"Dewi, di mana Alana?" Pak Yanto langsung saja mencerca Dewi menanyakan Alana.


Dewi yang tengah mengunci pintu untuk pergi bekerja terperanjat kaget ada Yanto datang tiba-tiba di belakangnya.


"Yan, sabar dulu. Aku juga tidak tahu di mana Alana berada. Tapi yang pasti, aku janji akan memberikan dia kepadamu. Tapi kenapa kau malah meminta Alana? dia itu terlalu muda dan lebih pantas menjadi anakmu daripada istrimu." Dewi sebenarnya enggan menjadikan anaknya sendiri bahan pelunas hutang. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa membuat ia terbebas dari jerat hutang yang melingkarnya. Dia sampai membuat perjanjian dengan Yanto menyerahkan salah satu anaknya.


Berhubung Ica begitu menolak tegas permintaan Dewi, kini yang harus menggantikannya adalah Alana.


"Kau tidak perlu banyak tanya! yang penting kau memberikan Alana sekarang juga. Bukankah kau sudah janji akan memberikan Alana padaku? kenapa sampai saat ini dia tidak ada setiap ku datang ke rumahmu?"


Dewi diam, dia sedang mencari jawaban atas perkataan Yanto. "Alana sedang bekerja, dia tidak ada di rumah dan dia mengontrak. Makanya jarang pulang ke sini." Pada akhirnya jawaban itulah yang Dewi lontarkan.


"Di.." sebenarnya Dewi intan memberitahukan Alana berada. Iya tidak tega putrinya harus kembali merasakan sakit atad sikap ibunya sendiri.


"Jawab..! Dimana Alana bekerja?" tanya Yanto membentak Dewi agar wanita itu mau beritahukan di mana Alana berada.


"Di, di Toko Delano Fashion. Jalan raya Bandung-Cianjur," jawab Dewi yang pada akhirnya memberitahukan tempat kerja putrinya saat ini.


Yanto mengangguk, lalu dia pun pergi setelah mendapatkan informasi.


Dewi menghilangkan nafas beratnya. "Maafkan Ibu Alana, sekali lagi Ibu harus mengorbankan dirimu."


*******


Kediaman Tristan


"Tante, memangnya Tante mau sama Ayah Ariel? ayah itu orangnya nyebelin, dia suka usil, kadang kalau disuruh suka lelet, duda pula, dan sudah memiliki anak juga. Emangnya Tante mau jadi Mama tirinya Ariel? Ariel ini nakal loh tante, ditambah ada Andrew yang juga sering menginap di sini, pasti Tante akan pusing sama kelakuan kita berdua." Ariel, bocah 4 tahun itu begitu lancar bertanya kepada Alana mengenai kesediaannya menikah dengan ayahnya.


"Hei bocah, kenapa kamu malah bertanya seperti itu kepada calon istrinya Ayahmu? Bagaimana kalau dia jadi tidak mau sama ayahmu? ah berabe, nih." Seru Jennifer, adiknya Andrian yang juga tiba di kediaman Tristan.


Jenni, Ariel, Alana sedang berada di taman belakang rumah. Putrinya Jenni sedang bersama Kanaya. Jenni berkenalan dengan Alana dan berbincang-bincang di belakang. Lalu Ariel menyusulnya karena penasaran dengan wanita yang akan menikah dengan ayahnya. Berarti itu tandanya Alana akan menjadi ibu tirinya. Maka dari itu, bocah 4 tahun itu tengah melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus memberikan kekacauan apakah Alana benar-benar Mau sama ayahnya atau tidak?


"Ariel kan cuman bertanya apa yang ada di pikiran Ariel, tante. Ariel juga harus tahu yang akan menjadi nama tirinya Ariel. Karena aku tidak mau mendapatkan ibu tiri yang kejam seperti di sinetron-sinetron TV," keluh Ariel.


"Ck, masih bocah suka nonton sinetron, gak baik. Mending kamu nonton kartun saja sesuai dengan usiamu."


"Isshh... Tante Jennifer Geraldo, Ariel itu bertanya kepada tante Alana. Kenapa sedari tadi tante yang jawab sih? Bikin kesel saja Tante satu ini."


Jennifer tertawa melihat wajah kekesalan Ariel. Baginya bocah tampan yang mirip dengan Tristan itu begitu menggemaskan. Alana juga tidak kalah ikut tertawa. Dia menjadi berpikir jika ada anak kecil bersamanya pasti hari-harinya cukup menyenangkan tidak kesepian.


"Jadi gini, tante tidak keberatan menikah dengan ayahnya Ariel. Tante juga tidak keberatan Kalau nanti Ariel dan Andrew bermain dengan Tante. Justru tante akan senang jika itu beneran terjadi. Tante jadi merasa tidak akan kesepian lagi kalau ada kamu dan yang lainnya. Tante juga akan menerima ayahnya kamu dalam setiap kekurangannya. Karena tante sadar, tante juga memiliki ketidaksempurnaan. Tapi, Apa kamu mau kalau Tante Alana yang cacat seperti ini menjadi ibunya Ariel? Apa kamu tidak mau mempunyai ibu tiri yang jalannya tidak normal? Apa kamu tidak malu kalau suatu hari nanti kamu atau ayahmu akan di katai karena adanya Tante di antara kalian?"