
Sesuai perkataan semalam. Tristan mengajak Alana berjalan-jalan ke berbagai tempat yang enak untuk di kunjungi dua orang yang saling mencintai. Setiap hari, keduanya semakin lengket saja. Mereka berdua sekarang tengah berada di salah satu tempat wisata yang ada di kota J. Pantai pilihan mereka.
"Oh iya, sedari tadi kita jalan-jalan emangnya kamu nggak lelah? Setidaknya kita istirahat dulu sebentar saja." tutur Alana yang tengah tengah menggandeng tangan Tristan menjadikan lengan kekar itu pelindungnya dan menjadi alat bantu berjalan selain tongkat yang Alana kenakan.
Mereka duduk di salah satu tempat duduk sambil menatap hantaman ombak di sore hari sambil menikmati indahnya pantai di sore hari.
"Lelah sih ada, tapi itu semua terbayarkan oleh hal sekecil kebahagiaan yang kurasakan. Semenjak kepergian ayah dan kami hidup dalam keadaan sederhana aku belum pernah sekalipun jalan-jalan ke berbagai tempat. Aku selalu disibukkan dengan mencari nafkah demi bisa mencukupi kebutuhan ku ataupun kebutuhan ibu. Saat merasakan keliling kota bareng kamu, jujur, aku bahagia karena ini yang pertama untukku merasakan jalan-jalan seperti ini."
Alana memejamkan mata menikmati semilir angin sore menerpa wajahnya hingga membuat helai demi helai rambutnya berterbangan kecil. Tristan memperhatikan wajah cantik alami yang kian hari terlihat kian sempurna saja dimatanya.
Sangat-sangat cantik. Wajah putih bersih tanpa jerawat bagaikan boneka, bulu mata lentik alami, alis tersusun rapi tanpa sulam, bibir ranum tipis berwarna merah alami menambah kesan seksi dari wajahnya. Sungguh Tristan tidak pernah bosan memandangi wajah cantik itu. Apalagi kini Alana melakukan perawatan dan semakin glowing saja.
"Memangnya kamu tidak pernah jalan-jalan bareng keluargamu? Jalan-jalan di hari weekend gitu," tanya Tristan penasaran dengan kehidupan Alana yang tidak pernah ia ketahui lebih dalam.
"Kami itu tidak pernah sekalipun jalan-jalan. Kami di sibukan oleh keadaan. Ibu tidak pernah sayang padaku, Ica hanya mementingkan dirinya saja. Dan aku pun selalu sendirian di rumah dan juga sering bekerja demi diri sendiri." balas Alana murung mengingat keadaannya dulu. Namun kini, kasih sayang, harta, perhatian, dan cinta yang tulus ia dapatkan dari Tristan dan keluarganya.
Tristan menggenggam tangan kanan Alana dan membawanya dalam pelukan hangat serta mengecup ujung ubun-ubun Alana seraya menikmati matahari terbenam.
"Sekarang ada aku yang akan berusaha ada untukmu. Kalau perlu, tiap Minggu kita jalan-jalan.. Sudahlah, daripada bahas ini mending kita bahas tentang kita."
"Semoga saja kamu selalu ada di setiap langkahku. Emangnya apa yang akan kita bahas?" Alana mendongak.
Tristan menunduk menatap dalam mata Alana. Dia menatap dalam mata indah itu penuh perasaan.
"Tentang masa depan kita." Tristan semakin menundukan wajahnya dengan tangan kiri memegangi dagu runcing Alana.
Alana merasa sedikit takut ketika mata Tristan begitu intens menatapnya. Dia takut Tristan mengecupnya di sini. Jantungnya berdebar tidak karuan tubuhnya mendadak merasakan kegugupan.
Alana mencoba lepas dari pelikan Tristan namun pria itu tak sedikitpun melepaskan Alana.
"Tristan jangan gini. Banyak orang. Aku malu," pinta Alana berharap Tristan melepaskan pelukannya." Alana mendorong pelan dada Tristan berharap suakinya itu sedikit menjauhinya.
"Kenapa? Kan banyak orang yang juga berpelukan seperti ini. Lagian aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu. Kamu bagaikan magnet yang terus menarik ku untuk selalu mendekat padamu."
"Kamu menggombal? Enggak pantes tahu, nggak sesuai dengan wajah kamu yang ada bewok-bewoknya ini. Dan aku malu seperti ini karena kemesraan bukan untuk di pertontonkan."
"Sesekali kita harus menunjukan kemesraan kita, sayang." Mata Tristan tertuju kepada bibir milik Alana. Tristan menggigit bibirnya untuk menahan agar tidak mengecup Alana di sana.
Alana memperhatikan raut wajah Tristan. Dia bingung, kenapa Tristan seperti gelisah?
"Kamu kenapa? Kok terlihat gelisah begitu?"
"Bolehkan aku merasakan ini ini di sini?" Tristan melirik sekitar. Tempatnya yang sedikit gelap tidak membuat aktivitas orang-orang kelihatan. Namun, Tristan juga melihat ada sebagian orang yang sedang melakukan hal tidak senonoh.
Alana mematung, belum juga memberikan jawaban, tanpa aba-aba Tristan ******* bibirnya. Menyesap bibir tipis itu secara perlahan penuh kelembutan. Alana bukannya menolak, dia malah menikmati sentuhan tersebut. Dirinya bahkan terpejam membuka sedikit mulutnya memberikan instruksi kepada Tristan untuk menyusuri setiap rongga mulut.
Dan itu pun tidak Tristan sia-siakan, itu menarik tengkuk Alana memperdalam pangutannya, saling membelit lidah bertukar saliva. Mereka berdua hanyut dalam buayan kecupan mesra di bawah langit malam bertabur bintang tanpa memperdulikan sekitar.
Tristan menjauhkan wajahnya kemudian menempelkan keningnya. Nafas keduanya memburu mengambil nafas banyak akibat hampir kehabisan oksigen.
"Bibir kamu manis banget, sayang. Aku suka bibir ini. Apa sebelumnya kamu pernah melakukan hal seperti ini?" tanya Tristan menjauhkan wajahnya.
Alana menggelengkan kepalanya.
"Maksud menggelengkan kepala? Kamu belum pernah melakukan adegan seperti itu dengan mantan kamu?"
Alana mengangguk masih dengan posisi menunduk. Menyembunyikan rasa malu bercampur gugup yang tidak bisa menolak kecupan Tristan barusan.
"Seperti ini baru sama kamu. Kalau hanya sekedar kecup biasa Dimas pernah sekali," jawab Alana dengan jujur.
"Tapi kamu orang pertama yang mengajariku segalanya. Termasuk di ranjang," lanjutnya menyembunyikan wajahnya ke telapak tangannya. "Kamu orang pertama yang sudah menyentuhku."
Tristan tersenyum lebar merasa bangga jika dirinya lah pria pertama karena memang dia orang yang sudah menyentuh Alana lebih dalam.
"Ah, aku bangga pada diriku sendiri kalau aku lah pria yang berhasil membobol pertahanan mu meski bibir bukan aku saja."
Tristan pun merangkul Alana membawanya bersandar ke pundaknya. Alana menuruti gerakan Tristan. Mereka pun menikmati sejenak kebersamaan mereka di pinggir pantai bertabur bintang.
"Besok aku akan ke luar kota untuk beberapa hari. Apa kamu mau ikut denganku?"
Alana mendongak. "Kota mana emangnya?"
"Bali. Kalau kamu mau kita sekalian bulan madu di sana," balas Tristan sambil menatap lurus matahari yang sudah terbenam menyisakan langit malam.
"Boleh, aku mau ke sana. Aku penasaran seperti apa Bali itu. Aku juga ingin lihat pantai Kuta nya," Alana bersemangat menjawab perkataan Tristan. Kapan lagi akan ke Bali? Dan kapan lagi bisa jalan-jalan seperti ini bareng orang yang ia cintai.
Tristan tersenyum mengusap bahu Alana. "Setelah di sana kita akan mengunjungi setiap destinasi wisata di sana." lalu Tristan mengecup kepala Alana penuh sayang.
"Aku sudah tidak sabar lagi," balas Alana sambil memeluk pinggang Tristan.