My Imperfection

My Imperfection
Lisa vs Alana



Tiada yang lebih bahagia ketika seseorang yang kita cintai menjadi milik kita. Dunia pun akan terasa menjadi milik kita berdua dan melupakan mereka yang ada.


Setelah mengungkapkan perasaan cintanya, Tristan jauh lebih lega dibandingkan dari sebelumnya. Dia juga merasakan sebuah kebahagiaan di saat cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Meski harus ada sedikit peperangan adu bantal dengan putranya sendiri, tapi kini semua terbalaskan setelah Alana juga mengungkapkan perasaannya.


"Sayang, kita nonton, yuk?" ajak Tristan setelah mengantarkan Ariel pulang ke rumah Claudia. Anaknya yang menginginkan pulang, bukan dia yang meminta.


Tapi itu juga ada baiknya buat dia untuk menikmati waktu berdua bersama istrinya.


"Aku sih, mau. Tapi apa kamu enggak akan malu jalan sama wanita seperti ku?" Alana masih saja minder dengan keadaannya.


Tristan menoleh ke samping, ia memarkirkan mobilnya tepat di parkiran mobil.


"Tidak akan pernah. Kita turun, ini udah sampai di mall AG trade center. Mall milik suaminya Kanaya." Tristan tidak ingin lagi mendengar alasan Alana. Dia lebih memilih turun membukakan pintu untuk anak.


Alana memperhatikan mall besar tersebut. Dia tidak menyangka akan menginjakkan kaki di salah satu mall terbesar di kotanya. Tristan sengaja memarkirkan mobilnya di parkiran depan mall.


"Ini milik Andrian?" Alana sungguh tidak percaya bisa mengenal pemilik nya. Dia hanya tahu pusat perbelanjaan ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.


"Iya. Ayo?" Dia juga membantu Alana berjalan.


"Tristan aku..."


"Sstttt... Jangan banyak bicara aku tidak ingin lagi mendengar semua keluh kesah mu yang bilang malu. Tidak peduli seberapa buruk pandangan orang mengenai kita yang aku inginkan hanya kamu. Ayo." Tristan menggandeng tangan Alana membawanya masuk ke dalam.


Dia membawa Alana menonton film romantis, komedi. Meski banyak pandangan aneh mereka dapatkan, tapi Tristan tidak memperdulikan itu. Yang penting baginya mereka bahagia tanpa harus mendengar ocehan orang lain.


Mereka yang jalani, mereka yang merasakan, orang lain hanya bisa mencibir dan menilai. Jadi, tidak perlu mendengarkan omongan orang lain selama kita tidak meminta makan kepadanya, tidak bergantung hidup kepadanya, dan tidak menyusahkannya.


Sehabisnya nonton, mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju salah satu tempat makan.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanyanya setelah memilih tempat duduk yang dekat kaca agar bisa memandangi luar mall. Tristan melihat-lihat menu makanan yang tertera di buku menu.


"Aku ingin spaghetti bolognese, sama steak daging, dan minumannya milk tea."


"Ok. Mbak spaghetti bolognese dua, steak daging dua, milk tea satu, dan jus alpukat satu." Tristan menyebutkan makanan yang akan dia pesan.


"Baik, pak. Mohon di tunggu sebentar, ya." Jawab pekerja itu sambil mencatat makan pesanan Tristan.


Di tengah menunggu kedatangan makanan, seseorang memanggil Tristan. Bahkan orang itu memeluk lehernya dari belakang dan mencium pipinya.


"Tristan..."


Tristan melepaskan segera tangan wanita itu bahkan sedikit mendorongnya. "Apa-apaan sih. Kau gila, hah? Sudah gak waras main rangkul saja." bentaknya kesal pada Lisa.


Ya, dia adalah Lisa. Wanita itu sengaja mengikuti Tristan saat Tristan dan Alana keluar dari bioskop. Lisa ingin tahu siapa wanita yang sudah menjadi istrinya Tristan.


Namun, apa yang Lisa lihat membuatnya terkejut sekaligus berniat mengambil Tristan lagi. Baginya, wanita yang Tristan nikahi tidak ada apa-apa nya di bandingkan dia.


"Sayang, kamu yang apa-apaan di sini bareng wanita lain? Kita pacaran dan kamu malah jalan dengan wanita cacat seperti dia. Gak malu apa?" Lisa melirik Alana dengan tatapan sinis penuh permusuhan. Dia ingin menunjukan jika Tristan adalah kekasihnya.


"A.."


"Hei nona, kau tidak malu mengakui suami orang kekasihmu? Kau tidak malu sedari tadi kami berdua di sini dan kau datang tiba-tiba memeluk suami orang?" Alana di buat geram atas tindakan calon pelakor dalam rumah tangganya.


"Enak saja mau mengakui suamiku kekasihmu. Aku yang berhak, aku sang pemilik sah suamiku. Mending kau cari pria lain saja yang single dari pada pria beristri. Kau gak malu di sebut pelakor?" Alana kembali berucap dan kali ini membuat Lisa mingkem setra Tristan tersenyum puas atas keberanian Alana.


Tapi, Lisa yang rasa percaya dirinya besar tengah berjuang mendapatkan perhatian Tristan lagi. "Tristan, kamu kok gitu diam saja? Kamu lupa jika kita ini kekasih."


Brak...


Alana semakin kesal dan jengkel. Dia sampai menggebrak meja membuat beberapa orang memperhatikan mereka.


"Eh nona, di bilangin dia itu suamiku. Kau tuli, hah? enggak malu ngaku-ngaku jadi kekasih suami orang? Enggak malu sama tampang cantik tapi kok jadi pelakor? Seharusnya Anda sadar diri, Anda itu cuman mantan. Mantan suamiku." Alana melipatkan kedua tangannya di dada dan duduk secara anggun. Namun, dalam hati mendidik panas ingin menyembur wajah calon bibit pelakor ini.


"Kau dengar MANTAN. Mantan, bekas, sisa, dan seharusnya di buang tanpa harus di pungut kembali." Pedas, itulah kata-kata yang keluar dari mulut Alana saking kesalnya.


"Kau.." Lisa mengepalkan tangannya ingin membalas lagi ucapan Alana. Tetapi, Alana kembali berkata.


"Kau marah aku katai? Apa aku kurang jelas kalau kau itu cuman mantan? Mantan yang tidak akan pernah lagi kembali karena kini ada aku sang ISTRI sah nya. Jika pun kau berhasil merebut Tristan dariku berarti kalian sama-sama sampah."


"Enak saja. Aku tidak sudi kembali padanya! Dia yang buang aku, dia yang menolak ku, dia yang tidak mau sama aku, eh sekarang malah kembali lagi." Tristan protes atas apa yang Alana ucapkan.


Alana mengubah posisi duduknya menjadi melipatkan tangan di atas meja dengan jari-jari tangan mengetuk-ngetuk. Nampak satu pelayan membawa pesanan mereka dan menyimpannya tanpa memperhatikan perdebatan tersebut. Alana hanya melirik sebentar lalu menatap Lisa kembali.


"Kau dengar? Suamiku tidak mau lagi sama kamu. Mau aku tunjukan jika kita memang suami istri dan kau mengaku-ngaku jadi kekasihnya?" tantangnya ingin tahu hal apa yang akan di lakukan Lisa.


Tristan di buat bingung. Dia berpikir bagaimana cara Alana menunjukan mereka suami istri. Kadang Tristan mendadak bodoh.


"Ck, paling juga istri terpaksa. Aku yakin Tristan masih mencintaiku." Lisa tidak sadar sudah mempermalukan dirinya sendiri demi bisa merebut Tristan kembali padanya.


"Oh, ya? Masa?" Alana berdiri berpindah duduk di pangkuan Tristan tanpa memperdulikan sekitar. Rasa cemburu yang ia rasakan jauh lebih besar dibandingkan tatapan sekitar.


"Sayang, apa benar kamu menikahiku karena terpaksa? Apa benar kamu masih mencintainya?"