
"Tristaaan....!" pekikan seseorang mengalihkan Tristan yang sedang mema ngut bibir Alana. Hampir saja dia kelepasan bergerilya di tubuh Alana.
Kedua orang itu menoleh ke asal suara. Mata mereka melotot sempurna seperti ingin keluar dari cangkangnya.
"Mamah...!" seru keduanya secara bersamaan. Lalu Tristan melepaskan pelukannya dari tubuh Alana. Gadis itupun berusaha duduk dengan tegak. Dia begitu malu ketahuan tengah saling cumbu. Alana memang ingin menolak, tapi Tristan menguncinya dengan kuat sehingga dia tidak bisa bergerak ataupun melepaskan pelukan Tristan.
"Cepat pakai baju! Mama ingin bicara kepada kalian." Jihan pun mendekati Alana kemudian membantu gadis itu untuk berjalan.
Ketiganya telah berada di ruang tamu. Tristan dan alamat yang sedang duduk saling menunduk. dan mama Jihan yang tengah berdiri menatap tajam keduanya dengan sapu yang ada di tangannya. Entah dapat sapu dari mana sampai itu sapu bisa ada di tangan Jihan.
Dua anak manusia tengah duduk menunduk tidak berani menatap orang tua yang tengah bersedekap menatap tajam keduanya.
Mama Jihan berdiri bertolak pinggang memandangi wajah Tristan dan juga Alana. Mama Jihan khawatir ketika Alana belum pulang ke rumahnya. Dia menelpon bi Surti menanyakan apakah Tristan ada di rumah nya dengan seorang wanita atau tidak? dan Bi Surti menjelaskan jika Tristan memang ada di rumahnya bareng bersama wanita.
Setelah mengetahui jawaban Bi Surti, Mama Jihan pun langsung ke rumah putranya ingin mengetahui keadaan Alana. Meski ia bukanlah ibu kandungnya Alana, tetapi hatinya gelisah ingin segera bertemu gadis itu.
Namun, apa yang ia lihat sesaat setelah dirinya tiba di rumah Tristan? Justru pemandangan intim lah yang ia lihat ketika membuka pintu kamar yang ditempati Alana. Di mana pada saat itu Tristan tengah mema ngut bibir Alana bahkan mantan duda itu pun terlihat sangat menikmatinya.
"Tristan, Mama tahu kau itu mantan seorang suami yang pernah merasakan nikmatnya surga dunia. Tapi Mama tidak habis pikir kenapa bisa-bisanya kau berbuat hal tidak senonoh pada wanita yang jelas-jelas tidak berpengalaman. Kau itu sudah dewasa, seharusnya kau membimbing Alana untuk tidak mengajarinya hal-hal seperti yang kau telah dilakukan. Meskipun dia berumur 26 tahun namun dia masih tidak terlalu mengerti soal begituan, Tristan." Mama Jihan begitu gram kepada putranya.
"Eeeeehhh... gini amat dah kalau sudah merasakan lubang buaya, pasti ingin cepat-cepat memasukinya lagi. Apalagi si buaya saktinya itu baru saja sembuh pasti kau ingin kembali menggunakan buaya buntung mu itu untuk menyerang musuhmu," seru Jihan ngomel-ngomel sambil menjitak kepala putranya kemudian menjewer telinga Tristan dengan kesal.
"Jangan main jitak-jitak kepala Tristan lah. Iya, iya Tristan tahu kalau aku itu nggak sabaran pengen banget nyemplungin nih buaya ke rawa-rawa. Makanya Mah, buruan halalkan kita?" rengek Tristan memegang kupingnya yang sudah dari tadi terus mama Jihan gewer.
Alana sedari tadi terus mencerna perkataan kedua orang itu. Dia belum mengerti ke mana arah pembicaraan keduanya.
"Mereka sedang bicarakan apa sih, kok ada buaya sama rawa-rawa?" batinnya bertanya-tanya mengerutkan keningnya mencerna berharap mengerti maksud dari perkataan mereka. Namun, otak minimalisnya tidak sampai ke arah pembicaraan dua orang itu. Saking penasarannya Alana pun bersuara.
"Kalian dari tadi ngomongin apa sih? Kok ada buaya di rawa-rawa? Emangnya di sekitar sini ada buaya buntung, ya?" tanyanya menatap silih berganti meminta penjelasan kepada Jihan dan juga Tristan.
Kedua orang yang tengah ditanyai olehnya saling lirik satu sama lain kemudian mereka menepuk jidatnya.
"Astaga... begini nih kalau bicara sama gadis perawan. Nggak ada nyambung-nyambungnya," batin Jihan.
"Gemes banget dah sama muka bingungnya dia. Ingin rasanya ku tenggelamkan buayaku ini di rawa-rawanya," batin Tristan menggigit bibirnya sendiri saking gemasnya ingin mencium bibir Alana.
Alana terkejut. "Apa! Lusa menikah?" entah dia lupa atau bagaimana Alana kembali terkejut mendengar lusa akan menikah. Padahal Tristan pernah menyampaikan jika besok dia ingin menikahinya tidak se sok sekarang.
"Yah, Mah. Besok saja lah. Biar cepat halal gitu, gimana kalau Tristan terus melakukan hal-hal yang di luar dugaan? kan itu..."
Tuk...
Jihan menjitak kembali kepala Tristan. "Dasar otak mesum, dasar duda bangkotan. Bisa-bisanya nih kepala isinya begituan mulu. Sabar dulu napa. Ntar juga waktunya bakalan nikah. Mama yang mengatur segalanya. Tapi awas, kalau sampai kau macam-macam kepada Alana, Mama gibeng ( pukul ) pakai sapu," gertak Jihan mengangkat Sabtu bekas dia memukul betis Tristan.
"Isshhh... punya Mak tega bener dah. Sudah dari tadi ni kepala terus di jitak mulu, kuping dijewer terus, kaki dipukul terus, jahat bener macam singa betina," gerutu Tristan mendesis kesakitan. Meskipun Jihan galak, namun Tristan menyayanginya. Kalau tidak ada percekcokan di antara keduanya, rasanya ada yang hambar dan itu adalah daya tarik tersendiri bagi mereka sebagai melampiaskan rasa sayang keduanya.
"Hai bocah semprul, macan betina begini juga ini emak mu, Mama nggak akan galak sama kamu kalau otak mesum ini tidak berfungsi. punya anak gini amat dah mentang-mentang mantan duda bawaannya pikiran ngeres mulu." Sungut Jihan kesal juga pada kelakuan Tristan.
"Isshhh..." Tristan hanya mencebik kesal.
Alana mah dari tadi diam terus memperhatikan keduanya. Namun, ada rasa iri yang ia rasakan di relung hati ketika melihat keharmonisan ibu dan anak itu. Dirinya juga ingin merasakan bagaimana bercanda ria dengan Ibu tercinta. Namun, apalah daya, Alana tidak seberuntung Tristan.
"Kapan ibu bisa menyayangiku? Ingin sekali aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu," batin Alana.
"Al, ayo ke kamar, kita tinggalkan bocah semprul ini. Malam ini dan malam besok kamu akan tidur bareng Mama. Mama akan menjaga kamu dari si buaya buntung ini." delik Jihan pada putranya sendiri. Lalu dia menggandeng Alana membawanya ke kamar.
"Dasar kau buaya buntung tung. Tung tung namah sare sorangan heula," seru Tristan mengacak-acak rambutnya kesal.
Jihan menoleh, "Bahasa apaan tuh?"
"Bahasa sunda Mak... taroskeun we naon artina ka orang Sunda. Pasti ngerti meureun." Sahut Tristan berdiri melangkah pergi menuju kamarnya.
"Wong edan."
*********
Tung tung namah sare sorangan heula ( jadinya tidur sendirian dulu )
Bahasa Sunda mak. Taroskeun we naon artina ka orang Sunda. pasti ngerti meureun. ( bahasa Sunda, Bu/Mah. Tanyakan saja apa artinya ke orang Sunda. Pasti mengerti )