My Imperfection

My Imperfection
Rencana Terselubung



"Apa?! Nikah?! Besok?!"


Tristan mengangguk, dia menggenggam kedua tangan Alana dengan posisi berjongkok di hadapannya.


"Kamu mau kan menikah denganku? Ya, walaupun aku tahu kalau saat ini pasti kamu belum mencintaiku dan aku pun masih belum mencintaimu, tapi aku sedang berusaha mencintaimu," kata Tristan kembali bertanya kesediaan Alana untuk menikah dengannya. Dia pun berkata jujur kalau saat ini rasa cinta untuk Alana belum ada, tapi dia sedang berusaha mencintai wanita di hadapannya.


"Kalau belum mencintai, kenapa harus menikah? Menikah itu bukan permainan. Aku tidak ingin menikah kalau tidak ada cinta di antara kita."


"Cinta itu datang karena terbiasa dan kita harus berusaha untuk saling mencintai. Maka dari itu, saat ini aku pun sedang berjuang untuk mencintaimu. Jujur, dari lubuk hatiku paling dalam aku mulai tertarik padamu, percayalah, Al." Tristan berkata serius menatap dalam bola mata indah milik Alana. Dia ingin menunjukkan kalau dirinya benar-benar serius ingin menikahi wanita yang ada di hadapannya. Saat ini pun hatinya tidak bisa berbohong kalau dia mulai menyukai Alana.


Alana mencari sebuah kebohongan dari matanya Tristan. Namun, ia malah melihat keseriusan. Dia sedang berperang dengan pikiran dan hatinya apakah keputusan menikah dengan Tristan adalah hal yang baik? Dan apakah pilihannya adalah orang yang tepat? Alana masih merasakan kebimbangan.


"Aku..." Ada ketakutan yang Alana rasakan, takut akan sebuah cibiran orang-orang.


"Kalau kamu tidak mau menerimaku aku akan menghamilimu," ancam Tristan.


"Apa..! Kau gila.. aku tidak mau! enak saja mau menghampiriku kita itu belum menikah." Alana protes dia melepaskan tangan Tristan.


"Ya iyalah, jelas akan menghamili dirimu setelah kita sah. Supaya nanti kamu tidak bisa kabur dariku lagi." Tristan berdiri berjalan duduk di kursi kerjanya, membuka laptop kemudian menyalakannya.


"Tapi kan aku belum mengatakan iya."


"Aku tidak perlu jawaban darimu, karena semenjak kamu datang ke rumah orang tuaku kamu sudah menjadi milikku. Keputusanku bulat jika besok kita akan menikah." Tristan dengan pendiriannya.


Alana berdecak sebal namun matanya tidak bisa mengalihkan dari wajah tampan Tristan yang tengah fokus menatap layar dengan kacamata anti radiasi bertengger di hidung bangir nya.


"Kalau dilihat-lihat kamu itu tampan juga. Dijadikan suami pun tidak akan malu-maluin amat jika dipamerkan sama orang. Apalagi kamu kaya, menambah kebanggaan tersendiri saat memamerkanmu," seru Alana terkekeh sendiri.


Tristan melirik tersenyum. "Maka dari itu, kalau kita menikah, kamu bisa memamerkanku kepada mereka yang iri terhadapmu aku sih senang-senang saja dipamerkan sebagai suamimu." bukannya marah Tristan malah tersenyum senang dia tidak mempermasalahkan alamat memamerkannya yang penting Alana bisa ia miliki. Hati dan pikirannya sudah bulat memilih Alana sebagai pendamping hidupnya. Karena dia lah jawaban atas segala doa-doanya.


**********


"Ibu tega menjadikan aku sebagai pelunas hutang ibu? aku ini anak kesayanganmu Bu kenapa ibu malah memberikan aku kepada Pak Yanto?" Ica terkejut jika dirinya dijadikan sebagai alat bayar utang.


"Maafkan ibu, Ica. Tapi bukankah uang yang digunakan pun sering kamu gunakan? Utang itu pun ibu gunakan untuk keperluan kamu juga, untuk menghidupi cara kamu dalam berpenampilan. Jadi kamu berhak membayar sebagian utangnya."


"Tidak dengan cara menjual ku, Bu!" sentak Ica marah atas tindakan Dewi. "Aku memang menggunakan sebagian uang yang selama ini Ibu pinjam. Tapi tidak harus menjual diriku juga. Aku tidak mau sama tua bangka ini. Lebih baik kalian lah yang menikah, Jangan aku!"


"Tapi saya maunya kau Ica. Saya bisa memberikan apapun yang kamu mau asalkan kamu menikah denganku."


"Meskipun Anda terlihat gagah, terlihat masih muda, tapi saya tidak mau menikah dengan Anda Pak Yanto. Anda itu seusia ibu saya, seharusnya menjadi orang tua saya, bukan suami saya. Lagian yang saya inginkan itu bukan Anda tapi, Tristan Delano."


Dewi terhenyak mendengar nya. "Ica, di itu calon suaminya Alana."


"Aku tidak peduli dia mau calon suami Alana ataupun bukan. Tapi yang pasti, aku akan merebut dia dari Alana. Aku tidak sudi menikah dengan pria tua bangka ini!" sentak Ica penuh penegasan mengambil tasnya kemudian pergi untuk menjalankan rencana yang ia susun.


"Ica, kamu jangan pergi..!" Dewi berteriak mencegah.


Dewi sontak menoleh ke belakang. "Maksudmu?"


Yanto tersenyum menyeringai. "Alana..."


Deg...


**********


Ica begitu tergesa pergi dari rumah ingin menemui seseorang yang akan membantunya. Dimas yang kebetulan lewat dari rumah Ica melihat gelagat penasaran.


"Ica? Kenapa dia begitu tergesa? Apa dia sedang buru-buru? Tapi kenapa wajahnya terlihat marah apa yang terjadi padanya?" Karena penasaran Dimas pun ingin menanyakan nya kepada Icha namun dia memberhentikan motornya di saat Ica menaiki motor seseorang.


"Rio? Kenapa Ica bisa bersama Rio ada hubungan apa mereka berdua?" Dimas semakin penasaran dan juga gelisah karena dia tahu Rio bukanlah pria yang baik-baik.


Rio itu tukang pemabuk, tukang judi, tukang pemain wanita. Dia tidak ingin Ica menjadi bahan permainannya. Kalau bagaimanapun dulu Ica adalah wanita yang pernah singgah di hatinya sebelum mereka putus.


"Apa yang harus aku lakukan kepada Alana?" tanya Rio saat sedang berada di atas motor.


"Pokoknya kamu harus.........." Alana menyebutkan hal apa saja hal yang harus Rio lakukan Dia menjelaskan dari a sampai z.


"Apa kau mengerti? Aku harap rencana ini berhasil, nanti kukasih kamu bayaran 5 juta. Kalau sudah berhasil aku kasih kamu lagi 3 juta jadi total semuanya 8 juta."


"Oke aku mengerti, paham. Lumayanlah 8 juta untuk bermain di klub malam bersama wanita-wanita cantik dan seksi." Rio tentu mau menerima tawaran ini bahkan dia mendapat dua keuntungan sekaligus dari rencananya kali ini.


"Tapi, kau harus memastikan jika rencana ini mulus berjalan tanpa ada hambatan dan tentunya tidak ada yang tahu sedikitpun," pesan Ica.


"Beres, aku jamin semuanya beres."


Sedangkan di belakang, Dimas mengikuti ke mana motor Rio melaju.


********


"Oh Al, aku tinggal kamu di sini nggak papa kan? Ada hal yang harus aku kerjakan di gudang. Kalau kamu mau istirahat istirahat saja dulu di sini kalau kamu mau lihat-lihat baju juga boleh." Izin Tristan enggak enak meninggalkan Alana sendirian di ruangannya.


"Nggak papa aku tunggu saja di sini kamu bisa kerja dulu."


Berhubung Alana nya sudah mengizinkan, Tristan pun beranjak pergi. "Aku ke bagian gudang dulu, ya. Kamu hati-hati di sini. Enggak lama, kok. Cuman mengecek barang-barang saja sebentar."


Alana mengangguk tersenyum. Lalu Tristan mengusap pipi Alana sangat lembut.


Setelah kepergian Tristan beberapa saat, Alana merasa bosan. Ia ingin berjalan-jalan melihat beberapa pakaian. Dia pun ngambil tongkat yang Tristan beli, kemudian melangkah menuju depan.


Saat berada di bagian toko baju, Alana menatap keluar ada tukang es krim dung dung. Dia yang memang menyukai es krim memanggilnya. Ketika tengah membelinya, ada yang memanggil.


"Alana...."