
"Sayang apa daerah inti mu baik-baik saja? apa kamu merasakan sakit?" tanya Tristan sambil mengusap punggung polos Alana yang ada dalam dekapannya. Dia mengkhawatirkan wanita yang tengah terbaring lemah akibat perseteruan mereka.
Saking semangatnya berenang di rawa-rawa, Tristan sampai lupa mengabarkan kebahagiaannya mengenai hasil pemeriksaan jika dia baik-baik saja dan tidak mandul seperti yang dipikirkan selama ini.
Alana menggelengkan kepala, "Tidak, aku hanya lelah ingin tidur saja. Tapi aku mau tidur sambil memelukmu." lirih Alana menunduk malu seraya mengeratkan pelukannya.
Tristan tersenyum, dia mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Lalu tangan kirinya memeluk pinggang wanita yang ada di hadapannya membawa Alana dalam pelukan hangatnya.
"Tidurlah, kamu harus tidur agar tubuhmu tidak merasakan lelah lagi. Maafkan aku tidak bisa mengontrol hasrat ku yang tiada hentinya terus menggempur kamu hingga kelelahan begini." tutur Tristan lembut sambil mengusap-ngusap punggung Alana.
Alana pun mencari kenyamanannya, dia memeluk tubuh Tristan, menghirup aroma maskulin yang menenangkan jiwa dan pikirannya lalu menyandarkan kepala di dada sang pria. Meski Tristan berkeringat namun Alana menyukai wangi keringat itu.
"Tristan, kenapa kamu begitu mencintaiku?" tanya Alana sambil memejamkan mata. Dia penasaran kenapa Tristan pria tampan sempurna dan kaya kenapa mau kepada dirinya?"
"Aku pun tidak tahu. Karena yang aku tahu, perasaan ini tumbuh begitu saja tanpa diminta. Yang aku tahu, aku ingin selalu berada di dekatmu. Selalu merindukanmu di saat kamu jauh. Tidak suka ketika ada pria lain mendekatimu," jawab Tristan mengeluarkan jawabannya menurut dia.
"Itu bukan sebuah jawaban, tapi aku menginginkan jawaban yang pasti agar hatiku mantap untuk terus menerima cintamu karena aku juga mencintaimu." Alana mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Tristan. Tangannya mengusap rahang kokoh itu. Dia juga mengungkapkan kata cinta yang telah ia perasaan emang belum berani mengungkapkannya.
"Cinta itu sebuah anugerah dari Tuhan yang di berikan kepada kita. Cinta itu bukan hanya sekedar kata, tetapi cinta itu sebuah perasaan yang sulit diungkapkan oleh kata-kata. Cintaku padamu sulit kujabarkan. Namun, aku meyakini jika aku benar-benar mencintaimu menerimamu dengan segala kekuranganmu."
Tristan memperhatikan wajah wanitanya. Tangan kirinya terulur mengusap lembut pipi cantik kemerah-merahan sang wanita. Dia pun mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Alana.
"Jangan pernah meragukan perasaanku padamu. Aku tidak mungkin melakukan ini semua kalau tidak benar-benar mencintaimu. Kamu cukup yakin padaku bahwa hatiku hanya untukmu. Dan tidak akan ku biarkan orang lain menempati posisi kamu di hatiku. Sekalipun aku mengalami kecelakaan hingga hilang ingatan atau meninggal, kamu akan tetap bersemayam di relung hatiku terdalam. Jika suatu hari aku sampai melupakanmu, kamu jangan tinggalkan aku, ya. Tetaplah di sampingku hingga aku tersadar lagi." papar Tristan mengagetkan Alana
"Kok kamu ngomong gitu?" perasaan Alana mendadak risau. Dia mendongak menatap heran suaminya.
"Sekarang mending kamu tidur besok aku akan mengajak kamu jalan-jalan seharian."
"Benarkah? Bareng Ariel tidak?" Alana mengingat putra sambungnya dan ingin mengajak sang anak.
"Ariel tidak ikut karena dia sedang berlibur bersama keluarganya di kampung halaman Mike," jelas Tristan menaruh dagunya di ujung kepalanya Alana.
Alana mengangguk-angguk kan kepalanya mengerti lalu membenamkan kepalanya dan kembali terpejam.
"Aku sayang padamu, Tristan." ucap Alana pelan tapi masih terdengar oleh Tristan.
Pria itu tersenyum dan kembali mengecup kepalanya. "Aku juga sayang banget sama kamu. Kamu akan tetap menjadi istriku selamanya. Meski kedepannya rintangan menghadang Aku akan terus menjadikan satu-satunya," janji Tristan yakin seratus persen.
Tristan pun ikut terpejam memeluk Alana. Mereka berdua pun terlelap menunggu hari esok tiba.
"Alana, aku tidak pernah menyangka jika aku akan terjatuh ke dalam pesonamu. Kamu yang begitu teduh maneduhkan mata dan hatiku, kamu yang begitu cantik membuat hatiku melirik. Kamu yang terkadang suka cerewet membuatku gemas, kamu yang kadang selalu diam tanpa banyak berkata, mampu membuatku penasaran dan ingin mengenalmu jauh lebih dalam."
"Alana, kehadiranmu mampu menggantikan rasa cinta yang kumiliki untuk mantan kekasihku, Lisa. Cinta baru yang tumbuh tanpa diminta, cinta yang datang secara tiba-tiba, cinta yang begitu besar yang belum pernah aku rasakan. Cinta untuk wanita terakhir dalam hidupku setelah orangtuaku."
"Alana, aku pernah merasa kecewa saat mengetahui orang di masalalu menolakku dan mengkhianati ku. Hatiku seketika hancur mendapatkan kenyataan bahwa dia sudah berkhianat dengan pria lain. Aku sempat akan menyerah dan tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun. Tetapi Tuhan berkehendak lain, dia menunjukkan sesuatu meski lewat jalan yang berbeda. Yaitu kamu, wanita yang akan menjadi tulang rusukku dan menjadi ibu dan anak-anak ku."
"Alana, aku berjanji akan berusaha menjadikanmu wanita satu-satunya di dalam mahligai rumah tangga kita. Alana, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dengan caraku dan akan selalu mencintaimu dengan segala kekuranganmu. Alana, aku akan berusaha membuktikan rasa cintaku untukmu. Tetaplah bersamaku meski jalan terjal berliku-liku menghadang di depan. Aku mencintaimu hari ini, esok, dan selamanya. Semoga Tuhan merestui pernikahan kita hingga ke surga kelak, aamiin."