
"Siapa kamu?" seorang wanita membawa plastik besar membuka pintu gerbang.
Dewi yang sedang mengintip tersungkur ke depan. Dia cukup kaget karena ada orang.
"Eh..." Dewi menegakkan tubuhnya menjadi berdiri tegak. Dia pura-pura merapikan pakaiannya.
"Saya besannya pemilik rumah ini. Saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini."
Ibu-ibu itu mengerutkan dahinya. Dia memperhatikan wajah Dewi dengan intens.
"Besannya Bu bos? Kok modelnya kayak gini?" batin ibu-ibu itu.
"Bi, udah belum? kalau udah tolong belikan makanan ke warung depan!" seru Alana dalam rumah berjalan ke depan.
Dewi mengenali suara itu. Dia segera menerobos masuk ke dalam mendekati pemilik suara.
"Alana," panggilnya sedikit berlari menghampiri.
"Ibu..." tiba-tiba Dewi memeluk Alana.
"Syukurlah, akhirnya Ibu bisa bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabarmu? sudah dua minggu kita tidak bertemu. Ibu merindukanmu. Maafin ibu yang sering berlaku kasar padamu."
Alana dibuat bingung atas sikap ibunya saat ini. "Iya, Alana sudah memaafkan Ibu." Dia membalas pelukan Dewi.
"Ibu tahu rumah nya mertuaku dari siapa?" tanya Alana penasaran sambil mengurai pelukannya.
"Dari pegawai suamimu. Ibu menanyakan di mana alamat rumahmu, dan Dia memberikan alamat ini kepada Ibu. Ibu tidak menyangka jika mertuamu sekaya ini," tutur Dewi menatap takjub rumah megah yang saat ini ada di hadapannya.
Dia tidak pernah berpikir jika Alana akan menikah dengan orang kaya. Matanya terus menyusuri setiap bangunan tersebut.
"Rumahnya mewah sekali. Ternyata ini jauh dari yang Ibu bayangkan."
"Kalau aku jadi nyonya rumah ini pasti akan sangat menyenangkan," batin Dewi.
"Ini rumah mertuaku, aku hanya menumpang hidup saja di sini. Dan Alana mohon, Ibu jangan berpikiran yang tidak tidak terhadap mertuaku." Alana seperti mengerti saja pikiran Dewi.
Alana tante tahu hal apa saja yang selalu dipikirkan oleh ibunya. Apalagi kalau bukan harta, uang, kekayaan, tahta dan kemewahan. Dia yang hidup selama 26 tahun bersama ibunya tentu mengerti sifat sang ibu.
Sifat keras kepala, sifat tidak ingin menyerah, sifat sangat sulit mengakui kesalahan, sifat egoisnya cukup tinggi. Barusan saja saat Dewi meminta maaf kepada dirinya, Alana sempat tidak percaya. Karena yang ia tahu Dewi bukanlah tipu orang yang mudah meminta maaf meski sekalipun dirinya bersalah.
Dewi merasa tersindir dia mendelik tajam kepada Alana. "Siapa yang memiliki pikiran macam-macam? Ibu tidak kepikiran hal seperti itu. Mana mungkin ibu macam-macam kepada mertuamu. Aneh-aneh saja kau ini," ujar Dewi sewot.
"Ya, Alana cuman mengingatkan saja, Bu. mana tahu di dalam otak ibu itu uang, uang dan uang. Ibu kan orangnya materialistis," sindir Alana sambil berjalan duduk di bangku depan rumah seraya menunggu bi Surti membeli nasi Padang di depan ujung jalan tak jauh dari kediaman Mama Jihan.
"Wanita itu memang harus materialistis. Kalau tidak matre, ya, pasti hidupnya akan melarat. Kalau tidak matre, kita tidak mungkin memiliki apa-apa, tidak mungkin bisa menghidupi keinginan diri sendiri, tidak mungkin bisa mencapai tujuannya. Kalau kamu ingin sukses ya harus matre," balas Dewi mendengus kesal Alana mengatainya matre.
Dewi juga ikut duduk di samping Alana hanya terhalang oleh meja saja.
"Ke mana mertuamu? dari tadi ibu tidak melihat mereka?"
"Mertuaku sedang keluar rumah. Katanya Mereka ingin jalan-jalan bersama menikmati waktu berdua."
"Menikmati waktu berdua saat bersama pasangan yang benar-benar mencintai serta menerima kita. Tidak seperti mereka yang sampai rela membohongi orang lain demi tujuannya sendiri," celetuk Alana seakan menyindir Dewi kembali. Padahal Alana hanya bicara tanpa sadar. Tapi Dewi yang merasa jadi tersinggung.
Lagi-lagi Dewi tersindir. "Kau itu kenapa sih dari tadi terus saja menyindir Ibu? Bilang Ibu ini matrealistis dan sekarang kau mengatai Ibu suka membohongi orang lain demi kepentingan diri sendiri. Maksud kamu ini apa?" sewot Dewi kembali.
Alana mengerutkan keningnya menengok ke samping kanan di mana Dewi berada.
"Ibu ini kenapa sih? apa yang Alana bicarakan selalu saja bikin Ibu marah-marah gak jelas. Dari tadi Alana tidak menyindir ibu pembicaraan Allah itu spontan keluar dari mulut Alana sendiri. Aneh, deh."
"Kau kan yang..."
Tiiiiddd... tiiddd...
Dewi siap menjawab tapi keburu mobil seseorang datang menyalakan klaksonnya. Alana yang mengetahui Siapa pemilik mobil tersebut tersenyum kemudian ia berdiri mendekati mobilnya.
Pemilik mobil pun keluar. Dia membalasnya dengan senyuman. "Sayang, pake menyambut segala. Aku jadi terharu, deh." ucapnya memeluk tubuh istrinya lalu mengecup mesra kening Alana.
"Eh mantu Ibu yang tampan rupawan ini baru datang. Apa kabar Tristan?" tanya Dewi terdengar ramah.
Tristan menoleh, "Ibu..! Saya kira tidak ada ibu di sini. Eh rupanya Ada. Maaf, habisnya nggak kelihatan, di mataku yang kelihatan hanyalah istriku seorang," jawab Tristan membuat Dewi yang tadi tersenyum seketika tersenyum kecut dan kesal.
"Matamu tuh rabun, orang segede gini masih saja enggak kelihatan, menantu durhaka lu," ujar Dewi kesal.
Tristan mengerutkan alisnya. "Lah, si Ibu malah marah-marah gak jelas. Ibu memang tidak kelihatan. Di mataku yang kelihatan memang istri cantikku ini. Kalau mataku melihat ibu, bahaya dong. Bahayanya, ntar yang ada di penglihatanku wajah tua ibu. Kan nggak asik yang terus terbayang wajah ibunya Alana. Sungguh jauh kemana-mana, lah."
Alana menunduk mengulum tawa. Dia merasa perdebatan antara Tristan dan ibunya sungguh terlihat lucu di matanya.
Lain dengan Dewi yang tengah geram pada menantunya. "Eh bocah gemblung, alasan mewarisi kecantikannya ya, dari ku lah. Jadi saya juga tentunya pasti sangat cantik."
"Enggak, menurutku Alana jauh lebih cantik dibandingkan Ibu yang sudah tua ini. Dan wajah cantik alaminya, kalau di perhatikan tidak ada mirip-miripnya dengan Ibu. Tetapi wajah cantik nan ayu milik istriku ini turun dari ayahnya Bapak Yanto."
Dewi tertegun, dia memperhatikan wajah Alana yang memang terlihat mirip dengan Yanto.
Alana tersentil mengingatkannya jika ia bukanlah anak kandung dari Papa Ramli. Melainkan anaknya Pak Yanto.
"Alana itu mirip denganku. Enak saja mirip dengan pria kere itu," jawab Dewi menggeram sebal.
"Dia emang bapaknya. Ayo sayang, kita masuk." Ajak Tristan menggandeng tangan Alana.
"Hai, bocah gemblung? Kau tidak mempersilahkan Ibu mertuamu ini masuk ke dalam rumah?" tanya Dewi memberhentikan langkah Tristan.
"Ah, iya. Saya melupakan itu. Ayo ibu mertua, Tapi, Jangan membuat keributan di rumah orang!" ujar Tristan memperingatinya.
"Iya, iya, tidak akan." jawab Dewi mengikuti langkah Tristan dan Alana.
"Hei kapan kalian punya anak?"
Deg...