
"Aakkhhh sialan. Brengsek, kenapa jadi begini sih? Bisa-bisanya aku melupakan kegiatanku dengan Dimas. Kalau sampai video itu Dimas sebar mau di taruh di mana muka ku ini. Pasti itu akan membuat keluarga Tristan mengetahuinya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus cari cara untuk mengambil ponsel nya Dimas untuk menghapusnya. Dan gambar Alana harus tetap ada. Tapi bagaimana caranya?"
Ica membanting apa saja yang ada di kamarnya. Dia begitu marah atas apa yang terjadi. Semua rencananya bisa terancam gagal hanya karena sebuah kesalahan yang ia perbuat tanpa di pikir dulu. Dan kemapa Dimas bisa memiliki video itu? Sungguh Ica di buat bingung.
Brug... brug... brug...
"Ica... keluar! Ibu mau bicara sama kamu." Dewi menggedor-gedor pintu kamar anaknya. Dia ingin meminta Ica menghapus gambar Alana.
"Apaan sih, Bu. Berisik banget," sergah Ica kesal.
Plak...
Langsung saja Dewi menampar wajah Ica saking marahnya. "
"Ibu...!" Ica terperangah, untuk pertama kalinya dia di tampar keras. Wajahnya sampai terasa panas akibat cap lima jari yang ia dapatkan dari Ibu nya. Ibu yang selalu memberikan kasih sayang dan selalu membelanya.
"Anak kurang ajar kau, sudah Ibu bilang jangan pernah sekalipun kau mengusik kehidupan Alana lagi. Sudah cukup selama ini Ibu membiarkan kamu semena-semena terhadap Alana. Tapi tidak untuk kali ini. Ibu menyesal membesarkan mu secara manja. Ibu menyesal telah membuatmu menjadi wanita maruk seperti ini."
Ica memicingkan mata menatap tajam Dewi. "Asal Ibu tahu, aku seperti ini karena Ibu yang memberikan ku contoh. Seharusnya Ibu sadar, Ibu juga sudah berbuat semena-mena kepada Alana. Apa yang kau contoh kan pasti aku turuti, Ibu. Dan Ibu bilang menyesal, kenapa tidak dari dulu, hah? Kenapa tidak kau mengingat ini semua kesalahanmu dari sejak kita kecil. Dan jangan pernah sekalipun Ibu menghalangi ku untuk merebut apa yang Alana miliki. Aku tidak mau dia jauh lebih beruntung dari ku. Bagaimanapun caranya akan aku lakukan demi kehidupan yang jauh lebih baik. Termasuk memperlakukan Alana." Pekik Ica menekankan setiap kata. Dan itu membuat Dewi lemas.
Dewi semakin tersadar atas apa yang ia lakukan. Semakin merasa bersalah saja kepada Alana.
Ica tersenyum sinis. Dia masuk lagi mengambil tasnya. Dirinya sudah tidak betah lagi tinggal di rumah Ibunya. Setiap hari dia dan Dewi sering bertengkar. Rasa nyaman nya tidak lagi ia dapatkan di rumah sederhana ini. Harta menyilaukan Ica, kekayaan membuatnya semakin gelap mata, kekuasaan, serta kehidupan yang jauh lebih baik menginginkan dia untuk mencapainya meski dengan cara licik sekalipun.
**********
Tristan langsung menemui orang berkuasa dan pintar dalam menghapus jejak digital. Tidak butuh lama bagi dia menemukan orang itu. Karena Marko yang cukup berkuasa dan adik ipar yang juga berkuasa mampu membantunya menemukannya.
Ya, Tristan meminta bantuan Andrian dimana jasa hapus foto secara permanen. Kini dia sudah ada di depan orang tersebut.
Mark Lee, itulah nama orangnya. Salah satu agen hacker dan juga sering di gunakan jasa-jasa nya untuk menghapus semua foto secara permanen dari berbagai macam media online.
"Bagaimana, apa kau bisa menghapus semua gambar yang beredar di media sosial?" tanya Tristan memperhatikan cara kerja Mark Lee yang tengah mengotak ngatik alat di depannya.
"Saya sedang mengusahakan nya. Tapi, apa kau mau mencari siapa yang sudah menyebarkan ini semua?" kali ini Mark Lee yang bertanya serius dengan mata tengah fokus pada alat-alat canggih di depannya. Tangannya pun terus bergerak mengetik apa yang sedang ia cari.
"Iya, saya mau. Kalau perlu kau matikan sistem miliknya." Tristan berpikir, jika ia mengetahui asal mula penyebaran gambar itu pasti dia juga mengetahui dalang di balik semua ini. Karena ia berpikir, tidak mungkin seseorang menyebarkan berita tanpa mengetahui siapa yang menyuruhnya.
"Ok, kita tunggu beberapa saat untuk mengetahui hasilnya." Mark Lee masih sibuk mengotak ngatik berbagai macam alat yang tidak Tristan ketahui kecuali komputer.
Tristan memperhatikannya begitu teliti dengan tangan ia lipatkan di dada. "Ambil semua data pribadinya. Dan hancurkan sistem miliknya. Kirimkan dia virus supaya tidak bisa lagi mengakses internet dengan sembarangan."
Mark Lee menuruti apa yang Tristan katakan. Pria berambut gondrong itu mengambil datanya kemudian mengirimkan sesuatu kepada pemilik aku tersebut. Dari layar bertuliskan loading... tidak lama kemudian menjadi SUKSES."
"Sudah, Pak. Sesuai yang Anda minta, semua datanya sudah di salin. Virus sudah mulai bereaksi."
"Hmmm Ok, kalau gitu saya minta data orang itu." Setelah mendapatkan apa yang Tristan inginkan, dia langsung saja mencari seseorang yang sudah ikut andil menyebarkannya.
********
"Loh, kenapa semua media sosial ku sulit di buka?" El, pria yang sudah membantu Ica begitu panik saat semua media sosialnya di hack orang. Dia segera mencari komputer yang sering ia gunakan.
Tangan nya pun terus bergerak berharap bisa memulihkan kembali. Tetapi sistem yang sedang ia gunakan pun tiba-tiba bertuliskan eror.
"Brengsek, siapa yang sudah melakukan ini kepadaku? Pasti dia bukanlah orang sembarangan sampai mampu merusak semuanya. Aakhh.. sialan. Aku harus bagaimana ini?" El bingung jadinya. dia bukanlah orang pintar dalam masalah sistem elektronik. Dia hanya pemilik warung internet.
"Bang ini kenapa setiap komputer tidak bisa di gunakan, Bang? Semua sistemnya eror terus." Sebagian dari mereka yang tengah mengerjakan tugas mengeluh saat komputer yang digunakannya error.
"Tenang, kalian tenang semuanya. Mungkin ini hanya masalah jaringan saja. Nanti saya akan mencoba membenarkan."
"Kalau gitu kamu minta uang kamu kembali, Bang."
"Benar, kembalikan uang kami saja."
El menggaruk tengkuknya bingung. Tapi mau tidak mau dia harus mengembalikannya. Di saat semua orang sudah mulai bubar dan sepi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik kerahnya.
"Katakan siapa yang menyuruhmu menyebarkan foto mesum Alana?" Sentak Tristan mencengkram leher El.
Pria itu terbelalak melotot. "A-Alana." ucapannya terbata. Otaknya mencerna, ia seketika mengerti kenapa semua media sosial serta semua komputer yang mendadak mendapatkan virus secara tiba-tiba. Sekarang dia mengerti jika ada orang berkuasa di balik ini semua.
"Cepat jawab!" Tristan sudah mengetahui wajah dan asal mula penyebaran itu berasal. Jadi ini memudahkan dirinya untuk menyeret paksa pria itu.
"Kalau kau tidak menjawab juga akan kubawa kau ke kantor polisi. Ikut aku..!" Tristan mencekal kedua tangannya El kebelakang mengunci kuat supaya tidak lepas.
"Lepaskan saya, Bang. Saya hanya di perintahkan seseorang. Bukan saya yang melakukan ini semua." El memberontak untuk terlepas dari Tristan.
"Jelaskan semuanya di kantor polisi!" Tidak ada kata ampun bagi orang-orang yang sudah mengusik keluarganya. Kali ini Tristan akan menjebloskan orang itu.