My Imperfection

My Imperfection
Meminta Maaf & Ungkapan



Tristan langsung masuk ke dalam kamar, dia mencari keberadaan sang istri ingin menjelaskan yang terjadi. Tristan yakin jika Alana pasti salah paham.


Setibanya di dalam, dia melihat istrinya tengah berbaring menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


"Sayang."


Alana yang mendengar Tristan langsung mengusap air matanya dan pura-pura tidur.


Tristan duduk di tepi ranjang. Dia melihat kepala yang tertutupi selimut. "Sayang, apa kamu tidur?" Tidak ada jawaban.


"Belum, mana mungkin tidur secepat ini. Aku hanya pura-pura tidur," jawab Alana dalam hati.


"Yah, padahal aku mau menjelaskan kesalahpahaman ini. Tapi tidak apa-apa, aku akan tetap berbicara sesuatu meskipun kamu sedang tertidur."


"Kenapa tidak sedang dalam sadar saja? Kenapa harus sedang tidur?" lagi-lagi Alana menjawab hanya dalam hati.


Tristan naik ke atas ranjang dan ikut berbaring. Dia menyibakkan selimutnya kemudian mendekap Alana dari belakang.


Alana masih berusaha pura-pura tidur meski dia tengah berusaha merendam jantung yang terus berdetak. "Oh, hati. Please, jangan dag dig dug terus. Aku takut Tristan mendengarkan irama jantungku," batinnya risau.


Tristan mengeratkan pelukannya, menelusukan wajahnya ke bagian leher Alana.


"Aku minta maaf karena kamu harus salah paham dalam menyaksikan hal yang tadi. Itu tidak seperti apa yang kamu dengar." Tristan menjeda ucapannya.


"Lalu seperti apa? Seperti kamu bilang kalau kamu mencintainya. Hatiku sakit, tahu," batin Alana kembai.


"Aku memang dulu pernah mencintai Lisa. Tapi itu dulu sebelum bertemu denganmu. Dia memang kekasihku, itu dulu sebelum menjadi mantan. Sekarang kita tidak ada lagi hubungan apa-apa selain kata mantan. Aku sudah tidak lagi mencintainya. Ada orang yang berhak aku cintai selain Lisa." Tristan kembali menjeda ucapannya.


"Siapa?" Alana tiba-tiba bersuara tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Eh...


Dia sampai melipatkan bibirnya merutuk kebodohannya yang sedang pura-pura tidur. "Dasar mulut lemes, bisa-bisanya berucap. Bodoh kau Alana, kau kan sedang pura-pura tidur," batinnya menggeram kesal pada diri sendiri.


Tristan tersenyum mendengar suara Alana. Dia yang memang tidak yakin jika istrinya tengah tidur sengaja memeluk tubuh Alana sambil berbicara.


"Kamu gak tidur? Kirain aku kamu tidur." Tristan melihat wajah Alana, dia sedikit menggerakkan tubuh Istrinya untuk terlentang.


"Enggak, aku baru bangun. Kamu ganggu aku, jadi enggak bisa tidur," jawab Alana membuang muka masih dengan mata terpejam. Hatinya masih dongkol atas kejadian tadi.


"Benarkah? Aku mengganggu kamu?" Tristan menyibakkan rambut yang menghalangi wajah cantik Alana yang kini sudah terawat cantik.


"Maaf deh, tapi aku begitu karena ingin menjelaskan sesuatu. Pasti kamu sudah dengar sebagian yang aku ceritakan, bukan?" Tristan mengecup lembut pipi Alana.


"Enggak," jawabnya ketus.


"Masa sih? Yakin enggak dengar? Yakin enggak mau tahu siapa wanita yang saat ini aku cintai? Yakin dalam hatinya tidak menggerutu kesal atas apa yang terjadi tadi di depan?" Tristan memancing Alana untuk berkata jujur. Padahal, ia sudah tahu jika saat ini istrinya tengah di landa cemburu terlihat dari mata sembabnya.


"Enggak."


"Sayang," panggil Tristan sambil menggerakkan wajah Alana untuk menatapnya. "Buka matanya! Enggak baik suami bicara tidak melihat? Mau kena marah sama Tuhan?"


Tristan menghapus sisa air mata di pelupuk mata Alana. Dia mengecup kening sama istri penuh perasaan. "Aku menyayangi mu." Alana terpejam merasakan sebuah kecupan lembut dari suaminya.


Di lanjutkan menuju kedua mata istrinya secara bergantian nan penuh kelembutan. "Aku menginginkan kamu."


Turun lagi ke bawah, mengecup kedua pipi serta hidung. "Aku ingin kita bersama selamanya."


Terakhir turun ke bibir memberikan se sa pan lembut. "Aku mencintaimu, Alana." ucapnya dengan suara terdengar bergetar seakan menahan tangis. Alana perlahan membuka mata menatap dalam mata suaminya.


Tristan menempelkan keningnya ke kening sang istri. "Jangan pernah sekalipun kamu percaya sama omongan orang di luaran sana. Kamu, istriku. Kamu, wanita yang aku cintai saat ini. Maafkan aku yang baru mengatakan kata cinta ini. Aku tidak ingin kamu memiliki pikiran negatif tentangku dan berpikir jika aku tidak mencintaimu."


"Tristan..."


Cup..


Tristan kembali mengecup lembut. "Dia hanya masa lalu dan akan tetap menjadi masa lalu. Karena kini, masa depan ku adalah kamu, istriku. Aku mencintaimu."


Alana memeluk Tristan menelusukan wajahnya ke ceruk leher. "Aku takut kamu ninggalin aku hanya karena ketidaksempurnaan ku. Apalagi melihat mantan kamu sangat cantik, putih, sexy, sempurna, aku merasa minder. Aku.. aku merasa tidak pantas untukmu hiks hiks." Alana mengeluarkan kerisauan dalam hatinya.


"Meskipun di luar sana banyak wanita yang jauh lebih sempurna, yang jauh lebih cantik. Tetapi, hatiku memilihmu dan kamu adalah wanita tercantik serta wanita sempurna yang aku kenal. Jangan pernah lagi bilang kamu tidak pantas untukku. Karena kamulah wanita yang pantas untukku. Aku mencintaimu dan pastinya kamu pun mencintaiku. Iya, kan?" dengan percaya dirinya Tristan mengatakan Jika Alana mencintainya. Padahal dia sendiri belum pernah mendengar alamat bilang cinta.


"Aku..."


"Ayaaah..." lengkingan putra Tristan mengalihkan keduanya. Alana melepaskan pelukannya kemudian mereka menoleh ke arah suara. Alana mencoba duduk, Tristan menatap kesal putra yang mengganggu aktivitasnya.


"Ada apa, sih Ariel? Ayah lagi berusaha membujuk Bunda untuk memaafkan ayah."


"Jangan mau, Bunda. jangan maafkan ayah sebelum Ayah di hukum. Aku mau menghukum Ayah karena sudah beraninya membawa nenek sihir itu ke dalam rumah ini dan membuat Bunda Ariel menangis." Bocah menggemaskan sebentar lagi berusia lima tahun itu terlihat marah dengan pipi mengembung, sorot mata tajam, serta tangan bertolak pinggang. Justru itu terlihat menggemaskan.


"Hei, Bunda saja sudah memaafkan Ayah, tidak mau menghukum Ayah, kenapa malah kamu yang sewot ingin menghukum ayah?"


"Bunda..."


"Bunda belum memaafkan Ayah. Bunda ingin parfum nenek sihir itu hilang di tubuh ayahmu. Bunda kesal, dan cemburu." Alana merajuk melipatkan kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut.


Justru Tristan malah tersenyum gemas, dia sampai mengunyal-ngunyel pipi Alana. "Menggemaskan sekali istriku."


Namun, bugh...


"Aduh..." Tristan terkejut ketika Ariel sudah ada di atas kasur memukulinya dengan bantal.


"Ini balasan untuk pria yang sudah menyakiti wanita." Ariel kembali memukul Ayahnya sendiri menggunakan bantal sampai bertubi-tubi.


"Hei, siapa yang mengajarimu memukul ayah?" Tristan mencoba bertahan dari serangan Ariel.


"Kan Ayah yang bilang, kalau ada pria yang nyakitin wanita apalagi ibu kita menangis, pukul saja orang itu. Sekarang, rasakan ini karena ayah sudah bikin Bunda nangis dan sudah nyakitin Bunda, khiiaaaaaa... bugh.." Ariel tanpa ampun menyerang memukul Tristan dengan bantal.


"Dasar semprul, aku yang ngajarin aku juga yang kena hajar." Batin Tristan menggerutu kesal.