
"Alana Ibu minta duit...!"
Alana yang tengah duduk melirik tangan yang sedang menamprak lalu mendongak ke atas.
"Ibu minta duit sama Alana? nggak salah, Bu? Bukankah ada Ica yang sering memberikan Ibu uang? dan Ibu pun bekerja di warteg tempat Ica bekerja. Jadi pasti ibu juga memiliki uang."
"Al, kamu sekarang kan sudah bekerja di toko baju terbesar merk terkenal pasti uang kamu banyak lah. Ibu minta sedikit saja kok gak ngasih."
Alana menunduk lesu menghelakan nafas kasar. "Aku baru saja 2 hari bekerja belum mendapatkan gaji sepeserpun, Bu. Dan sekarang Ibu sudah meminta uang padaku, uang dari mana, Bu?"
"Uang dari bos mu lah, dari mana lagi. Jangan pelit, ini itu ibumu. Ibu yang melahirkan mu, jadi kamu harus memberikan Ibu uang sebagai imbalan atas kerja keras ibu membesarkan mu."
Alana terpejam mendengar ucapan ibunya. Padahal, membesarkan seorang anak adalah tugas seorang ibu. Tapi kenapa ibunya mempermasalahkan itu dan sekarang meminta imbalan kepada Alana?
"Aku tidak punya uang dan jangan minta sama aku. Minta saja sama anak kesayangan Ibu karena Ibu pernah bilang kalau aku bukan anak Ibu." Alana berdiri mengambil satu tongkat yang sering ia pakai. Dia enggan melayani perdebatan ibunya dan memilih pergi tetapi Dewi malah menarik tasnya.
"Bu, kembalikan tak aku!" Alana ingin mengambil tas itu dan Dewi tidak memberikannya.
"Diam kau, Al. Ibu yakin kau memiliki uang. Kalau tidak dipaksa seperti ini kamu tidak akan memberikannya." Dewi menggeledah tas usang Alana, mengeluarkan seluruh isinya yang hanya ada ponsel usang dengan layar retak dan dompet lusuh.
Dewi pun mengambil dompetnya mencari uang di dalam dompet tersebut.
"ini apa? Kamu bilang kamu tidak memiliki uang tapi ternyata kamu punya uang sebesar 500 ribu?" sentak Dewi menunjukan beberapa lembar uang merah yang ia ambil dari dompet.
"Bu, jangan ambil uang itu, Bu! Itu uang untuk keperluan Alana!" Alana berusaha mengambil uang pemberian Tristan sebagai uang jajan dan dari celengan Alana.
"Uang ini Ibu ambil dan ini sebagai baktimu kepada ibu." Dewi melemparkan tas Alana tepat ke dadanya.
Alana mengejar Dewi berharap mengembalikan uang itu. "Bu, jangan ambil! Itu uang untuk bekal Alana, Bu. Jangan ambil semuanya!"
Karena keterbatasannya, Alana malah terjatuh. "Ibu.. Jangan ambil semuanya!"
Tristan yang berniat menjemput Alana sekalian lewat ke rumah Orangtuanya melihat gadis itu tengah duduk sambil berteriak. Dia segera menepikan mobilnya turun dari mobil, lalu menghampiri.
"Alana...! Kenapa kau duduk di sini? Tidak adakah tempat duduk sehingga kau duduk di tanah?" Tristan membantu Alana berdiri dia juga mengambil tongkatnya. Kemudian membantu Alana duduk.
"Saya bukan sedang duduk, Pak. Tapi saya terjatuh mengejar ibu saya." Dia menepuk-nepuk bagian pakaian yang kotor.
"Ibu? Ngapain kamu mengejar ibumu? Sudah tahu jalanmu seperti ini masih saja ingin berlari. Kalau terjadi apa-apa dengan dirimu bagaimana?"
Alana menengadahkan wajahnya mengerjapkan mata yang sedari tadi berkaca-kaca ingin menangis.
"Uang saya diambil oleh Ibu semuanya. Uang itu untuk keperluan sehari-hari saya makanya saya mengejar Ibu agar uangnya tidak di ambil semuanya."
"Jadi cuman masalah uang. Uang berapa sih sampai kau berlari membahayakan dirimu sendiri?"
Alana menengok kesamping. "500 ribu itu berharga bagi saya, Pak. Uang itu sebagian pemberian Anda dan sebagian lagi celengan saya. Bagi orang miskin seperti saya sangat berarti."
Tristan diam karena memang sedari awal ia belum pernah merasakan kesusahan. Orang tuanya selalu memenuhi keinginan dia dan selalu membeli apa yang ingin ia beli.
"Maksudku, untuk apa mengejar uang yang telah Ibu mu rampas? Yang aku masalahkan itu bukan uangnya tapi diri kamu sendiri. Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada mu? bagaimana kalau kamu keserempet di saat mengejar Ibu mu? Uang masih bisa dicari tapi nyawa? hanya satu."
"Biarkan yang itu Ibu mu ambil dan percayalah, uang yang Ibu mu ambil secara paksa pasti tidak akan bermanfaat. Dan percayalah kamu tidak akan rugi jika memberikan uang itu meskipun ibumu mengambilnya dengan cara paksa. Aku tuh mengkhawatirkan diri kamu. Rasanya aku sakit melihat kamu terduduk di tanah seperti itu," ucap Tristan panjang lebar.
Kali ini Alana yang diam diam, speechless terharu kalau bosnya begitu memperhatikan dia. Alana tidak menyangka jika sang bos begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Bapak mengkhawatirkanku?"
"Iya, saya mengkhawatirkan keadaan mu."
Alana tersenyum menatap dalam-dalam pria yang ada di sampingnya. Tristan mengernyit heran dengan tatapan Alana yang tadi marah, bersedih sekarang terlihat senang.
"Ngapain kamu senyum-senyum seperti itu ada yang salah dengan diri saya?"
"Bapak baik banget sih mengkhawatirkan saya. Cie yang begitu perhatian sama saya? Seandainya kalau bapak mau sama saya, alangkah bahagianya hati ini bisa mendapatkan pria yang begitu baik." Alana menatap senyum-senyum sendiri dan dia terlihat malu-malu ayam.
"Salah gak sih kalau aku berharap mendapatkan pria yang baik, kaya dan juga menerima aku apa adanya? Dia tidak melihat kesempurnaan dan hati kecilku menyukai pria di sampingku ini," Batin Alana merasakan secercah harapan ingin merasakan di cintai tanpa di sakiti.
Tristan memalingkan wajahnya tidak bisa menatap wajah menggemaskan itu. "Kenapa dia terlihat menggemaskan sih? Oh jantung pun berdetak saat dia tersenyum malu-malu ayam seperti itu," batin Tristan.
"Sudahlah, mending sekarang kita pulang." Untuk menghindari Alana, Tristan berdiri berjalan duluan.
"Pak, enggak di bantuin nih?"
"Enggak..." Alana manyun namun sedetik kemudian dia tersenyum di perhatikan seperti itu. Saat bersama Dimas pun tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini.
*******
"Ternyata Alana ada gunanya juga. Aku kira dia tidak akan bekerja terus-terusan. Eh, sekarang ternyata gajinya jauh lebih besar dibandingkan Ica yang hanya bekerja di warteg."
Dewi senyum sumringah sambil mengibas-mengibas kan uang merah 5 lembar itu. "Lumayan buat kebutuhan ku."
Namun, baru saja senang uang itu di rampas oleh seseorang. Dewi terkejut menoleh.
"Uangnya banyak sekali. Nah, gini dong, kalau kau memiliki uang sebanyak ini hutang-hutangmu akan cepat lunas."
"Jangan ambil uang itu, itu uang buat keperluan saya bukan buat bayar hutang." Dewi mencoba mengambil uangnya namun cepat-cepat di masukkan ke dalam saku celana.
"Dewi, Dewi, ingat utang! Bukan ingat perut mu doang. Kau masih memiliki utang 80 juta kepada saya. Dan uang segini hanya bisa membayar bunga nya saja." Rentenir itu pun pergi meninggalkan Dewi.
"Yanto... kembalikan uang saya! Jangan kau rampas semuanya, Yanto..!" Dewi mencoba mengejar tapi di dorong oleh rentenir nya sebelum pria itu meluncur menaiki kuda besinya.
"Aaaakhh... sialan...!"