My Imperfection

My Imperfection
Di Tangkap



El sudah berada di tahanan. Dia berada di ruangan introgasi. Tristan tengah berdiri di dekat polisi menunggu jawaban-jawaban dari El.


"Apa maksud dan tujuanmu menyebarluaskan gambar hoax seperti itu?" tanya Polisi sangat tegas.


El menunduk terus. dia beruntung kebodohannya karena sudah mengikuti kemauan Icha. Dia tidak terpikir akan mengalami hal seperti ini. Kini hanya sebuah penyesalan yang amat dia rasakan terlalu dalam.


"Saya hanya mengikuti perintah seseorang. Ini bukan tujuan saya yang sebenarnya, tetapi saya hanya diperintahkan dan dibayar dengan uang sejumlah 10 juta," jelas El mengakui tindakannya yang memang di perintahkan oleh seseorang.


"Lalu siapa yang menyuruh? Jawab dengan jujur supaya hukumanmu berkurang. Kalau kau berbohong maka hukuman bertambah," ancam pak polisi.


Tristan masih setia mendengarkan. Dia juga penasaran siapa dalang yang memiliki otak dibalik ini semua. Dia tidak akan mengampuni nya jika sudah tahu orangnya.


El menghelakan nafas berat. "Ica, Kakak nya wanita tang ada di gambar itu. Dialah orang yang sudah menyuruh saya," jawab El tegas mengatakan yang sejujurnya.


"Sorry, Ca. Gue harus jujur karena gue tidak ingin terlalu lama di penjara. Kita sama-sama melakukan kesalahan jadi kau juga harus merasakan hukuman, setimpal bukan." batin El.


"Ica...!" Tristan terkejut membolakan matanya saking kaget atas apa yang ia dengar barusan. Ica adalah nama orang yang sering membuat masalah kepada istrinya. Ica adalah biang rusuh dari kehidupan Alana. Dia tidak mengerti kenapa wanita itu sampai melakukan ini semua kepada istrinya? dan sekarang, Tristan semakin dibuat gram dan tidak akan pernah mengampuninya.


"Pak, sekarang juga tangkap wanita bernama Ica! Saya ingin dia malam ini juga mendekam di penjara dan besok mereka berdua harus mengakui semua kesalahannya di depan media. Saya ingin nama baik istri saya kembali bersih seperti sedia kala.


Deg...


kali ini El yang terkejut, dia mendongak tidak percaya pria di hadapannya ini menyebut alamat istrinya. Pertanyaan kapan menikah pun terlintas di benaknya. Kenapa bisa Alana menikah dengan orang yang sangat jauh lebih tampan dibandingkan mantan kekasihnya Dimas.


"Istri?! Kau suaminya Alana?"


Tristan menoleh, menata tajam tidak bersahabat. "Iya, saya Tristan Delano suami sah dari wanita yang kalian usik kehidupannya!"


"Tristan Delano..!" El kembali dibuat terkejut. Tubuhnya semakin mencium dan terasa lesu mendengar nama Delano. Nama yang akhir-akhir ini di perbincangkan karena kesuksesannya dalam bidang fashion serta terkenal dengan brand ternama pabrik kosmetik yang dijalankan oleh anaknya.


"Ka-kau putra dari Marko Delano?! Tidak mungkin." El menggelengkan kepalanya tidak percaya berhadapan dengan keluarga yang cukup berkuasa di kotanya.


"Tamatlah riwayatku. Ini semua gara-gara Ica, wanita sialan itu," batin El mengumpat marah.


********


Setelah mengetahui siapa dalangnya, Tristan membantu polisi mencari keberadaan Ica. Dia ingin memastikan sendiri wanita itu ditangkap dan diseret paksa di kantor polisi.


Kini mereka tengah berada di depan rumah Dewi.


Tok.. Tok.. Tok..


Pak polisi mengetuk-ketuk pintu rumahnya berharap orang yang mereka cari ada di dalam.


Dewi yang sedang bersiap pergi kerja malam akan membuka pintu. "Tunggu sebentar!"


Dia pun membuka pintunya. Namun, seketika dia mematung terkejut ada dua polisi tengah berdiri di hadapannya dan Tristan sang menantu. Mendadak Iya ketakutan jika polisi itu menangkapnya karena kasus hiburan malam.


"Ma-mau cari siapa, ya?" tanya Dewi dengan dan suara terbata.


"Apa benar ini kediamannya saudari Ica?"


"Ica?! Kenapa mereka mencari Ica?" batin Dewi sedikit lega jikalau bukanlah dirinya yang dicari.


"Iya, benar, saya ibunya. Ada apa?"


"Kami mendapat laporan jika saudari Ica sudah menyebarkan berita hoax dan kedatangan kami ke sini untuk menangkapnya mempertanggungjawabkan perbuatannya atas kasus pencemaran nama baik," papar pak polisi menjelaskan maksud dan tujuannya.


Deg...


Dewi terkejut, dia menatap Tristan yang tengah menatapnya dingin. Dewi seakan lupa jika ada pelindung di belakang Alana.


"Dia tidak ada di rumah, Pak. Saya juga tidak tahu kemana dia pergi."


Tristan menggeram. "Jangan sembunyikan dia, Bu, apalagi membelanya. Kalau Ibu ketahuan berbohong maka Ibu pun akan diseret ke kantor polisi. Saya tidak main-main dalam hal ini karena istri saya lah yang sedang dipertaruhkan."


"Ibu beneran tidak tahu, Tristan. Dari tadi siang dia pergi dan belum kembali," Dewi berusaha tenang dan menjawab sejujur-jujurnya agar dirinya tidak terlibat dalam kasus yang sedang Ica dihadapi.


"Sepertinya dia berkata jujur. Tapi untuk memastikan kembali kita geledah saja rumahnya. Siapa tahu di dalam ada yang sedang bersembunyi," usul salah satu dari dua polisi.


"Baik. Permisi, saya izin masuk kedalam." tanpa mencegah dan banyak kata Dewi mempersilahkan. Sedangkan Tristan tengah menunggu di luar memperhatikan sekitar berharap menemukan wanita berbisa di kehidupan Istrinya.


Tristan melihat jam yang bertengger di pergelangan tangannya. Pukul tujuh malam. Dia kembali mengedarkan pandangannya. Dan seketika netra matanya menemukan orang yang sedang di cari.


Ica yang tidak tahu ada polisi pun tersenyum senang melihat Tristan di rumahnya. Dia sudah memiliki pikiran jika apa yang menimpa Alana pasti membuat Tristan murka dan menyerahkan Alana kepada ibunya lagi.


"Tristan, kau pasti menyerahkan Alana kepada Ibu. Aku yakin kau pasti akan menceraikannya. Dia itu wanita tidak baik pasti kau sudah mengetahui foto-foto yang beredar di sosial media itu memang Alana sungguh keterlaluan."


"Ica... kau keterlaluan."


Plak...


Saking malu dan geram atas kelakuan Ica, Dewi kembali melayangkan tamparan kekesalan. Di saat itu pula polisinya keluar.


"Tanggap dia, Pak. Dialah wanita bernama Ica."


Ica terkejut, dia panik dan tidak mengerti Kenapa ada polisi dan mau menangkapnya?


"Apa-apaan ini? Apa kesalahan saya? Kenapa saya harus ditangkap segala. Lepaskan saya!" Dia memberontak minta dilepaskan ketika salah satu polisi sudah meringkus tangan ikat dengan borgol.


"Kau bisa menjelaskannya di kantor polisi. Sekarang ikut kami!" polisi itu menyeret Ica.


"Tidak mau! Ibu tolong Ica, Bu. Aku tidak salah. Hei.. lepaskan saya!" Ica berteriak sambil memberontak. Namun, tenaganya tidak sekuat tenaga pria dan ia tetap kalah.


Tristan menatap tajam Dewi. "Kalau sampai Ibu berbuat hal jahat kepada istriku, aku tidak akan segan-segan memenjarakan mu atau membunuhmu." Gertak Tristan menakuti Dewi berharap Dewi tidak lagi melakukan perbuatan yang menyakiti Alana.


Dewi menunduk takut, dia hanya menunduk dan mengangguk. Tristan pun pergi dari sana. Dia ingin segera bertemu istrinya. Dewi menatap Tristan.


"Kau memiliki suami yang tepat, Al. Dia begitu melindungi mu. Maafkan Ibu."


********


"Mah, apa Tristan akan berhasil? Aku takut dia tidak makan berhasil."


"Kami percaya kalau Tristan mampu mengatasi semuanya," Jihan mengusap tangan menantunya.


Terdengar suara mobil, Alana yakin jika itu mobil suaminya.


"Itu pasti Tristan," Alana berdiri. Dia mencoba mendekati ke depan. Jihan pun mengikutinya.


"Tristan..." panggil Alana setelah mengetahui jika itu memang suaminya.


Tristan menengok ke belakang. Dia tersenyum teduh. Alana segera berjalan dengan tertatih-tatih sampai ingin membuat nya jatuh. Untung Tristan segera menangkapnya.


"Hati-hati, sayang."


"Bagaimana?" Alana meminta sebuah jawaban dari masalahnya.


"Semuanya baik-baik saja. Aku sudah menyelesaikannya. Orang itu akan di hukum dan besok akan di siarkan ke televisi sebagai permintaan maaf kepadamu dan membersihkan nama baikmu."


Alana tersenyum, dia langsung memeluk Tristan. "Makasih, Tristan." ucapnya lalu mendongak berjinjit sedikit kemudian mengecup bibir suaminya.


"Sayang..." Tristan kaget atas keberanian Alana. Namun, dia malah membalasnya lebih dari sekedar kecupan.


"Aduh gustiiii... Mama tidak melihatnya."


Tristan dan Alana melepaskan pa ngutan mereka. Keduanya kikuk, dan Alana menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Eh.. ada Mama."