My Imperfection

My Imperfection
Sebuah Kenyataan



"Aku tidak melupakan itu, Dewi. Tapi aku tidak terima anakku kau terus-terusan sakiti!" sentak Yanto marah.


Deg...


Terkejut, sudah pasti. Itulah Dewi saat ini. Dia terkejut mematung tidak percaya jika Yanto bicara seperti itu.


"Ka-kau ti-tidak Alana anak suamiku bukan anakmu. Kau jangan mengaku-ngaku Yanto." Dewi tergagap tidak bisa menyembunyikan kegugupan serta keterkejutannya.


"Awalnya aku mengira jika Alana memang anak kamu dan Ramli. Tapi setelah ku buktikan satu bulan terakhir ini, Alana itu anak kandungku, Dewi. Kamu menyembunyikan semua kebenaran ini hanya karena ingin menikahi pria kaya bukan? Kau memperlakukan anakku dengan semena-mena. Seandainya aku tahu sejak awal jika Alana itu putriku, aku tidak akan biarkan kau menyakitinya."


Yanto menghentikan sejenak pembicaraannya menatap kecewa wanita yang dulu pernah ia cintai. Dia yang tadinya berdiri duduk di kursi, menunduk memegang kepalanya dengan kedua telapak tangan berada di belakang kepala. Lalu, mengacak kasar rambutnya.


"Apa kau melupakan kejadian 27 tahun lalu dimana kita berpacaran dan sering berhubungan badan? Kita bahkan melakukannya tanpa pengaman. Tapi kau tiba-tiba memutuskan hubungan di saat ku siap menikahimu mempertanggungjawabkan perbuatan ku. Dan apa yang ku dengar saat itu? Kau mengakhiri hubungan kita hanya karena aku tidak memiliki apa-apa dan kau memilih Ramli anak orang kaya itu."


Dewi terhuyung ke belakang terduduk lemas di kursi. Dia tidak bisa berkata di saat sekelebat bayangan masa lalu menghampiri dibenaknya.


Di mana dia tengah berusaha menjebak Ramli untuk bertanggung jawab atas kandungannya karena ia tidak ingin hidup dengan pria pengangguran seperti Yanto. Dirinya sampai berpura-pura mengandung anak Ramli padahal saat itu dirinya tengah mengandung anaknya Yanto.


"Kenapa kau diam saja? Kau kaget aku mengetahui semuanya? Kau kaget aku tahu jika Alana itu putriku? Maka aku beritahu, kalau satu bulan yang lalu aku sudah melakukan tes DNA dengannya. Alana anakku, Dewi. Dia anakku. Jadi dimana Alana sekarang?" sentak Yanto berdiri mengguncang tubuh Dewi.


"Ka-kau, lalu kenapa kau bilang akan menikahi Alana kalau tahu dia anakmu, hah? Dan kenapa kau menjeratku dengan utang ini jika tujuanmu adalah Alana?" Dewi mendongak dengan sorot mata marah, benci, malu, semua bercampur menjadi satu.


"Kapan aku bilang akan menikahi Alana? Aku bilang hanya menginginkan Alana. Menginginkan bukan berarti menikahinya, bukan? Dan alasanku menjeratmu dengan uang hanya untuk menjadikan Alana menantuku. Tapi ternyata, Alana anakku yang kau sembunyikan dari kenyataan. Kau ibu yang tidak berperasaan Dewi. Kau menyakiti anakku sedemikian rupa, kau menjauhkan ku dengan putriku sendiri. Putri yang seharusnya mendapatkan kasih sayang ayah kandungnya justru kau menjauhkannya. Putri yang seharusnya kau sayangi tapi kau sakiti. Ibu macam apa kau ini?"


Tanpa mereka sadari jika perdebatan keduanya tengah di perhatikan oleh dua pasang mata. Dia adalah Alana dan Tristan. Keduanya bertujuan untuk meminta restu kepada Dewi. namun apa yang mereka dengar sungguh di luar dugaan dan membuat keduanya terperangah sangat terkejut.


Alana mematung terkejut mendapati sebuah kenyataan jika dia anaknya Pak Yanto. Pria paruh baya yang selalu berlaku baik padanya. Orang tua mantan kekasihnya yang ia hormati.


Tubuh Alana sampai gemetar lemas sulit menahan berat badannya. Untung ada Tristan yang cepat tanggap merangkul pinggang istrinya menahannya agar tidak terjatuh.


Sekarang Alana mengerti alasan di balik darah di tampung pada saat dia tidak sengaja terluka akibat menginjak pecahan beling yang ia pecahkan di rumah Dimas. Sekarang dia tahu alasannya apa.


"Aku..."


"Permainan apa lagi ini?" Yanto dan Dewi menengok ke kiri tepat ke arah pintu.


Mereka berdua terperangah kaget ada Alana di sana.


"Kalian sedang melakukan sandiwara apa lagi, hah? Permainan apa yang kalian mainkan untuk terus menjadikanku sebagai bonekanya? Apa kau tidak puas Ibu, terus menyakitiku dengan perlakuan mu secara lahir maupun batin? Apa kau tidak pernah berpikir jika di sini akulah orang yang paling tersakiti?"


"Sekarang, skenario apa lagi yang tengah kau mainkan, Ibu? Pak Yanto bilang aku anak nya? dia ayahku atau bukan, Ibu? Kebohongan seperti apa yang saat ini kalian sembunyikan dariku? hal apa yang tidak pernah kuketahui sejak aku dilahirkan ke dunia ini? Jawab!" Banyak pertanyaan yang dari tadi ingin alamat tanyakan.


Kenapa banyak orang yang selalu menyakitinya. Itulah pertanyaan yang sering Alana tanyakan kepada dirinya sendiri.


"Alana... Ibu.. Ibu..." Dewi terbata sulit sekali berkata.


"Alana, Papa minta baru mengetahui ini semua saat-saat ini. Seandainya Papa tahu dari awal jika kamu adalah anak kandung papa, papa akan membawa kamu pergi dari ibumu. Maafkan Papa. Maafkan Papa yang tidak bisa menjagamu dari kekejaman ibumu sendiri." Yanto mendekati Alana ingin memeluk putrinya. Putri yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya.


Tapi, Tristan menghalangi dengan cara membawa tubuh alami ke dalam dekapannya.


"Tidak perlu kau memeluk Alana. tidak percaya ucapan mu. Bisa saja perkataan itu bohong belaka. Kau hanya pura-pura mengaku menjadi ayahnya anak agar kau bisa menikahkan dia dengan putramu itu atau mungkin menikahinya." Balas Tristan bengis.


"Untuk apa aku berbohong mengenai ini semua? Kalau menikahkan Alana dengan Dimas itu memang kenyataannya. Mereka tidak ada ikatan darah, mereka hanya saudara tiri, dan itu bisa terjadi kalau keduanya ingin menikah. Nak, kamu ikut Papa saja. Kamu tinggal di rumah Papa dan kamu bisa menikah dengan pria yang kamu cintai," bujuk Yanto berharap Alana mau tinggal bareng dengannya.


"Hei... Anda tidak bisa seenaknya membawa istriku pergi apalagi menikahkannya dengan orang lain," seru Tristan terlihat marah.


"Istri?!" Dewi dan Yanto sama-sama memekik penuh keterkejutan.


"Siapa bilang Alana ini istrimu. Dia belum menikah, kau jangan mengaku-ngaku." Balas Dewi.


"Tapi sayangnya aku dan Alana adalah suami istri. Kami sudah menikah kemarin dan sekarang Alana istriku. Tidak akan ku biarkan kalian mengambilnya dariku meskipun kalian Orangtuanya!"


"Al..! Apa maksud semua ini?" tanya Dewi bingung.


"Aku juga mau bertanya seperti itu. Apa maksud dari semua ini? kenapa Pak Yanto bilang kalau aku anaknya dia?" tanya Alana kembali yang tidak mendengar pembicaraan mereka dari awal.


"Al.."


"Jawab Dewi! Atau kau mau mendekam di penjara?" sentak Yanto membuat Dewi terlonjak kaget memegangi dadanya terkejut.


"Iya, Alana memang anak kandungnya Yanto, bukan Ramli."


Deg...