My Imperfection

My Imperfection
Cemburu



"Sayang, apa benar kamu menikahiku karena terpaksa? Apa benar kamu masih mencintainya?" Alana mengalungkan lengan kirinya ke leher Tristan. Tangan kanan menyusuri setiap wajah Tristan, matanya pun menatap genit dan ia mengerlingkan mata menggoda seraya sedikit menggigit bibir bawahnya.


"Sayang..." lirihnya terpejam merasakan tangan halus sang istri di wajahnya. Dan itu justru membuat Tristan tidak berdaya merasakan hawa panas secara tiba-tiba. Alana sungguh terlihat menggoda imannya dan terlihat sangat cantik serta sexy. Bahkan, sesuatu yang Alana duduki sudah mengeras.


Lisa menggeram tidak menyukai kedekatan keduanya.


"Hei murahan, minggir kau dari pangkuan Tristan!" Lisa menepis tangan Alana dari wajah Tristan.


Tristan memeluk erat pinggang sang istri kemudian menepis kembali tangan Lisa. "Kamu yang minggir dari sini! Dia memang istriku jadi dia tidak murahan sekalipun istriku memelukku seperti ini."


Alana tersenyum penuh ejekan pada Lisa. dia semakin membuat Lisa panas hati. Bagaimana tidak, Alana malah nekat mencium bibir Tristan tanpa memperdulikan sekitar. Sungguh aksi yang nekat, bukan.


Tristan juga di buat terperangah atas keberanian istrinya. Tapi, bukanya menolak atau melepaskan kecupannya, Tristan malah menarik tengkuk Alana. Ia semakin dalam menyusuri mulut sang istri.


Lisa melotot tidak percaya Tristan melakukannya di depan umum. Saat bersama dia saja hanya dua kali dan itu pun kecupan biasa tanpa lilitan lidah.


Lisa di buat geram dan semakin naik pitam. Bukannya menyadari jika kini Tristan sudah tidak menginginkannya lagi, justru ia semakin ingin mengambil pria itu kembali.


"Lepaskan!!" Lisa mencoba memisahkan keduanya dengan cara mendorong tubuh Alana dari belakang dengan sekuat tenaga.


Alana dan Tristan yang memang tengah asyik menikmati melupakan sekitar. Hingga dorongan itu benar-benar membuat keduanya terpisah dan membuat Alana terjatuh dengan kepala terbentur ujung meja.


Bruk... Dugh...


"Aw..."


"Alana...!" Tristan ingin berjongkok, Lisa mencegah tangannya.


"Tristan, ngapain sih kau menghawatirkan dia?"


Tristan mengeraskan rahangnya menjadi semakin tidak menyukai sikap dan sifat Lisa yang sangat keterlaluan.


Alana mencoba bersabar, tapi rasa kesal dan marah semakin menyatu. Dia mencoba berdiri, mengambil air jus yang ada di atas meja. Dengan amarah mendera, Alana menyiramkan jus itu secara keras tepat mengenai wajah Lisa.


Tristan, Lisa dan yang lainnya terbelalak. Tristan di buat takjub atas keberanian Alana. Dia bahkan cepat-cepat menarik Alana dalam dekapannya karena takut istrinya terjatuh lagi sebab tidak pakai tongkat.


"Kau.." Lisa menggeram mengusap kasar wajahnya.


"Pelakor sialan. Aku tidak akan diam saja saat kau mencoba merayu suamiku. Sudah di Sabari masih saja nekat merayu." Sentak Alana sambil.


"Iya, kita pulang. Aku juga tidak betah berlama-lama di sini." Tristan juga sudah tidak ingin berlama-lama di sana. Dia pun langsung saja membopong Alana tanpa banyak kata.


Aksi mereka terlihat seperti adegan sinetron yang tengah memperebutkan seorang pria. Tapi, mereka justru di buat puas dengan hasil akhirnya. Dimana sang istri berani melawan sang pelakor dan si laki-laki tidak tergoda. Tidak seperti drama ikan terbang dimana sang pelakor selalu saja menang.


Bahkan, dari sebagian orang ada yang merekam kejadian tersebut. Ada yang live, merekam biasa, ada juga yang memfotonya. Sungguh adegan seru menurut mereka.


"Tristan... Kau tidak bisa begini padaku." Lisa mencari tisu basah dari dalam tas nya. Dia mengejar sambil tangan sibuk mengelap. Saking tergesa-gesa, Lisa sampai terperosok jatuh tersandung.


"Hahhaahha sukurin, itu hukuman nyata untuk pelakor sepertimu." ucap salah satu dari mereka menertawakan Lisa.


Lisa mendengus kesal dengan raut wajah merah menahan malu dan amarah. "Kurang ajar, sialan, brengsek. Akan ku beri dia pelajaran karena telah mempermalukan ku."


*******


"Turunin! Aku tidak mau di sentuh oleh mu." Alana memberontak minta di turunkan.


"Jangan banyak bergerak, Al. Nanti jatuh. Lagian aku tidak akan menurunkan mu sebelum kamu menerima hukuman dariku karena sudah membuat buaya ku berontak dari kandangnya." Sepanjang pulang, Alana tidak lepas dari gendongan Tristan. Hanya duduk saat di mobil saja.


Setiba di rumah pun, Tristan tidak melepaskannya.


"Buaya mu saja yang tidak tahu malu berontak di sembarang tempat. Aku tidak mau rawa-rawa ku di masukin buaya olehmu. Aku marah sama kamu." Alana membuang muka sambil melipatkan tangannya di dada masih dalam gendongan Tristan.


"Hei, marah kok bilang-bilang. Itu bukan marah tapi lagi curhat," balasnya mendudukkan Alana di pinggir ranjang.


"Enggak, aku beneran marah sama kamu. Enak ya, yang punya mantan cakep, sempurna, bahenol montok. Uuuhhhh pasti senangnya sampai ke awang-awang saat di peluk di kecup. Iishhh menyebalkan." Alana menggeram kesal.


Alana mengambil guling lalu memukuli Tristan saking kesal dan cemburu suaminya di peluk, di cium. Tristan malah senyam senyum bahagia istrinya cemburu.


"Cieee yang cemburu. Aku senang loh di cemburuin." Ledek Tristan tersenyum usil


"Kamu nyebelin, ngeselin, aku marah sama kamu, cuci muka sono! Pakai sabun yang banyak supaya bekas nenek lampir itu hilang. Mandi juga biar bekas mantan mu itu hilang. Aku tidak mau di sentuh sebelum kamu mandi bersih. Kalau perlu tujuh kali bersihkan."


"Aw sayang, ya, iya, aku akan membersihkan nya. Tujuh balikan seperti mencuci kotoran."


"Najis an jing."