
"Aduh gustiiiii... Mama salah masuk kamar..."
Mereka berdua menoleh. "Mama...!"
Tristan mencebik mendengus kesal, Dia menelusukan wajahnya ke leher Alana lalu berguling ke samping. Alana cepat-cepat bangun membereskan kancing baju yang sudah terbuka beberapa biji akibat suaminya.
"Mama ganggu kalian, ya?"
"Ganggu, Mah. Banget, banget, ganggu banget," balas Tristan dengan kesal memukul-mukul bantal sambil menggigit bantalnya.
Alana menunduk malu memainkan jari-jarinya tidak berani menatap mertuanya. Wajahnya sudah memerah.
"Hehehe maaf, abisnya pintunya engga di kunci. Mama kira enggak lagi bermain berenang. Ya, udah, nyelonong masuk saja," kata Mama Indri cengengesan menggaruk kepala merasa bersalah sudah mengganggu aktivitas keduanya.
"Tahu ah, pusing atas bawah," jawab Tristan tengkurap menutupi kepalanya dengan bantal meredam si buaya yang sudah memberontak ingin berenang.
"Hehehe kalau pusing beli obat puyer enam belas."
"Diihhh.. ngapain beli obat gituan? Yang ada bukan sembuh tapi makin ngebul nih kepala bawah gara-gara mama berdiam diri terus di situ," jawab Tristan sewot.
"Ck, pelit amat masuk kamar doang. Cuman sebentar, ntar di lanjutkan lagi, ya." balas Mama Jihan ngawur.
"Oh, iya, Mama cuman mau menanyakan kedatangan ibunya Alana kemari. Kata bi Surti dia datang ke sini, ada apa?" Mama Jihan menghampiri keduanya lalu duduk di tepi ranjang.
Alana tidak langsung menjawab, dia melirik suaminya terlebih dulu. Tidak memperdulikannya. Pria itu malah acuh terus menutupi kepalanya dengan bantal.
"Kata ibu sih merindukanku, Ibu juga sempat bertanya kapan kita punya anak," lirih Alana melirik Tristan.
"Oh, cuman itu doang. Mama kira ada masalah serius apa sampai dia datang kemari. Tak terlalu penting." Mama Jihan berdiri. "Kalian lanjutkan saja aktivitas nya, ya. Bye bye, semoga kerja keras kalian cepat membuahkan hasil."
"Aamiin...." jawab Tristan begitu kencang hingga mengagetkan kedua wanita yang ada di sana.
"Kenceng banget aminnya?
"Kan biar kedengeran sama Tuhan dan cepat dikabulkan sama Tuhan," jawab Tristan kembali terlentang. "Udah, huss.. Mama pergi, gih! Tristan udah panas atas bawah nih, kagak tahan." usirnya tak tahu malu.
"Ck, dasar semprul. Kalau panas masuk sono ke kulkas biar adem." cebik Jihan lalu pergi dari kamar putranya.
"Ck, emangnya aku minuman di masukin kulkas," jawab Tristan.
"Iya, kau minuman, minuman kopi tanpa gula. Pahit bener ucapanmu. Jangan lupa kunci pintunya!" seru Mama Jihan menutup pintu.
Tristan langsung loncat dari kasur mengunci rapat pintu kamarnya. Alana sampai terperanjat kaget menyaksikan ke antusiassan Tristan. Tristan kembali berlari menghambur memeluk Alana membawanya berbaring di kasur.
"Ayo kita lanjut lagi. Emak durhakim itu udah pergi dari kamar ini. Aku sudah tidak tahan, sayang."
Alana menggeplak pundak Tristan. "Gak boleh gitu, beliau kan malah kamu."
"Iya, tahu. Emak yang ngeselin suka datang di saat waktu yang tidak tepat," balasnya kemudian menyergap bibir Alana lagi.
"Lanjut?" tanya nya setelah melepaskan pangutan mereka.
Alana tersenyum, meski malu kepergok mertua, tapi ia mengangguk mengiakan.
"Lanjuttt... tancap gas puolll..." seru Tristan semangat.
Mereka berdua pun berlayar dalam lautan cinta penuh membara. Melewati gunung, hutan rimba hingga tiba di sebua goa rimbun terdapat rawa-rawa. Tentu saja sang buaya terus mengobrak-abrik rawa-rawa tersebut secara brutal nan menggebu.
********
"Mana tristannya? Katanya mau ngajak mereka makan siang bersama, sayang tuh nasi padangnya keburu dingin," tanya Papa Marko heran istrinya datang sendirian.
"Lagi main kuda-kudaan."
Marko mengerutkan keningnya. "Kuda apaan? perasaan di sini nggak ada kuda?"
"Ada, kuda jantan berbulu hitam. Kita juga bisa main kuda-kudaan. Mau Mama contohin?" balas Mama Jihan tersenyum menyeringai.
Marko semakin tidak mengerti. "Coba contohin? Jadi penasaran kuda seperti apa?" Marko benar-benar dibuat bingung. Pikirannya menjadi Lola.
Mama Jihan langsung saja menarik Marko membawanya ke dalam kamar.
"Loh, Mah. Katanya mau nyontohin main kuda-kudaan? kok papa malah ditarik ke kamar sih?"
"Kita main kuda-kudaan nya di kamar." Mama Jihan langsung saja mendorong tubuh Marko. Dia dengan agresif menyerang suaminya.
"Oh, jadi ini kuda-kudaan nya," batin Marko mengerti.
"Mama kan gak mau kalah sama bocah semprul itu," batin Jihan tak ingin kalah dari anaknya.
"Kenapa, Mah?" tanya Marko membalikkan istrinya menjadi di bawah lingkungannya.
"Mama juga gak mau kalah sama mereka. Kita juga harus tunjukan kalau kita juga mampu. Kalau perlu Ampe tekdung nih perut."
"Isss kagak segampang itu, Mah. Tapi, Papa akan berusaha. Ayo kita kuda-kudaan." balas Marko kembali menggarap istrinya.
Ceileh, garap. Emangnya tanah pake di garap..