
POV Alana
Aku tersentak kaget di saat suamiku mencium bibirku. Aku pun bertambah kaget di kala bajuku mulai terbuka di bagian punggung ku. Tiba-tiba saja Suamiku memelukku membaringkan ku ke atas ranjang dengan dia yang sedang memelukku dalam keadaan berbaring.
"Tristan...!"
"Sebentar saja, sayang. Aku ingin seperti ini dulu," balas Tristan semakin mengeratkan pelukannya membawaku kedalam dekapannya.
Aku tidak bisa menolak keinginan Tristan. Tubuh sungguh tidak bisa menolak. Kini dia adalah suamiku yang berhak melakukan apapun terhadapku dan termasuk memelukku.
Benar kata Mama, kalau aku harus menuruti apa yang di inginkan suamiku. Kini aku adalah seorang istri yang harus berbakti kepada suamiku. Suami yang akan menjadi tempat ku bernaung, suami yang akan menjadi tempat ku bercerita, suami yang akan selalu ada dalam setiap suka maupun duka.
Jantungku berdebar dan semakin berdebar kencang saat dimana dia mencium keningku penuh perasaan. Mengecup setiap kelopak mataku dengan lembut dan menyesap bibirku penuh kehati-hatian seakan takut menyakiti bibirku.
Aku bisa merasakan perasaannya lewat tindakan yang ia lakukan kepadaku. Dia begitu lembut memperlakukanku. Tak ada pria yang mau menerima ku dengan segala ketidaksempurnaan ku, tak ada pria yang begitu tulus menyayangi ku.
Ya, aku merasa jika Suamiku menyayangiku. Dan akupun mulai merasakan hal itu.
Aku tak bisa menolak kelembutannya dalam setiap sentuhan dan dalam perlakuannya saat ini. Aku terbuai, aku terlena, aku tergoda di kala tangan dan bibirnya terus menyusuri setiap lekukan tubuhku. Tanpa sengaja akupun mengeluarkan suara lenguhan merdu yang begitu manja sehingga membuat ia semakin buas memangsa.
Akupun tidak sadar jika kini pakaian yang ku kenakan sudah terlepas dari tubuhku. Untuk pertama kalinya diriku merasakan sentuhan yang berbeda. Geleyar aneh yang membuatku menggelinjang geli sekaligus menikmati. Aneh bukan?
Namun, tak ku pungkiri jika apa yang suamiku lakukan terasa mengasikan hingga membuatku kembali bersuara merdu menambah kesyahduan malam Kamis.
Aku mengalungkan kedua lenganku ke lehernya sesekali meremas rambut suamiku di kala dia semakin semangat mengulum salah satu buah kembar nan kenyal secara bergantian.
Lenguhan itu semakin menjadi di saat sebuah rasa yang tidak bisa di ungkapkan lewat kata merasuk ke dalam tubuhku di kala suamiku semakin liar tak terkendali menyentuh setiap titik demi titik sensitif di tubuhku.
"Aaah..." Aku tidak bisa menahan lenguhan ku.
Perlahan tangannya mulai melepaskan sisa pakaian yang ada di tubuhku. Dia juga berusaha melepaskan pakaiannya sambil menatapku penuh cinta dan naf*u. Kabut gairah sudah merasuk kedalam tubuh kami berdua, dan hawa yang tadinya dingin kini menjadi semakin panas.
Suamiku kembali memberhentikan aktivitas nya saat berusaha melepaskan kain terakhir yang menutup bagian miliknya. Pipiku terasa panas, aku malu saat tak sengaja mataku melihat milik suamiku yang sudah berdiri menantang dan diapun mengambil selimut menyelimuti tubuh kami berdua lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
Aku pasrah dan ikhlas memberikan jiwa dan ragaku untuk suamiku. Aku tidak ingin terlalu lama menyerahkannya. Aku bisa merasakan Suamiku begitu kesusahan dalam menembus dinding pertahanan ku. Bahkan akupun merasakan sakit di kala sesuatu di paksakan masuk.
"Tristan," akupun mencengkram apa saja yang bisa ku gapai.
"Iya, sayang." Jawab Tristan berusaha keras menyatukan milik kita berdua.
"Pelan-pelan! Katanya ini akan sakit," rengekku menggigit bibir bawahku menahan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
"Iya, sayang. Aku akan pelan-pelan. Sabar, ya. Sebentar lagi buaya buntungku masuk ke dalam rawa-rawa."
Entah apa yang di bicarakan suamiku, aku tidak tahu. Tapi yang pasti, kini dia tengah mencoba beberapa percobaan. Sampai suamiku berhasil membobol pertahanan ku. Milikku terasa terkoyak, sakit, perih, namun nikmat terasa menjadi satu.
"Tristan sakiiit...!!" pekikku mencengkram kuat punggung suamiku. Mungkin saja kuku-kuku ku menusuk kulit suamiku.
Tapi, di bawah sana jauh lebih sakit. Saking teramat sakit, aku sampai meneteskan air mata dan menggigit bibirku. Namun, aku bahagia karena suamiku lah pemilik kehormatanku.
POV Alana end
*******
Aku mencoba menyentuh istriku dengan cara lembut. Aku tidak ingin menyakitinya dengan apa yang kulakukan. Aku tahu jika ini adalah yang pertama untuknya dan aku akan berusaha keras supaya tidak menyakitinya.
Sebelum mencapai tujuanku, aku berusaha memancing sesuatu yang sempat dua tahun ini tidak berfungsi. Aku pun memberikan sebuah rangsangan terhadap Istriku agar buaya ku mencoba berontak.
Perlahan, sentuhan yang ku lakukan membuat buaya buntungku bereaksi. Aku semakin semangat untuk melepaskan buaya buntungku ke dalam rawa-rawa.
Hingga aku terus berusaha menggiringkan buayanya sampai ke tujuannya. Yaitu, rawa-rawa penuh cinta.
Ternyata, buaya ku berhasil menemukan rawa-rawa nya. Aku bahagia jika pengobatan ku menyembuhkan buaya buntung ku. Dan kini buaya ku sudah sembuh total, budayaku tidak sakit lagi. Aku senang, aku sungguh sangat bahagia.
Kini, aku berjanji akan selalu mencintai wanitaku. Wanita yang hanya mampu membuatku berdiri. Ya, aku mencintainya. Mencintai karena dialah istriku. Wanita yang akan terus menjadi ibu dari anak-anakku, kelak.
"Alana... aku mencintaimu," ucapku setelah selesai menyatukan penyatuan buaya dan rawa-rawa.
********
"Terima kasih, sayang. Kamu sekarang milikku." Ucap Tristan mengecup pucuk kepala Alana yang ada dalam dekapannya. Alana hanya mengangguk.
Nafas keduanya masih saja ngos-ngosan. Peluh pun masih membanjiri seluruh tubuh keduanya. Rasa lelah menghampiri keduanya. Namun, Tristan beranjak duduk kemudian menggendong Alana.
"Tristan..!" gadis yang sudah tidak gadis lagi itu memekik terkejut.
"Sebelum tidur, kita bersih-bersih dulu."
Namun apa yang terjadi? bukannya mandi lebih cepat tapi justru malah lebih lama dari biasanya. Karena Tristan tidak memberikan celah bagi Alana.
Pria yang baru saja merasakan lagi nikmatnya surga dunia terus memberikan guncangan hebat di dalam rawa-rama penuh cinta.
Tristan memegang pinggang Alana menyenderkan nya ke dinding dengan pinggul terus bermain.
"Ah..." keduanya saling beradu merdu mengalunkan lagu kebangsaan setiap penyatuan.
Sampai dimana keduanya sama-sama saling terpuaskan dengan rasa lelah habis bermain selama hampir kurang lebih dua jam.
Alana sampai terlihat pucat dengan bibir terus bergetar. Dia cemberut kesal karena suakitnya terus saja menyerang.
"Bibirnya jangan manyun gitu. Mau di tambahkan lagi?"
"Ishh... kamu mah gitu, aku udah kedinginan tapi terus saja main. Mana bagian punyaku perih lagi." Rengek Alana yang berada dalam gendongan Tristan sehabis mandi bersama.
"Hahahaha abisnya kamu bikin candu, sayang." Tristan mendudukkan Alana. Kemudian dia mencari pakaian yang telah di siapkan untuk istrinya.
"Mau aku bantu atau pakai sendiri?" tanyanya menunjukan pakaian tidur."
"Aku sendiri. Tapi kamu enggak boleh lihat!" ujar Alana ketus menarik paksa bajunya.
Tristan terkekeh gemas. Dia mengecup singkat bibir istrinya. "Iya, aku tidak akan lihat. Paling juga langsung mencoba dirimu."
"Iishhhh... nyebelin."