
"Ada apa ini? Kenapa Alana menangis?" Yanto merasa heran melihat Alana menangis. Baru saja sampai rumah Dewi sudah mendengar keributan dan dia langsung cepat masuk untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Papa huuaaaa...Ibu dan Tristan jahat, mereka memperjual belikan aku." Alana semakin menangis meraung Alana menangis meraung mengadu pada Yanto tentang kejadian barusan. Alana juga mendorong tubuh Tristan sedikit tergesa mendekati Yanto kemudian memeluknya.
Deg...
Mereka semua cukup kaget melihat pergerakan Alana. Ini tidak seperti biasanya. Begitupun dengan Yanto merasa heran namun juga terharu bisa merasakan pelukan putri yang baru ia ketahui 26 tahun ini. Putri yang Dewi sembunyikan nya, putri yang hadir karena kisah masalalu antara dirinya dan Dewi namun kandas karena Dewi memilih pria lain yang jauh lebih kaya dibandingkan dirinya.
"Papa mereka jahat. Ibu menjual aku pada Tristan hiks hiks." adu Alana lagi menangis sesenggukan dalam pelukan pria dewasa yang ternyata merupakan ayah kandung Alana.
Yanto memperhatikan Dewi melotot tajam. Dia tahu maksud dari perkataan Alana. Pasti Dewi meminta sesuatu pada Tristan dan bersangkutan mengenai harta.
"Wi... kau masih saja matrealistis. Pasti kau meminta barang mewah pada Tristan dan Alana lah yang jadikan umpan." Yanto geram pada kelakuan Dewi yang semakin hari semakin menjadi. Semakin tua semakin tak bisa mengendalikan diri.
"Bu-bukan begitu. Aku hanya..."
"Hanya apa? Hanya karena Tristan kaya kau meminta barang mewah, duit banyak, apa lagi? Sadarkah kau jika Alana ini anak kandungmu. ANAK KANDUNGMU DEWI." Yanto menekan kata anak kandung saking geram pada sifat Dewi.
"Seharusnya kau sadar diri untuk menyanyanginya. Seharusnya kau memberikan perhatian kepada Alana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang darimu."
Dewi menunduk tak berani menatap Yanto, "Tapi itu semua demi keberlangsungan kehidupan ku. Apa salahnya jika aku meminta sebagian dari harta menantuku? Toh Tristan sangat kaya," balas Dewi tak sedikitpun merasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Alana.
"Harta, harta, harta yang kau pikirkan." sentak Yanto saking geram pada pemikiran Dewi. "Harta tidak menjamin semuanya, harta tidak akan di bawa mati, harta hanya titipan, dan harta bukanlah segalanya, Dewi."
"Ayo, Al. Kamu ikut Papa, biarkan ibu durjana mu ini sendirian. Jangan pedulikan dia jika dia kesusahan. Dan kau Tristan, berikan apa yang dia minta tapi jangan pernah lagi temui Alana."
"Kok gitu?" ucap Alana dan Tristan secara bersamaan terkejut atas perkataan Yanto.
Alana sampai mendongak dengan mata terbelalak masih dalam keadaan air mata berderai membasahi pipinya.
"Tidak mau!" jawab Tristan dan Alana bersamaan. Alana segera mendekati suaminya lalu memeluk Tristan. Tristan pun yang kini mengernyit tapi dia senang istrinya mau memeluknya. Dan itu tidak ia buang sia.
"Tidak mau. Aku maunya sama Tristan dan jangan pisahkan kami. Suruh saja Ibu yang pisah dari kami karena Ibu udah buat aku menangis begini," kata Alana manyun sambil memeluk erat suaminya.
Mereka yang ada di sana tercengang atas perkataan Alana barusan.
"Alana, aku ini ibumu. Mana mungkin Ibu pisah dari kamu?" Dewi tentu protes sebelum permintaannya disetujui oleh Tristan.
"Tadi ibu yang bilang tidak akan ganggu Kita lagi jika kita memberikan uang satu koma tiga milyar dan satu buah mobil mewah jika Tristan mau memberikannya." Alana mengungkit itu lagi.
"Itu kan pena..."
"Apa?! Satu koma tiga milyar?! nol nya berapa tuh? Gak salah kau minta uang sebanyak itu pada mantu kita?" Yanti terkejut mendengar nominal yang diminta Dewi. "Dan Tristan menyanggupinya?"
"Iya, Papa. Kan aku sebel diriku dihargai 1,3 miliar + 1 unit mobil mewah seharga kurang lebih ratusan juta, 'kan jadi itu duitnya banyak. Aku aja belum pernah lihat uang sebanyak itu." Alana tersungging eh tersinggung. Dia saja tidak pernah tahu uang satu miliar itu sebanyak apa.
"Jangankan kamu, Papa saja tidak tahu berapa nolnya dan segede apa uang segitu kalau ditumpukkan." Yanto jadi kepo ingin melihat uang sebanyak itu di depan matanya.
Tristan memijat pangkal hidungnya bingung kenapa orang jadi membahas masalah uang.
"Saya juga tidak tahu, makanya saya minta uang pada Tristan karena penasaran sebanyak apa uang itu?" timpal Dewi.
"Daripada kalian penasaran mending kalian lihat saja secara langsung. Tapi saya harus ambil uang dulu ke bank tapi dengan syarat yang tadi harus Ibu Dewi penuhi."
"Ok, deh." jawab mereka bertiga penasaran melihat uang sebanyak itu tanpa memikirkan yang lain lagi selain jumlah uang.
"Ck, dasar mata duitan." batin Tristan mendecak tak habis pikir pada pemikiran mereka.