
"Menikahlah dengan anakku."
Deg...
Tristan terperangah cukup terkejut atas tawaran yang diberikan oleh Pak Cahyo. Namun, sebisanya dia berusaha tenang menghadapi masalah ini.
"Maaf Pak, saya tidak bisa menerima tawaran Anda. Saya bukan lagi Tristan yang dulu saat masih menjadi kekasih anak Anda. Tapi saat ini, saya adalah Tristan yang sudah menikah dan tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan anak Anda. Jadi seberapa keras pun Anda berusaha membujuk saya, merayu saya, saya tidak akan mungkin menikahi putri anda. Lebih baik Anda tawarkan saja kerjasama yang Anda berikan kepada saya kepada orang lain."
Cahyo terkejut atas penolakan Tristan. Penolakan tersebut menyadarkan dirinya yang juga pernah menolak Tristan kepada anaknya.
"Tristan si penjaga kasir itu? Papa tidak akan menyetujui kalian. Mending kau cari saja pria kaya dari pada Tristan yang hanya penjaga kasir toko."
"Tapi, Pah. Lisa cinta sama Tristan, dia pria baik dan bertanggungjawab."
"Persetan dengan kata baik. Kita ini keluarga terpandang, keluarga tekstil terbesar di kota ini. Apa kata mereka kalau kamu menjalin hubungan dengan kasir? Malu, papa malu. Mending kamu putuskan dia dan cari pria kaya yang sempurna yang bisa memberikan kita penerus secepatnya."
Bayangan serta perkataan itu terus saja terngiang yang di kepalanya. Pada saat itu, dia tidak tahu jika Tristan pemilik toko nya.
"Kau, sombong sekali menolak tawaranku. Kau pasti menyesal menerima tawaran dari saya."
Tristan tetap santai, dia menyenderkan punggungnya ke kursi dengan tangan berada di atas meja saling bertautan.
"Saya tidak akan menyesali keputusan saya saat ini. Apa Anda pikir saya akan kembali lagi kepada anak Anda setelah Putri anda sendiri yang sudah menolak saya? Apa Anda pikir dengan cara melakukan kerjasama seperti ini saya akan menerima tawaran Anda? Tidak, justru saya semakin yakin untuk tidak lagi berurusan dengan Lisa maupun Anda. Dan, Anda harus tahu, saya sudah menikah. Jadi, saya harap kau bisa membimbing putrimu untuk tidak mengusik keluargaku. Atau..."
Tristan mencondongkan tubuhnya ke depan menatap serius Pak Cahyo. "Usahamu akan hancur sampai gulung tikar atas kasus skandal mu dengan salah satu pekerja mu, Tuan Cahyo Nugroho." ujarnya tegas mengusik nya dengan cara ancaman.
Deg...
Pak Cahyo kini terkejut, dia tidak menyangka Tristan mengetahui rahasianya. "Ka kau.."
"Ah.. Saya lupa belum mengenalkan jelas diri saya ini." Tristan tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangannya menarik paksa tangan Pak Cahyo kemudian menggenggamnya. "Saya, Tristan Delano, anak dari Marko Delano. Tentu Anda tahu bukan, siapa Marko Delano?" tanya Tristan menyeringai.
Cahyo kembali terkejut. Dia tentunya tahu siapa Marco Delano. Pria dingin yang akan menghancurkan orang yang mengusik keluarganya tanpa ampun. Sudah beredar kedinginan serta kekejaman dan keberhasilan seorang Marko Delano.
********
"Bagaimana rasanya menikah dengan pak Bos?"
"Ya, gitu. Tidak menyangka akan menikah dengannya. Ada rasa senang, takut, kadang juga cemas," jawab Alana. Kedua wanita itu tengah duduk menunggu orang-orang yang akan membayar. Namanya juga kasir, pasti tugasnya menunggu dan melayani pembeli. Sudah ada bagiannya masing-masing.
"Kenapa begitu?"
"Senang bisa mendapatkan pria bertanggungjawab, baik, perhatian dan tentunya mencintaiku. Takut karena keadaan ku yang tidak sempurna membuat ku merasa tidak pantas dan takut dia berpaling dariku. Cemas di saat banyak wanita terang-terangan mendekati suamiku," ujar Alana duduk sambil membelakangi meja.
"Kamu harus yakin, Al. Kalau Pak Tristan tidak akan mungkin tergoyahkan meskipun di luaran sana yang mencoba menggodanya. Kamu juga harus yakin kalau kamu itu pantas untuknya. Kamu juga sangat cantik, malah jauh lebih cantik dibandingkan mantan kekasihnya yang sok baik di depan pak Tristan tapi di belakang sok berkuasa."
Alana mengerutkan keningnya. "Kamu tahu juga mantannya Tristan?"
"Dia sering mampir ke sini, sering belanja juga. Eh, belanjanya pun nggak pernah bayar. Katanya dia kekasihnya Tristan jadi enggak mau bayar. 'Hei, saya itu kekasihnya Tristan, pasti dia tidak akan marah kalau saya mengambil beberapa baju di sini.' Gitu katanya." Rianti menirukan gaya bicara nya Lisa. Dia juga tengah melayani pembeli yang baru saja menyerahkan beberapa belanjaannya.
"Apa Tristan tahu?"
"Mbak, saya mau bayar ini." Ucap seorang pria. Alana menengok, dia cukup kaget mengetahui siapa yang tengah berbelanja.
Begitupun dengan orang itu. "Alana..! Kamu kerja di sini?"
"Iya," jawab Alana singkat sambil mengambil belanjaannya kemudian di rapikan dan di hitung.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu. Selama ini ke mana saja? Kenapa kamu tidak lagi tinggal bareng tante Dewi? Aku sudah mencarimu ke mana-mana, begitupun dengan Papaku yang juga sudah mencarimu." Papar Dimas begitu senang bisa bertemu dengan wanita yang ingin Ia perjuangkan lagi.
Alana melirik sebentar namun matanya kembali berfokus pada pakaian yang sedang ia lipat. Dalam hati berkata, "Apa Papa Yanto tidak cerita mengenai diriku pada Dimas? Kenapa juga dia mencariku?"
"Al, aku mau bicara mumpung bertemu denganmu. Ikut aku sebentar, ya?" ajak Dimas berharap Alana mau bicara.
"Maaf Dim, aku sedang bekerja. Tidak ada waktu untuk bicara hal yang tidak penting."
"Sebentar saja Al, ini penting. Aku tidak bisa lagi menunggu terlalu lama dan aku tidak ingin buang-buang waktu." pinta Dimas memohon.
Rianti yang ada di sana menatap Dimas. "Maaf kalau Alana tidak mau jangan dipaksa!"
Dimas menoleh. "Sebentar saja. Ini urusan saya dan Alana bukan urusanmu."
"Ini juga akan menjadi urusanku karena Alana sudah dipercayakan kepadaku," jawab Rianti tegas. Ia ingat amanah atasannya.
Alana mengusap pundak Rianti, dia mengerti Rianti tengah menjalankan tugasnya menjadi seorang bodyguard dan mata-mata atas perintah suaminya.
"Baiklah, hanya sebentar saja. aku tidak bisa berlama-lama ini masih jam kerja."
Dimas tersenyum, " Tidak mengapa yang penting bisa bicara sama kamu. Tapi kita bicara di sana saja, sebentar." Dimas menunjuk depan yang ada bangkunya.
"Baik."
"Al.."
"Sebentar saja, Ri." Alana menyakinkan Rianti. Dan Rianti mengangguk.
Alana dan Dimas pun berjalan ke depan kemudian duduk di kursi.
"Buruan, mau bicara apa?" Alana tidak ingin berlama-lama. Namun, tiba-tiba Dimas memeluk Alana membuatnya terperanjat kaget.
"Al, aku kangen kamu. Maafkan aku sudah menyakiti kamu."
"Dimas lepaskan aku! Jangan begini, ini tidak benar." Alana tidak mau ada kesalahpahaman, dia mencoba mendorong badan Dimas supaya melepaskan pelukannya.
"Sebentar saja, Al. Aku ingin memelukmu. Kembalilah padaku, ayo kita ulangi kisah kita dari awal."
"Alana..."
Orang yang di panggil namanya menoleh.
Deg...