My Imperfection

My Imperfection
Berdua



Alana mengedarkan pandangannya kesekitar. Matanya menatap takjub tidak mempercayai ini.


"Tristan...! Ini...?" bibirnya kelu tak bisa berucap apa-apa lagi.


Bagaimana tidak takjub dan terkejut, dia berada di tengah-tengah dekorasi indah yang hanya ada satu tenda dihias dengan sedemikian rupa. Tenda tersebut berada di tengah-tengah lilin yang menyerupai bentuk hati. Di pinggir pinggirnya terdapat 4 lampu lampion berdiri menyinari tenda tersebut.


Di sebelah kanannya jalan beralaskan kelopak bunga mawar merah putih dihiasi lilin-lilin sepanjang jalan bunga tersebut meneranginya. Di dekatnya pun sudah ada satu meja dua kursi ditambah hidangan makanan tersedia di atasnya dan tentu dihiasi beberapa lilin yang terdapat di tempat lilin. serta satu buket bunga mawar putih berada di atasnya.


"Ini ku persembahkan untuk kamu. Apa kamu suka?" ucap Tristan menatap dalam mata Alana.


Alana mengalihkan penglihatannya ke depan. Mata keduanya saling bertatapan. "Ini sangat indah. Aku menyukainya. Tapi, kapan kamu menyiapkan ini semua? Perasaan kamu belum keluar kemanapun sejak pulang dari toko."


"Bukan Tristan Delano kalau tidak bisa menyuruh seseorang untuk menyiapkan ini semua. Tetapi tetap saja ide dekorasinya berasal dari. Hebat kan aku?" kata Tristan dengan bangga mengatakan jika yang memiliki konsep ini semuanya ada dirinya.


"Masa? kok aku tidak yakin jika konsep ini Kamu yang buat?"


"Beneran kok, idenya memang dariku. Tapi tetap orang lain yang mengerjakannya dan aku cuman bayar saja jasa mereka. Dan pada akhirnya ini semua selesai dalam kurun waktu 1 jam saja."


"Satu jam? benarkah ini semua selesai dalam satu jam?" Alana sungguh Tidak percaya Bisa membuat ini semua dalam sekejap.


"Sudahlah, mau percaya ataupun tidak yang penting malam ini kamu milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku." Ucap Tristan mengusap lembut pipi sang istri memandanginya sampai tidak pernah bisa melepaskan pandangan itu.


"Kalau aku tahu kamu mengajakku makan malam romantis seperti ini, pasti aku berdandan tidak kucel kayak gini," ujar Alana cemberut bersedih.


Tristan menarik tengkuk Alana kemudian langsung mencium bibir sang istri. Me lu matnya, me mainkan lidahnya, menyesap hingga berbelit lidah. Alana sendiri terbuai oleh sentuhannya. Dia memejamkan mata dan refleks mengeluhkan tangannya ke leher Tristan.


Tristan semakin memperdalam kecupan tersebut dia juga semakin mendekap anak lebih erat lagi hingga tubuh keduanya benar-benar menempel tidak ada jarak sedikitpun.


Tidak ada orang di sekitar karena Tristan sudah membookingnya. Tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan koceh cukup besar supaya bisa menghabiskan malam berdua di hotel dekat pantai.


Tristan pun melepaskan pangutannya, dia menempelkan keningnya ke kening Alana. Nafas keduanya saling memburu oksigen yang mulai kehabisan.


"Anggap saka kita sedang dinner romantis."


Alana tersenyum mengangguk, lalu ia memeluk tubuh suaminya. Membenamkan wajah di dada Tristan mencari sebuah kenyamanan. Tristan membalas pelukan Alana, menyimpan dagunya di kepala Alana. Keduanya sejenak diam memejamkan mata merasakan suasana malam di tepi pantai berhiaskan bintang-bintang kecil menerangi menghiasi langit gelap.


"Aku mencintaimu," dua kata lolos dari mulut Tristan. Kata cinta yang jarang bahkan hampir tidak pernah terucap dari bibirnya untuk sang istri. Dia mengecup pucuk kepala Alana.


Alana semakin mengeratkan pelukannya sambil menahan sakit di kaki karena terlalu lama berdiri. Dia biasa jalan pakai tongkat tapi kali ini tidak membawanya sehingga saat berlama-lama berdiri merasakan sakit yang luar biasa di sebelah kakinya.


Tristan merasa ada hal yang berbeda. Dia sedikit melonggarkan pelukannya menunduk memandangi Alana.


"Kamu sakit?"


Alana mengangguk, "Kakiku sakit berlama-lama berdiri," jawabnya.


Dia pun berjongkok mengambil kaki Alana yang mengalami kesakitan. Alana terkejut, dia ingin menurunkan kakinya.


"Tristan, jangan begini. Ini tidak sopan untukku." Dia merasa jika dia menyimpan kaki di atas lutut suaminya pada saat kurang sopan.


"Tidak, Al. Ini aku yang ingin memijat kaki kamu." Tentu pria itu kagum pada anak yang memiliki kesopanan terhadapnya. Sepanjang perjalanan pernikahan yang baru mereka jalani, tidak sedikitpun Tristan mendapatkan perlakuan kurang baik dari Alana. Alana selalu memperlakukannya begitu sopan dan baik. Melayaninya sangat baik meski dalam keadaan yang kurang sempurna.


Alana, sebagai penyandang tuna daksa berusaha membuatnya merasa di hormati, di sayangi, di kasihi, dan di anggap imam untuk dirinya.


Penyandang tuna daksa biasanya akan kehilangan kemampuan untuk berjalan, menggerakkan tangan dan lengan, duduk dan berdiri serta mengontrol otot-ototnya.


Tuna daksa adalah kondisi substansial dan jangka panjang yang mempengaruhi bagian tubuh seseorang.


Kondisi ini dapat mengganggu dan membatasi fungsi fisik, mobilitas, stamina, atau ketangkasan pada penyandangnya.


Penyandang tuna daksa mengalami lebih banyak pembatasan dalam kegiatan sosial daripada orang sehat.


Dan inilah yang sering Alana alami ketika berlama-lama berdiri. Kemampuan berdirinya berkurang dikarenakan salah satu kakinya merasa sakit saat berlama-lama berdiri.


Dengan senang hati penuh perhatian, Tristan memijat lembut bagian kaki kiri Alana. "Maaf," ucapnya merasa bersalah telah membuat sang istri kesakitan.


"Tidak apa-apa, aku nya saja yang tidak sempurna sehingga di saat berdiri sebentar saja kakiku terasa lemas dan sakit," balas Alana menunduk sedih.


"Hei. Bukan kamu saja tidak sempurna. Aku juga tidak sempurna, di luar sana pun banyak orang yang jauh lebih dari kita. Jangan bersedih lagi. Kamu tahu, aku juga pria tidak sempurna. Tidak bisa membuahi rahim, mu." Lagi-lagi Tristan kepikiran akan ketidaksempurnaannya.


"Ngomong-ngomong cuman makanan doang? Tidak ada musik romantis?" seru Alana mengalihkan pembicaraan mereka. Dia merasa tidak nyaman pembahasannya mulai ke topik mengenai anak. Alana tahu Tristan Pasti sangat bersedih akan hal ini.


Tristan mengerutkan keningnya. "Ah iya, aku hampir lupa."


Tristan mengangkat tangannya memberikan kode. Dan, tak lama kemudian muncul dua orang pria membawa alat musik biola. Lalu Tristan menjentikkan jarinya fan kedua orang itu mulai memainkan biolanya.


Alana terhipnotis oleh alunan merdu dari biolanya. Tristan pun duduk di hadapan Alana. Dia menggenggam kedua tangan istrinya.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah menjadi pelangi setelah hujan badai menghadang. Kehadiranmu suatu anugerah dari Tuhan untukku. Kamulah, pelangi ku. Aku mencintaimu. Maukah kamu menemaniku untuk selamanya?" ucapnya lalu memberikan sebuket bunga mawar merah bercampur putih.


Alana terharu di perlakukan spesial seperti ini. Dia mengangguk mengambil buket bunganya.


"Aku mau. Dan aku juga mencintaimu." Tak ada alasan untuk tidak mencintai suaminya. Meskipun pertemuan keduanya cukup singkat dan dulu ia pernah mencintai pria lain, tapi kini cinta yang ia miliki hanya untuk suaminya seorang.


"Tidak bisa!" Tristan dan Alana menoleh kaget ada suara orang lain.


"Lisa...!"